KAJIAN TEMATIK SURAT AL-JINN—Ayat 7

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mereka (manusia) telah menyangka sebagaimana kalian (jin) juga menyangka, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun.”
—QS. Al-Jinn Ayat 7

Penjelasan Tematik

Setelah menjelaskan penyimpangan manusia yang mencari perlindungan kepada jin, Al-Qur’an kini mengungkap akar yang lebih dalam dari berbagai penyimpangan tersebut, yaitu hilangnya keyakinan terhadap hari kebangkitan. Para jin yang telah beriman mengakui bahwa dahulu mereka memiliki prasangka yang sama dengan sebagian manusia, yaitu mengira bahwa setelah kematian tidak akan ada lagi kehidupan, tidak ada lagi hisab, dan tidak ada lagi pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah mengabadikan pengakuan mereka:

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنتُمْ

“Mereka telah menyangka sebagaimana kalian juga menyangka.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kesesatan tidak mengenal batas jenis makhluk. Manusia dapat tersesat, demikian pula jin. Penyebabnya pun sama, yaitu prasangka yang tidak dibangun di atas ilmu dan wahyu. Ketika keyakinan digantikan oleh dugaan, maka arah kehidupan pun mulai kehilangan kepastian.

Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa ظن (zhann) atau dugaan tidak dapat menggantikan kebenaran. Dalam perkara akidah, manusia tidak boleh hidup berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan petunjuk Allah yang pasti.

Mengingkari Kebangkitan Berarti Menghilangkan Makna Kehidupan

Allah melanjutkan firman-Nya:

أَن لَّن يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا

“Bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun.”

Inilah akar persoalannya. Ketika seseorang tidak lagi percaya kepada kehidupan setelah mati, maka dunia akan dianggap sebagai tujuan terakhir. Tidak ada lagi hisab yang harus dihadapi, tidak ada lagi balasan yang menanti, dan tidak ada lagi alasan kuat untuk mengendalikan hawa nafsu ketika kesempatan berbuat maksiat terbuka lebar.

Karena itu, keimanan kepada hari akhir bukan sekadar doktrin teologis, tetapi fondasi moral seluruh peradaban. Orang yang yakin akan bertemu Allah akan berpikir berkali-kali sebelum berbuat zalim. Ia sadar bahwa mungkin ia dapat lolos dari pengadilan manusia, tetapi tidak akan pernah lolos dari pengadilan Allah.

Keyakinan Membentuk Cara Hidup

Al-Qur’an mengajarkan bahwa perilaku manusia selalu berakar pada keyakinannya. Apa yang diyakini seseorang akan menentukan bagaimana ia berpikir, memilih, dan bertindak.

Dalam psikologi modern terdapat konsep:

belief system, yaitu sistem keyakinan yang menjadi dasar bagi seluruh keputusan manusia. Ketika keyakinan seseorang berubah, perilakunya pun ikut berubah. Karena itu, Al-Qur’an selalu memulai perubahan masyarakat dengan memperbaiki akidah sebelum memperbaiki hukum dan perilaku.

Seseorang yang meyakini bahwa hidup hanya sekali mungkin akan mengejar kenikmatan sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Sebaliknya, orang yang meyakini adanya kehidupan akhirat akan melihat dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan akhir.

Hari Akhir Melahirkan Integritas

Keimanan kepada hari kebangkitan menciptakan manusia yang memiliki integritas. Ia tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap amanah meskipun tidak dipuji, dan tetap berbuat baik meskipun tidak memperoleh penghargaan.

Mengapa? Karena pusat pengawasannya bukan manusia, melainkan Allah Yang Maha Melihat. Ia yakin bahwa setiap kata, setiap langkah, bahkan setiap niat akan diperhitungkan.

Inilah yang membedakan moralitas yang dibangun oleh iman dengan moralitas yang hanya dibangun oleh tekanan sosial. Ketika pengawasan manusia hilang, moral yang lahir dari rasa malu kepada manusia sering ikut hilang. Namun moral yang lahir dari iman akan tetap hidup karena Allah tidak pernah lengah mengawasi hamba-Nya.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengingatkan bahwa kualitas kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ia yakini tentang akhir kehidupannya. Orang yang hanya memikirkan dunia akan mudah kecewa ketika kehilangan dunia. Sebaliknya, orang yang hidup untuk akhirat akan mampu memaknai setiap ujian sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah.

Karena itu, Al-Qur’an tidak pernah memisahkan antara iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Keduanya adalah dua fondasi yang menjaga keseimbangan hidup manusia: mencintai dunia secukupnya, tetapi mempersiapkan akhirat dengan sungguh-sungguh.

Saudara…

Salah satu pertanyaan terpenting dalam hidup ini bukanlah, “Apa yang akan aku lakukan besok?”, tetapi “Apa yang akan aku bawa ketika bertemu Allah?”

Pertanyaan kedua itulah yang akan mengubah cara kita memandang seluruh kehidupan.

Ia membuat kita lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih ikhlas dalam beramal.

Karena kita sadar bahwa hidup ini bukan garis akhir. Ia hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Maka jangan biarkan dunia membuat kita lupa bahwa akan ada hari ketika seluruh rahasia dibuka, seluruh amal ditimbang, dan seluruh manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.

Pada hari itu, yang menyelamatkan kita bukan banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pujian manusia.

Yang menyelamatkan hanyalah iman yang benar dan amal saleh yang diterima oleh Allah.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 27 Juli 2026

Loading