“لَا غَالِبَ إِلَّا اللّٰهُ”

Saat Spanyol merayakan kemenangan yang gegap gempita setelah unggul 1 : 0 atas Argentina, dalam final Piala Dunia 2026, Senin pagi, 20 Juli 2026 Waktu Indonesia. Yamal memilih selebrasi Dengan memanjatkan doa dan sujud syukur, ia melakukannya dengan sangat tenang di tengah lapangan, setelah itu ia duduk bersimpuh dan mengangkat kedua tangan, padahal rekan se-timnya hanyut dalam euforia kebahagiaan yang luar biasa. Ungkapan Laa Ghaaliba Illallah sungguh membuat siapapun yang memahaminya akan merinding dibuatnya.
Karena Kemenangan Dikembalikan kepada Sang Maha Pemenang

Di tengah gemerlap dunia sepak bola modern, selebrasi sering kali menjadi panggung untuk meninggikan diri, menepuk dada. Ada yang merayakan kemenangan dengan kesombongan, ada pula yang menjadikannya ajang membalas ejekan lawan. Namun, ada selebrasi yang justru mengingatkan manusia kepada langit. Salah satunya adalah ketika Lamine Yamal menampilkan kalimat لَا غَالِبَ إِلَّا اللّٰهُ (Lā Ghāliba Illallāh), “Tiada yang Mahamenang selain Allah.”

Kalimat ini bukan sekadar untaian kata yang indah. Ia merupakan sebuah akidah. Ia mengajarkan bahwa sehebat apa pun strategi manusia, setinggi apa pun kemampuan seseorang, dan sebesar apa pun sebuah kemenangan, pada akhirnya tidak ada kemenangan hakiki selain kemenangan yang Allah kehendaki.

Al-Qur’an mengingatkan :

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu (tanpa pertolongan-Nya), maka siapakah yang dapat menolongmu setelah itu ?”

(QS. Ali ‘Imran : 160)

Inilah makna terdalam dari kalimat Lā Ghāliba Illallāh. Kemenangan bukanlah milik manusia. Manusia hanya berusaha, sedangkan Allah-lah yang menentukan hasil akhirnya.

Semangat ini memiliki benang merah yang indah dengan firman Allah dalam Surat Yasin ayat 6.

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka berada dalam kelalaian.”

Kelalaian terbesar manusia adalah ketika ia merasa kemenangan berasal sepenuhnya dari dirinya. Prestasi membuatnya lupa kepada Allah. Kekuasaan membuatnya lupa kepada keadilan. Popularitas membuatnya lupa kepada amanah.

Karena itu, misi Al-Qur’an bukan sekadar memberikan informasi, tetapi membangunkan kesadaran. Membangunkan manusia agar tidak mabuk oleh kemenangan, tidak putus asa oleh kekalahan, dan tidak kehilangan arah ketika berada di puncak popularitas.

Di sinilah selebrasi yang mengingat Allah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar ekspresi emosional. Ia menjadi pengingat bahwa di atas semua pemenang masih ada pSang Maha Pemenang.

Lebih jauh lagi, kesadaran itu melahirkan keberanian moral. Orang yang menyadari bahwa kemenangan adalah titipan Allah tidak akan menggunakan popularitasnya hanya untuk kepentingan pribadi. Ia akan menjadikannya sebagai sarana menyuarakan nilai-nilai yang diyakininya benar.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau kerjakan, berarti engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah akan memeliharamu dari (gangguan) manusia.”
(QS. Al-Ma’idah : 67)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menyembunyikan kebenaran hanya karena takut kepada tekanan manusia. Amanah harus disampaikan dengan hikmah, keberanian, dan tanggung jawab.

Dalam konteks itulah, sebagian kalangan memandang sikap Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez yang berulang kali menyerukan perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap hukum internasional, dan penyelesaian yang adil bagi konflik Israel–Palestina sebagai bentuk keberanian politik untuk menyuarakan prinsip-prinsip yang diyakininya. Demikian pula, jika seorang atlet menggunakan panggungnya untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina, banyak orang memaknainya sebagai ekspresi kepedulian kemanusiaan. Walau pun itu sah-sah saja. Sebagaimana yang lain juga sah dsn takkan sda yang mengusik, bila ada yang memberikan dukungan kepada lainnya. Tak terbayangkan bila yang menang bukan Spanyol.

Dari sinilah lahir sebuah pelajaran besar. Popularitas adalah amanah. Kekuasaan adalah amanah. Prestasi adalah amanah. Semuanya akan bernilai apabila digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi manusia dan memperjuangkan keadilan.

Dunia hari ini tidak kekurangan orang terkenal. Dunia justru kekurangan orang-orang yang berani menjadikan ketenarannya sebagai jalan membela nilai-nilai kemanusiaan.

Kalimat “Lā Ghāliba Illallāh” akhirnya mengajarkan tiga kesadaran sekaligus. Pertama, kerendahan hati, karena setiap kemenangan berasal dari Allah. Kedua, keberanian, karena orang yang bersandar kepada Allah tidak mudah tunduk kepada tekanan manusia. Ketiga, amanah, karena setiap nikmat harus digunakan untuk menegakkan kebenaran dan menghadirkan kemaslahatan.

Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah selebrasi. Bukan sekadar mengangkat tangan karena berhasil mencetak gol, tetapi mengangkat hati kepada Allah Yang Mahakuasa. Sebab kemenangan yang paling agung bukanlah ketika sebuah tim mengangkat piala, melainkan ketika manusia tetap mampu mengingat Allah di saat berada di puncak kemenangan, dan menggunakan kemenangan itu untuk menghadirkan nilai, harapan, dan kepedulian kepada sesama.

“لَا غَالِبَ إِلَّا اللّٰهُ”

Tiada yang Mahamenang selain Allah.

Karena semua kemenangan manusia pada akhirnya hanyalah titipan. Sedangkan kemenangan Allah adalah kemenangan yang abadi.

Samarinda, 22 Juli 2026
*) Mile Stone Institute Fokal IMM

Loading