Penulis:
Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I
Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan dan Dosen STAIS Kutai Timur
ADA sesuatu yang sering hilang dari kehidupan kita: kita begitu pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi belum tentu mudah menghidupkannya dalam keseharian. Kita rajin berbicara tentang kejujuran, tetapi terkadang masih berkompromi dengan kebohongan. Kita sering menyerukan persaudaraan, tetapi mudah terpecah oleh perbedaan. Kita mengagungkan sikap memaafkan, tetapi menyimpan luka terlalu lama di dalam hati.
Di titik itulah keteladanan Nabi Muhammad SAW menemukan relevansinya.
Nabi tidak hanya datang membawa ajaran tentang apa yang benar, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebenaran itu dijalankan dalam kehidupan. Islam tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus menjelma menjadi karakter. Ia harus terlihat dalam cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, memegang amanah, menyelesaikan persoalan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Pesan itulah yang terasa kuat dalam Pengajian Akbar Majelis Ta’lim Al Ihsan di Masjid Baiturrohman, Desa Karya Bakti, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Mengangkat tema “Meneladani Karakter Nabi Muhammad SAW sebagai Cermin Kehidupan”, pengajian tersebut menghadirkan Kyai Nurhadi, S.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Ihya’ Ulumudin.
Tema itu bukan sekadar tema pengajian. Ia seperti cermin yang sengaja diletakkan di hadapan kita: sudah sejauh mana wajah kehidupan kita menyerupai nilai-nilai yang selama ini kita ucapkan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi?
Kiyai Nurhadi menyampaikan satu pesan penting: sifat-sifat Nabi Muhammad SAW harus dibumikan dalam kehidupan. Kejujuran, saling memaafkan, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan berbagai karakter mulia lainnya tidak boleh hanya tinggal sebagai cerita yang kita dengarkan dari mimbar ke mimbar.
Sebab agama yang hanya berhenti di telinga akan cepat hilang. Tetapi agama yang masuk ke hati dan kemudian menjelma menjadi perilaku akan menjadi karakter. Di situlah persoalan terbesar kehidupan kita: bukan kekurangan pengetahuan tentang kebaikan, melainkan kekurangan keberanian untuk menghidupkan kebaikan itu.
Kita tahu bahwa jujur itu baik. Tetapi apakah kita selalu jujur ketika kejujuran itu merugikan kepentingan kita? Kita tahu bahwa memaafkan itu mulia. Tetapi apakah kita sanggup memaafkan ketika luka yang diberikan orang lain begitu dalam?
Kita tahu bahwa Nabi mengajarkan kasih sayang. Tetapi apakah kasih sayang itu juga hadir kepada orang yang berbeda pandangan dengan kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting karena meneladani Nabi bukanlah pekerjaan menghafal sifat-sifat beliau. Meneladani Nabi adalah pekerjaan panjang untuk mendidik diri sendiri.
Karakter tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Kejujuran yang dilakukan setiap hari menjadi karakter. Kesabaran yang terus dilatih menjadi watak. Memaafkan yang terus dibiasakan menjadi kelapangan hati. Begitu pula sebaliknya, kemarahan, kebencian, kesombongan, dan ketidakjujuran yang terus dipelihara pada akhirnya juga dapat menjadi karakter.
Karena itu, mencintai Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada ungkapan verbal. Cinta harus mempunyai jejak. Ia harus terlihat dalam perilaku.
Pengajian akbar di Masjid Baiturrohman itu sendiri memberikan gambaran menarik tentang bagaimana agama masih menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Jamaah perempuan tampak mendominasi kehadiran. Tenda-tenda yang disiapkan panitia penuh hingga menjalar ke halaman masjid. Sementara jamaah laki-laki dikonsentrasikan di dalam masjid.
Di sana kita melihat sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: masyarakat masih membutuhkan ruang untuk berkumpul, mendengar, belajar, dan saling menguatkan. Masjid bukan sekadar bangunan dengan kubah dan menara. Ia adalah ruang tempat hati-hati manusia dipertemukan.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, majelis taklim menghadirkan kembali wajah kebersamaan. Orang datang tanpa harus bertanya apa jabatan seseorang, berapa penghasilannya, dari mana asalnya. Mereka duduk bersama sebagai jamaah, sebagai manusia yang sama-sama membutuhkan ilmu dan nasihat.
Itulah mengapa pengajian memiliki dimensi sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar ceramah agama. Dan di balik keramaian itu terdapat kerja banyak tangan.
Ketua panitia, Bapak Hadirin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan lancar karena kerja sama berbagai pihak. Pemerintah desa, dai pembangunan, Banser, Muslimat-Fatayat, Karang Taruna, dan seluruh unsur masyarakat ikut mengambil bagian.
Di sinilah kita menemukan pelajaran lain: kebaikan hampir tidak pernah lahir dari kerja seorang diri.
Ada banyak tangan yang bekerja dalam diam. Ada yang mengatur jamaah, menjaga keamanan, menyiapkan tempat, membersihkan halaman, mengatur konsumsi, hingga memastikan acara berlangsung tertib.
Bahkan, seperti biasa, team kopi dari Mushola Baitul Arifin turut hadir menyajikan kopi dan teh hangat bagi jamaah. Secangkir kopi mungkin tampak sederhana. Tetapi dalam sebuah majelis, ia bisa menjadi simbol keramahan.
Ada tangan yang menyeduh, ada yang menyajikan, dan ada yang menerima dengan senyum. Sesederhana itu, tetapi di sanalah kebersamaan menemukan bentuknya. Cuaca pun terasa sejuk. Jamaah memenuhi ruang-ruang yang tersedia. Masjid dan halaman seolah menjadi satu ruang besar untuk belajar dan bersilaturahim.
Namun, kesejukan sesungguhnya bukan hanya soal cuaca.
Yang lebih penting adalah bagaimana setelah pengajian selesai, kesejukan itu ikut pulang bersama jamaah. Sebab percuma seseorang duduk berjam-jam di majelis ilmu jika setelah pulang ia kembali mudah marah.
Percuma mendengarkan kisah tentang kelembutan Nabi jika di rumah masih mudah berkata kasar. Percuma berbicara tentang kejujuran jika dalam kehidupan masih gemar menyembunyikan kebenaran.
Pengajian seharusnya tidak berhenti ketika mikrofon dimatikan. Ia harus terus berbicara melalui perilaku kita.
Inilah makna penting pesan Kiyai Nurhadi agar pengajian terus “paripurna” sebagai ruang silaturahim dan thalabul ilmi. Majelis ilmu jangan hanya menjadi agenda seremonial. Ia harus menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Sebab ilmu yang baik semestinya melahirkan akhlak. Dan akhlak yang baik semestinya melahirkan kehidupan sosial yang lebih damai.
Pada akhirnya, Nabi Muhammad SAW adalah cermin. Tetapi cermin tidak pernah mengubah wajah orang yang bercermin. Ia hanya memperlihatkan apa adanya.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita: ketika bercermin kepada akhlak Nabi, apa yang sebenarnya kita lihat?
Apakah kejujuran?
Apakah kesabaran?
Apakah kasih sayang?
Apakah kerendahan hati?
Ataukah justru masih banyak sifat yang harus kita benahi?
Pengajian akbar di Desa Karya Bakti memberikan pesan sederhana tetapi mendalam: Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dikenang dalam sejarah, disebut dalam shalawat, dan diceritakan dalam pengajian. Karakter beliau harus turun dari mimbar menuju kehidupan.
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Masyarakat membutuhkan manusia yang menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan.
Jika kejujuran menjadi budaya, lahirlah kepercayaan.
Jika saling memaafkan menjadi kebiasaan, lahirlah kedamaian. Jika kasih sayang menjadi karakter, lahirlah persaudaraan.
Dan jika keteladanan Nabi benar-benar hidup dalam diri kita, maka agama tidak lagi sekadar terdengar dalam suara ceramah. Ia akan terlihat dalam wajah, terasa dalam sikap, dan dikenali melalui perbuatan.
Barangkali itulah warisan paling penting dari sebuah pengajian: bukan hanya pulang membawa catatan, tetapi pulang membawa tekad untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada sebelum datang ke majelis.
Karena pada akhirnya, keteladanan Nabi bukan untuk dikagumi dari kejauhan. Ia untuk dihidupkan—sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga menjadi karakter dan akhirnya menjadi jalan kehidupan.
![]()

