JAKARTA — Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar secara resmi membuka Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Forum tertinggi para pemuka Gereja Katolik se-Asia ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmennya dalam merawat kerukunan serta memperkuat dialog lintas agama di kancah internasional.
Di hadapan para delegasi, Menag menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan dunia internasional yang memilih Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan akbar tersebut. Kehadiran para pemimpin Gereja Katolik dari berbagai penjuru benua dinilai sebagai bentuk pengakuan nyata terhadap harmoni kebhinekaan di tanah air.
“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta di Indonesia. Kehadiran para pemimpin Gereja Katolik dari berbagai penjuru Asia merupakan sebuah kehormatan sekaligus kepercayaan yang sangat kami hargai,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam sambutannya.
Dihadiri Ratusan Pemuka Agama dan Usung Isu Strategis
Sidang Raya XII FABC tahun ini dijadwalkan berlangsung hingga 26 Juli 2026, dengan mengusung tema besar bertajuk “You Will See Greater Things: Synodal Conversion and Mission as Bridge-Building in Asia.”
Forum lima tahunan ini diikuti oleh lebih dari 120 kardinal dan uskup yang mewakili 22 konferensi waligereja serta yurisdiksi gerejawi dari wilayah Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Tengah. Selain itu, sidang turut dihadiri oleh perwakilan Takhta Suci, teolog, pakar, pengamat, serta jajaran Sekretariat FABC guna membahas berbagai tantangan pastoral, isu sosial, hingga misi kemanusiaan di kawasan Asia.
Dalam arahannya, Menag menyoroti posisi Asia sebagai kawasan dengan tingkat keberagaman tertinggi yang sekaligus dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks. Mulai dari konflik sosial, ekstremisme, krisis iklim, arus migrasi, hingga dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Menag mengingatkan agar para pemimpin agama senantiasa mengawal peran moral agama agar tidak disalahgunakan untuk memperuncing perbedaan.
Energi Kehidupan: Menag mengibaratkan agama sebagai energi besar yang bisa menjadi cahaya penerang kehidupan, namun berpotensi menjadi api yang merusak jika dipahami secara sempit.
Pengalaman Indonesia: Pemerintah terus memperkuat modal sosial melalui penguatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dialog lintas iman, hingga pendidikan moderasi beragama berbasis kolaborasi kemanusiaan.
Titik Temu Sinodalitas: Semangat sinodalitas yang diusung Gereja Katolik dinilai sejalan dengan nilai luhur bangsa Indonesia, yakni musyawarah, gotong royong, dan prinsip berjalan bersama demi kebaikan bersama.
“Semoga Jakarta menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan baru bagi perdamaian. Semoga dari pertemuan ini tumbuh jejaring persaudaraan yang semakin kuat. Dan semoga Asia terus menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan,” pungkas Menag.(rls/mn)
![]()

