- Ketika Cinta Tanah Air Bertemu dengan Keberanian Membela Kemanusiaan
Catatan: Masykur Sarmian *)
PATRIOTISME sering kali dipahami secara sempit sebagai kecintaan kepada tanah air. Padahal, patriotisme sejati bukan sekadar mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau memenangkan pertandingan olahraga. Patriotisme adalah keberanian menjaga kehormatan bangsa melalui nilai-nilai yang luhur. Sebuah bangsa menjadi besar bukan hanya karena kekuatan ekonominya, militernya, atau prestasi olahraganya, tetapi juga karena keberaniannya berdiri di pihak keadilan ketika dunia sedang diuji.
Di titik inilah sosok Lamine Yamal dan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, sering dipandang sebagai simbol yang menarik untuk direnungkan. Yang satu mewakili generasi muda yang mengharumkan nama bangsanya melalui prestasi, sedangkan yang lain tampil di panggung politik internasional dengan menyuarakan pandangan yang oleh banyak pihak dipahami sebagai pembelaan terhadap hukum internasional dan perlindungan warga sipil dalam konflik Gaza.
Keduanya berada di dunia yang berbeda, tetapi menyampaikan pesan yang sama: kebesaran sebuah bangsa tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari nilai yang berani diperjuangkannya.
Lamine Yamal telah menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengukir prestasi besar. Dengan bakat, disiplin, dan kerja keras, ia menjadi inspirasi bahwa generasi muda mampu membawa nama bangsanya dihormati dunia. Prestasi seperti ini merupakan bentuk patriotisme yang membangun optimisme nasional. Ia mengajarkan bahwa mencintai negeri dapat diwujudkan melalui dedikasi dan karya terbaik.
Di sisi lain, Pedro Sánchez berulang kali menyampaikan posisi yang menekankan pentingnya perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, serta perlunya penyelesaian yang adil bagi konflik Israel–Palestina. Terlepas dari beragam pandangan politik terhadap kebijakan tersebut, sikap itu menunjukkan bahwa dalam hubungan internasional, sebuah negara dapat memilih untuk menyuarakan prinsip-prinsip yang diyakininya.
Inilah pelajaran yang layak direnungkan. Patriotisme tidak harus bertentangan dengan kemanusiaan. Justru bangsa yang benar-benar percaya diri tidak takut membela nilai-nilai universal seperti keadilan, martabat manusia, dan perdamaian.
Bagi umat Islam, keberpihakan kepada keadilan merupakan bagian dari perintah Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ… اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah : 8)
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah keberpihakan kepada kelompok tertentu semata, melainkan keberanian menegakkan keadilan secara konsisten.
Indonesia juga memiliki warisan yang sejalan dengan semangat tersebut. Amanat Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Kalimat ini mengingatkan bahwa cinta kepada bangsa sendiri tidak menghalangi kepedulian terhadap bangsa lain yang mengalami penderitaan.
Pada akhirnya, patriotisme sejati bukanlah tentang siapa yang paling keras berteriak mencintai negaranya. Patriotisme sejati adalah ketika seseorang mengharumkan nama bangsanya dengan prestasi, menjaga kehormatannya dengan integritas, dan berani menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan tanpa kehilangan kecintaannya kepada tanah air.
Bangsa yang besar tidak hanya dikenang karena sering menang dalam pertandingan. Bangsa yang besar dikenang karena melahirkan manusia-manusia yang ketika memiliki panggung, memilih menggunakan pengaruhnya untuk mengangkat martabat sesama manusia.
Mungkin itulah makna terdalam dari patriotisme: mencintai negeri sendiri tanpa kehilangan kepedulian terhadap penderitaan umat manusia. Sebab pada akhirnya, kehormatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan yang diraih, tetapi juga oleh nilai-nilai yang berani dipertahankannya.
Samarinda, 20 Juli 2026
*) Mile Stone Institute Fokal IMM Kaltim
![]()

