TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 12

Oleh Masykur Sarmian

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir bersenang-senang dan makan seperti hewan makan, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”

—QS. Muhammad Ayat 12

Penjelasan Tematik

Setelah ayat sebelumnya menegaskan bahwa Allah adalah Mawlâ—pelindung dan penolong—orang-orang beriman, ayat ini memperlihatkan dua orientasi kehidupan yang berbeda. Orang beriman hidup dengan arah yang melampaui dunia, sedangkan orang yang menolak kebenaran digambarkan larut dalam kenikmatan dunia tanpa kesadaran tentang tujuan akhir.

Allah mengawali dengan:

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga…”

Kembali kita menemukan pasangan yang terus muncul dalam Al-Qur’an: iman dan amal saleh. Iman memberikan arah, sedangkan amal membuktikan arah tersebut dalam kehidupan. Surga bukan sekadar balasan atas sebuah identitas, tetapi tujuan bagi manusia yang membiarkan imannya membentuk perbuatannya.

Kemudian Allah menggambarkan kelompok yang berlawanan:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ

“Orang-orang yang kafir bersenang-senang dan makan seperti hewan makan.”

Perumpamaan ini bukan berarti manusia dilarang menikmati makanan atau kesenangan dunia. Islam tidak mengharamkan kenikmatan yang halal. Yang dikritik adalah cara hidup yang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan akhir, seolah manusia tidak memiliki tanggung jawab moral dan tidak akan pernah kembali kepada Allah.

Hewan makan karena kebutuhan naluriah. Ia tidak memikirkan makna hidup, tujuan moral, atau pertanggungjawaban akhirat. Manusia diberi akal, hati, dan wahyu. Ketika seluruh potensinya itu ditinggalkan dan hidup hanya diarahkan kepada konsumsi, kesenangan, dan pemuasan keinginan, maka manusia sedang merendahkan dirinya sendiri.

Dalam psikologi modern, keadaan ini dapat dikaitkan dengan hedonic adaptation dan reward-seeking behavior. Manusia dapat terbiasa dengan kenikmatan sehingga membutuhkan stimulus yang semakin besar untuk memperoleh rasa puas yang sama. Siklus ini dapat membuat seseorang terus mengejar konsumsi tanpa pernah mencapai kepuasan yang stabil.

Ada pula konsep present bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan nilai yang terlalu besar kepada kepuasan sekarang dibandingkan manfaat yang lebih besar tetapi baru diperoleh di masa depan. Inilah salah satu alasan mengapa manusia dapat mengorbankan masa depan demi kesenangan sesaat.

Al-Qur’an menawarkan orientasi yang berbeda. Seorang mukmin tidak dilarang menikmati dunia, tetapi ia tidak membiarkan dunia menjadi pusat gravitasi jiwanya. Ia menikmati yang halal dengan syukur, menggunakan nikmat sebagai amanah, dan tetap mengingat bahwa kehidupan dunia bukan tujuan terakhir.

Karena itu, ayat ini bukan sekadar perbandingan antara surga dan neraka. Ia sedang berbicara tentang dua cara manusia memandang kehidupan: apakah hidup hanya untuk dikonsumsi, atau hidup untuk dipertanggungjawabkan.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid Ayat 20)

Ayat ini tidak menyatakan bahwa seluruh dunia itu buruk, tetapi mengingatkan tentang bahaya ketika manusia menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan salehah.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa dunia bukan sesuatu yang harus dibenci. Yang harus dijaga adalah orientasi hati terhadapnya. Dunia dapat menjadi nikmat ketika digunakan dalam ketaatan, tetapi dapat menjadi fitnah ketika ia menjadi tujuan hidup.

Pelajaran Kehidupan

Nikmat bukan masalah. Keterikatan kepada nikmatlah yang perlu diwaspadai.

Kita boleh memiliki rumah yang baik, kendaraan yang nyaman, usaha yang maju, makanan yang lezat, dan kehidupan yang berkecukupan. Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa untuk apa Allah memberikan semuanya.

Pertanyaan sederhana yang perlu sering kita ajukan adalah: “Apakah nikmat ini sedang membawaku lebih dekat kepada Allah, atau justru membuatku semakin jauh ?”

Jika harta membuat kita lebih dermawan, ia menjadi berkah. Jika ilmu membuat kita lebih rendah hati, ia menjadi cahaya. Jika kekuasaan membuat kita lebih adil, ia menjadi amanah. Tetapi jika semuanya hanya memperbesar ego, maka nikmat dapat berubah menjadi jebakan.

Renungan Peradaban

Sebuah peradaban yang hanya dibangun di atas budaya konsumsi pada akhirnya akan kehilangan tujuan. Manusia bekerja lebih keras untuk membeli lebih banyak, membeli lebih banyak agar merasa bahagia, lalu membutuhkan lebih banyak lagi karena kebahagiaan itu cepat hilang.

Kemajuan material tanpa kedalaman spiritual dapat melahirkan masyarakat yang kaya secara benda tetapi miskin secara makna.

Peradaban Qur’ani menawarkan keseimbangan: dunia digunakan, bukan disembah, kekayaan dikelola, bukan dipertuhankan, kenikmatan dinikmati, tetapi tidak dijadikan tujuan akhir.

Sebab manusia bukan sekadar makhluk yang makan, bekerja, membeli, dan menikmati. Manusia adalah makhluk yang diberi amanah, diberi wahyu, dan suatu hari akan berdiri di hadapan Allah.

Maka pertanyaan yang lebih penting daripada “Berapa banyak yang berhasil kita nikmati ?” adalah:

“Untuk apa Allah memberi kita kesempatan menikmati semua ini ?”

Wallahu A’lam
Samarinda, 8 September 2026

Loading