JAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI) di Grand Ballroom, Pullman Jakarta Central Park, Jakarta, sedikit tegang. Di tengah tuntutan kuat peserta Munas dari wilayah-wilayah akan adanya regenerasi kepemimpinan, sang pendiri sekaligus Ketua Umum, Prof. Dr. Thomas Suyatno, akhirnya menyerahkan estafet ketua umum kepada Sekretaris Jenderal ABP-PTSI, Prof. Dr. Mts. Arief, M.B.A., CPM.

Suasana melepas Prof.Dr. Thomas Suyatno sebagai Ketua Umum ABP-PTSI.

Transisi kepemimpinan yang terjadi pada Kamis (16/7/2026) pagi tersebut diwarnai dengan pesan keras dari sang pendiri. Meski menyatakan ikhlas melepas jabatan, Thomas Suyatno memberikan catatan khusus yang menegaskan pengaruhnya belum sepenuhnya pudar.

“Beberapa wilayah ABP-PTSI menghadapi peremajaan pengurus, saya harus ikhlas silakan Pak Prof Arief (menjadi) ketua umum, dengan catatan Sekjen yang menentukan saya,” ujar Thomas yang langsung disambut tepuk tangan riuh peserta Munas.

Dalam momen perpisahan yang sarat emosi, Thomas sempat mengungkit perjuangan berat saat membidani lahirnya ABP-PTSI. Ia dengan lantang menyinggung masa lalunya sebagai anggota DPR RI ketika harus melawan rekan sejawat yang berupaya membubarkan yayasan dalam mengelola perguruan tinggi swasta.

Thomas pun melontarkan ultimatum kepada para penerusnya agar menjaga marwah organisasi dan tidak membiarkan pihak manapun mencampuradukkan ABP-PTSI dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTSI), apalagi sampai membubarkan ABP-PTSI.

“Saya mohon dengan hormat, lahirnya ABP-PTSI ini dengan berdarah-darah… Saya hanya mewanti-wanti jangan ada kemauan apapun yang akan membubarkan ABP-PTSI digabungkan dengan APTSI,” tegasnya dengan nada peringatan.

Meski menyatakan diri tidak akan lagi duduk dalam jabatan apapun di struktur organisasi, posisi Thomas dalam tim formatur tetap krusial. Dalam Munas tersebut, disepakati perubahan tiga tim formatur dari wilayah, Thomas sendiri dipastikan akan duduk sebagai anggota dalam tim formatur lima.

Keputusan ini diambil setelah melihat desakan arus bawah yang menginginkan regenerasi kepemimpinan dari para tokoh muda di daerah. Meski estafet berpindah, pernyataan Thomas yang masih memegang kendali penentuan Sekjen serta posisinya di tim formatur menunjukkan bahwa sosok pendiri ini masih menjadi bayang-bayang utama dalam arah gerak ABP-PTSI ke depan.

Prof. Thomas juga menegaskan bahwa ketua umum yang baru harus membuat pernyataan apabila organisasi mengalami kekurangan pendanaan bersedia menggunakan dana pribadi untuk pembiayaan kepentingan organisasi.

Dalam proses penjaringan calon kandidat Ketua Umum ABP-PTSI Periode 2026-2031 terdapat dua nama yang muncul, Prof.Dr. Thomas Suyatno mendapatkan 4 dukungan wilayah dan 61 dukungan dari Yayasan, sementara Prof. Dr. Mts. Arief, M.B.A., CPM mendapatkan dukungan dari 10 wilayah dan 81 dukungan dari Yayasan.

Foto bersama Prof.Dr Thomas Suyatno sebelum meninggalkan ruangan Munas ke-VI ABP-PTSI.
Pembina Yayasan Perguruan Ibnu Khaldun Balikpapan, H. Munanto, S.Pd bersama Ketua Umum ABP-PTSI yang baru Prof. Dr. Mts. Arief, M.B.A., CPM.

Ketua Umum ABP-PTSI yang baru Prof. Dr. Mts. Arief, M.B.A., CPM dalam pidato pertamanya setelah ditetapkan sebagai ketua umum dalam sidang paripurna ke-III Munas ke-VI ABP-PTSI menyatakan akan melanjutkan program yang telah dijalankan selama kepemimpinan Prof.Dr. Thomas Suyatno.(mn)

Loading