TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) Ayat 3
Oleh Masykur Sarmian

ذَٰلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti kebatilan, sedangkan orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.”
—QS. Muhammad Ayat 3
Penjelasan Tematik
Ayat ini menjadi penjelasan mengapa dua kelompok manusia yang disebut pada ayat sebelumnya memperoleh akhir yang berbeda. Allah tidak menggambarkan perbedaan itu sebagai sesuatu yang muncul tanpa sebab. Ada pilihan yang mendahuluinya. Orang-orang yang menolak kebenaran mengikuti kebatilan, sedangkan orang-orang beriman mengikuti kebenaran dari Rabb mereka. Dengan demikian, kehidupan manusia pada dasarnya adalah perjalanan mengikuti sesuatu. Pertanyaannya bukan apakah kita mengikuti, tetapi apa yang sedang kita ikuti.
Kata اتَّبَعُوا berarti mengikuti dengan menjadikan sesuatu sebagai arah yang dituju. Ini bukan sekadar mengetahui kebatilan atau mengetahui kebenaran, tetapi membiarkan sesuatu itu memengaruhi langkah kehidupan. Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran itu baik, tetapi jika ia terus mengikuti kepentingan yang membuatnya berdusta, maka secara praktis ia sedang mengikuti kebatilan. Sebaliknya, orang yang benar-benar mengikuti kebenaran akan berusaha menyesuaikan pilihan hidupnya dengan apa yang diyakininya benar, bahkan ketika pilihan tersebut tidak selalu mudah.
Yang menarik, Allah menyebut kebatilan sebagai sesuatu yang mereka ikuti, sementara kebenaran disebut sebagai الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ, kebenaran yang datang dari Rabb mereka. Ada perbedaan fundamental di sini. Kebatilan dapat dibangun oleh keinginan manusia, tekanan lingkungan, fanatisme kelompok, kepentingan ekonomi, atau konstruksi sosial. Sedangkan kebenaran yang menjadi pegangan orang beriman memiliki sumber yang lebih tinggi: Rabb mereka. Ia tidak bergantung pada perubahan selera manusia.
Dalam psikologi modern, fenomena ini dapat dikaitkan dengan social conformity dan normative influence. Manusia memiliki kecenderungan mengikuti kelompok karena ingin diterima, merasa aman, atau takut berbeda. Ketika suatu perilaku salah terus dilakukan oleh banyak orang, kesalahan itu bahkan dapat terlihat normal. Inilah salah satu mekanisme bagaimana kebatilan memperoleh kekuatan sosial: bukan selalu karena ia benar, tetapi karena ia terus diikuti.
Ada pula fenomena confirmation bias, ketika manusia lebih mudah menerima informasi yang menguatkan keyakinan yang sudah dimilikinya dan menolak informasi yang bertentangan. Jika hati telah memilih kebatilan, akal dapat berubah fungsi menjadi pembela pilihan tersebut. Sebaliknya, orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran harus memiliki kerendahan hati intelektual: kesiapan untuk mengoreksi dirinya ketika berhadapan dengan kebenaran.
Karena itu, ayat ini sebenarnya mengajarkan sebuah disiplin batin yang sangat penting : jangan menentukan kebenaran berdasarkan siapa yang paling banyak mengikutinya. Banyaknya pengikut tidak otomatis menjadikan sesuatu benar. Popularitas bukan ukuran kebenaran. Tren bukan ukuran kebenaran. Bahkan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan masyarakat pun tetap harus ditimbang dengan wahyu dan nilai moral.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ
“Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.”
(QS. Yunus Ayat 32)
Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran dan kebatilan bukan dua jalan yang sama-sama dapat diperlakukan sebagai pilihan tanpa konsekuensi. Ketika manusia berpaling dari kebenaran, ia tidak otomatis berada di wilayah netral, ia berisiko masuk ke dalam kesesatan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Hadis ini memperlihatkan bahwa mengikuti kebenaran membutuhkan iltizam, keteguhan untuk tetap berpegang ketika keadaan berubah. Kebenaran tidak cukup dikagumi; ia harus diikuti.
Pelajaran Kehidupan
Setiap manusia sedang mengikuti sesuatu, bahkan ketika ia merasa dirinya bebas. Ada yang mengikuti hawa nafsu, ada yang mengikuti tekanan lingkungan, ada yang mengikuti ambisi, ada yang mengikuti popularitas, dan ada yang mengikuti petunjuk Allah. Karena itu, pertanyaan penting dalam hidup bukan sekadar “Apa yang saya inginkan ?”, tetapi “Siapa yang sedang menentukan arah keinginan saya ?”
Kita juga perlu berhati-hati terhadap kebiasaan yang telah dianggap normal. Sesuatu yang sering dilakukan belum tentu benar, dan sesuatu yang sedikit pengikutnya belum tentu salah. Seorang mukmin membutuhkan keberanian untuk tetap mengikuti kebenaran meskipun tidak selalu menjadi jalan yang paling ramai.
Renungan Peradaban
Peradaban pada akhirnya adalah hasil dari apa yang secara kolektif diikuti oleh manusia. Jika masyarakat mengikuti ilmu, kejujuran, keadilan, amanah, dan kemaslahatan, maka nilai-nilai itu akan membentuk budaya. Tetapi jika masyarakat mengikuti keserakahan, manipulasi, kebohongan, dan kekuasaan tanpa moral, maka kebatilan akan menjadi sistem yang sulit dibongkar karena telah berubah menjadi kebiasaan bersama.
Karena itu, Surat Muhammad ayat 3 mengajarkan bahwa perubahan peradaban harus dimulai dengan perubahan arah yang diikuti manusia. Kita tidak cukup hanya melawan kebatilan setelah ia menjadi sistem. Kita harus membangun generasi yang sejak awal belajar mencintai kebenaran, mengenali kebatilan, dan memiliki keberanian untuk tidak larut dalam arus.
Sebab sebuah masyarakat tidak akan menjadi baik hanya karena memiliki banyak orang pintar. Ia menjadi baik ketika orang-orang pintarnya mengikuti kebenaran, orang-orang kuatnya mengikuti keadilan, orang-orang kayanya mengikuti amanah, dan orang-orang berpengaruhnya mengikuti nilai yang diridai Allah.
Dan dari sinilah Surat Muhammad terus membawa kita menuju pertanyaan yang semakin dalam: ketika kebenaran menuntut pengorbanan, apakah kita masih bersedia mengikutinya?
Wallahu A’lam
Samarinda, 1 September 2026
![]()

