KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 28

@Masykur Sarmian
18 J u n i 2026

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Katakanlah, terangkanlah kepadaku jika Allah membinasakanku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, maka siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”
—QS. Al-Mulk Ayat 28

Penjelasan Tematik

Ayat ini turun untuk menjawab salah satu sikap orang-orang kafir yang begitu membenci Rasulullah SAW dan kaum mukminin.

Mereka berharap dakwah Islam berhenti.

Mereka berharap Rasulullah wafat.

Mereka berharap kaum beriman lenyap.

Seolah mereka berpikir bahwa jika Rasulullah tidak ada, maka persoalan selesai.

Namun Allah membongkar cara berpikir yang keliru itu.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ
“Katakanlah : bagaimana pendapat kalian ?”

Allah mengajak mereka berpikir dengan logika yang sangat sederhana namun menghancurkan seluruh anggapan mereka.

Persoalannya Bukan Rasulullah, Tetapi Kebenaran

Allah memerintahkan Nabi SAW berkata :

إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَن مَّعِيَ
“Jika Allah membinasakanku dan orang-orang yang bersamaku…”

Artinya :

Sekalipun Rasulullah wafat.

Sekalipun para sahabat wafat.

Sekalipun seluruh generasi beriman meninggal.

Apakah itu mengubah kebenaran ?

Tidak.

Karena kebenaran tidak bergantung pada umur manusia.

Manusia datang dan pergi.

Tetapi kebenaran Allah tetap hidup.

Inilah pelajaran besar yang sering dilupakan.

Banyak orang terlalu fokus kepada tokoh, hingga lupa kepada nilai yang diperjuangkan tokoh tersebut.

Jangan Menggantungkan Agama kepada Individu

√ Sepanjang sejarah, banyak ulama besar wafat.

√ Banyak pemimpin besar meninggal.

√ Banyak tokoh yang dicintai umat berpulang.

Namun agama Allah tetap berjalan.

Karena Islam tidak dibangun di atas satu manusia.

Islam dibangun di atas wahyu Allah.

Dalam psikologi sosial terdapat konsep hero dependency yaitu kecenderungan sebuah kelompok terlalu bergantung kepada satu figur sehingga kehilangan arah ketika figur tersebut tidak ada.

Ayat ini mengajarkan kedewasaan iman :

bergantunglah kepada Allah dan kebenaran, bukan kepada manusia.

“Au Rahimanaa” : Atau Allah Merahmati Kami

أَوْ رَحِمَنَا
“Atau Allah memberi rahmat kepada kami.”

Kemungkinan kedua adalah Allah memberi keselamatan kepada Rasulullah SAW dan kaum mukminin.

Namun menariknya, baik dibinasakan maupun diberi rahmat, inti pertanyaannya tetap sama.

Karena yang ingin Allah tegaskan bukan nasib Rasulullah SAW.

Tetapi nasib orang-orang yang menolak kebenaran.

Pertanyaan yang Mengguncang Kesadaran

Allah lalu berfirman :

فَمَن يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Maka siapa yang akan melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih ?”

Inilah inti ayat.

Seolah Allah berkata :

“Jangan sibuk memikirkan nasib Rasul-Ku. Pikirkanlah nasib kalian sendiri.”

Karena masalah terbesar mereka bukan keberadaan Rasulullah.

Masalah terbesar mereka adalah hubungan mereka dengan Allah.

Kadang manusia terlalu sibuk mengkritik orang lain, hingga lupa mengevaluasi dirinya sendiri.

Mengalihkan Fokus dari Orang Lain kepada Diri Sendiri

Salah satu penyakit jiwa yang sering muncul adalah terlalu sibuk mengurusi orang lain.

Siapa yang salah. Siapa yang gagal. Siapa yang jatuh.

Sementara dirinya sendiri luput dari perhatian.

Dalam psikologi modern terdapat istilah self-neglect through projection, yaitu kecenderungan seseorang mengalihkan perhatian kepada kesalahan orang lain agar tidak perlu menghadapi kekurangan dirinya sendiri.

Ayat ini mengajarkan :

sebelum bertanya tentang nasib orang lain, tanyakan dahulu keadaan dirimu sendiri di hadapan Allah.

Semua Manusia Sama-Sama Membutuhkan Rahmat Allah

Ayat ini juga menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah SAW menyandarkan dirinya kepada rahmat Allah.

Beliau tidak berkata :

“Aku pasti selamat karena aku Nabi.”

Tetapi Allah menyebut kemungkinan rahmat sebagai sumber keselamatan.

Ini mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang selamat hanya karena amalnya semata.

Semua membutuhkan rahmat Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, termasuk beliau sendiri, kecuali karena rahmat Allah.

Ketika Kebencian Menutup Akal Sehat

Orang-orang kafir begitu fokus ingin melihat kehancuran Rasulullah SAW sehingga mereka lupa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Kebencian sering membuat manusia kehilangan objektivitas.

Dalam psikologi modern terdapat konsep hostile fixation, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu terobsesi kepada pihak yang dibencinya hingga kehilangan kemampuan melihat masalah yang lebih penting.

Akibatnya seluruh energinya habis untuk memusuhi orang lain, sementara dirinya sendiri justru menuju kerugian.

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan terlalu menggantungkan perjuangan kepada satu tokoh atau satu figur.

Karena manusia akan datang dan pergi.

Sedangkan kebenaran tetap hidup.

Selain itu, jangan terlalu sibuk memikirkan kegagalan orang lain hingga melupakan keadaan diri sendiri.

Sebab pertanyaan terpenting pada hari kiamat bukanlah bagaimana nasib orang lain, tetapi bagaimana keadaan kita di hadapan Allah.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa keselamatan sejati hanya datang dari rahmat Allah.

Bukan dari kekuatan, kedudukan, atau kepandaian manusia.

Kadang manusia menghabiskan banyak waktu untuk mengkritik, menyalahkan, dan menghakimi orang lain.

Padahal waktu yang sama bisa digunakan untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Dan semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa yang paling perlu diselamatkan bukanlah citranya di hadapan manusia, melainkan jiwanya di hadapan Allah SWT.

Saudara…,

Ayat ini mengajarkan sebuah pertanyaan yang sangat mendalam :

Mengapa kita begitu sibuk memikirkan nasib orang lain, tetapi jarang memikirkan nasib diri sendiri ?

Orang-orang kafir sibuk berharap Rasulullah SAW binasa.

Namun Allah mengembalikan pertanyaan itu kepada mereka :

“Kalau Rasulullah binasa sekalipun, siapa yang akan menyelamatkan kalian dari azab Allah ?”

Betapa sering manusia melakukan hal yang sama.

Terlalu sibuk melihat keluar.

Terlalu sedikit melihat ke dalam.

Padahal perjalanan terpenting adalah perjalanan memperbaiki diri sendiri.

Karena pada akhirnya,

yang akan ditanya di hadapan Allah bukanlah tentang kehidupan orang lain.

Melainkan tentang kehidupan kita sendiri.

Dan orang yang paling bijaksana bukan yang paling banyak menilai orang lain.

Tetapi yang paling banyak memperbaiki dirinya sebelum bertemu dengan Allah SWT.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 18 Juni 2026

Loading