SLEMAN — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi (2,968 mdpl) terpantau cukup aktif pada periode pengamatan Selasa, 21 Juli 2026 pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Tercatat adanya belasan kali gempa guguran serta luncuran lava pijar mengarah ke sektor barat daya.

Berdasarkan laporan resmi MAGMA Indonesia yang disusun oleh Erwin Widyon dan Yulianto, cuaca di sekitar puncak terpantau cerah dengan angin bertiup tenang ke arah timur. Secara visual, gunung terlihat jelas dengan asap kawah utama teramati berwarna putih, berintensitas tipis, bertekanan lemah, serta memiliki ketinggian sekitar 25 meter di atas puncak.

“Teramati 8 kali guguran lava ke arah barat daya, meliputi Kali Krasak dan Kali Sat atau Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter,” demikian tertulis dalam laporan resmi BPPTKG, Selasa (21/7/2026).

Data Kegempaan dan Aktivitas Magmatik
Selain guguran lava, aktivitas internal gunung yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini juga didominasi oleh aktivitas kegempaan yang cukup dinamis, rinciannya meliputi:

Gempa Guguran: 17 kali (Amplitudo 2–36 mm, durasi 43,3–184,73 detik)

Gempa Hybrid/Fase Banyak: 22 kali (Amplitudo 2–29 mm, durasi 22,53–47,64 detik)

Gempa Vulkanik Dangkal: 6 kali (Amplitudo 7–80 mm, durasi 9,74–17,64 detik)

Gempa Tektonik Jauh: 1 kali (Amplitudo 2 mm, durasi 47,78 detik)

Data pemantauan instrumentasi menunjukkan bahwa suplai magma di dalam perut Gunung Merapi masih terus berlangsung, yang berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam zona bahaya. Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III (Siaga).

Rekomendasi dan Imbauan Keselamatan
Sehubungan dengan status Siaga tersebut, Badan Geologi melalui PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan:

Potensi Bahaya Sektor Selatan–Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).

Potensi Bahaya Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km). Sementara itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.

Zona Larangan Aktivitas: Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah-daerah yang masuk dalam potensi bahaya.

Antisipasi Cuaca Ekstrem: Warga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar kawasan Gunung Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.(*)

Loading