KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 22

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Apakah orang yang berjalan tertelungkup di atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus ?”
—QS. Al-Mulk Ayat 22

Penjelasan Tematik

Setelah Allah menjelaskan tentang kesombongan manusia yang menolak petunjuk dan menjauh dari kebenaran, kini Allah menghadirkan sebuah perumpamaan yang sangat kuat dan mudah dibayangkan.

Sebuah gambaran sederhana.

Namun mengandung makna yang sangat dalam.

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ
“Apakah orang yang berjalan tertelungkup di atas wajahnya…”

Bandingkan dengan :

أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?”

Allah tidak sedang berbicara tentang cara berjalan secara fisik semata.

Ini adalah gambaran tentang dua cara hidup manusia.

Dua Model Kehidupan

Dalam ayat ini terdapat dua tipe manusia.

_Tipe pertama adalah orang yang berjalan tertelungkup._

~ Ia tidak melihat arah dengan jelas.
~ Pandangannya terbatas.
~ Langkahnya mudah salah.
~ Jalannya penuh benturan.

_Sedangkan tipe kedua berjalan tegak._

~ Pandangannya jelas.
~ Arahnya terang.
~ Jalannya lurus.
~ Tujuannya diketahui.

Inilah perbedaan antara hidup tanpa petunjuk dan hidup dengan petunjuk Allah.

Ketika Jiwa Kehilangan Kompas

Orang yang jauh dari petunjuk sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang tersesat.

~ Ia tetap berjalan.
~ Tetap sibuk.
~ Tetap aktif.

Tetapi tidak tahu menuju ke mana.

Ia memiliki banyak tujuan dunia, namun kehilangan tujuan hidup.

Dalam psikologi modern, kondisi ini dekat dengan konsep existential vacuum yang diperkenalkan oleh Viktor Frankl, yaitu kekosongan makna yang membuat seseorang menjalani hidup tanpa arah yang jelas.

Dari luar tampak bergerak.

Namun di dalam dirinya ada kebingungan yang mendalam.

Kesibukan Tidak Selalu Berarti Kemajuan

Salah satu pelajaran besar dari ayat ini adalah bahwa bergerak tidak selalu berarti menuju tujuan yang benar.

Seseorang bisa sangat sibuk, tetapi tidak bertumbuh.

Bisa sangat aktif, tetapi tidak semakin dekat kepada Allah.

Bisa mengejar banyak hal, tetapi kehilangan hal yang paling penting.

Orang yang tertelungkup tetap bergerak.

Tetapi gerakannya tidak efektif.

Karena arah yang salah tidak akan membawa kepada tujuan yang benar.

Berjalan Tegak di Atas Jalan yang Lurus

يَمْشِي سَوِيًّا
“Berjalan tegak.”

Kata sawiyyan menggambarkan keseimbangan, keteguhan, dan keteraturan.

Ini adalah gambaran jiwa yang sehat.

Jiwa yang mengenal Tuhannya.

Jiwa yang memahami tujuan hidupnya.

Jiwa yang memiliki arah.

Kemudian Allah menyebut:

عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Di atas jalan yang lurus.”

Jalan lurus bukan berarti jalan yang selalu mudah.

Tetapi jalan yang benar.

Kadang menanjak. Kadang berat. Kadang penuh ujian.

Namun arahnya jelas.

Petunjuk Membuat Hidup Lebih Jelas

Dalam kehidupan modern, manusia memiliki akses terhadap informasi yang luar biasa banyak.

Tetapi informasi tidak selalu menghasilkan petunjuk.

Manusia tahu banyak hal.

Namun belum tentu tahu bagaimana hidup dengan benar.

Dalam psikologi modern terdapat istilah decision fatigue yaitu kelelahan mental akibat terlalu banyak pilihan dan terlalu banyak informasi.

Akibatnya manusia menjadi bingung.

Ayat ini mengingatkan bahwa petunjuk Allah berfungsi sebagai kompas yang menyederhanakan arah hidup.

Bukan menghilangkan semua masalah.

Tetapi memberikan arah yang jelas dalam menghadapi masalah.

Iman Mengubah Cara Pandang

Perbedaan terbesar antara kedua orang dalam ayat ini bukan terletak pada kekuatan fisik.

Tetapi pada cara pandang.

Orang yang tersesat melihat hidup hanya dari sudut dunia.

Sedangkan orang yang mendapat petunjuk melihat hidup dalam perspektif yang lebih luas :

dunia dan akhirat.

Karena itu ketika gagal ia tidak hancur.

Ketika berhasil ia tidak sombong.

Karena ia tahu tujuan akhirnya bukan dunia semata.

Orientasi Hidup Menentukan Kualitas Hidup

Psikologi modern mengenal konsep life orientation yaitu arah dasar yang menjadi pusat kehidupan seseorang.

Apa yang menjadi orientasi hidup akan menentukan keputusan, prioritas, dan perilakunya.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa orientasi tertinggi adalah menuju Allah SWT.

Ketika orientasi itu benar, langkah-langkah lain akan lebih mudah menemukan tempatnya.

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan hanya bertanya seberapa cepat kita berjalan dalam hidup.

Tetapi tanyakan pula apakah kita berjalan ke arah yang benar.

Karena kecepatan tanpa arah hanya akan mempercepat seseorang menuju tempat yang salah.

Selain itu, jangan ukur keberhasilan hanya dari kesibukan dan pencapaian dunia.

Sebab seseorang bisa terlihat berhasil di mata manusia, tetapi kehilangan arah di hadapan Allah SWT.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa petunjuk adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada banyak nikmat materi.

Karena harta dapat mempermudah hidup, tetapi petunjuk menentukan ke mana hidup itu menuju.

Kadang manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar sesuatu yang ternyata tidak mampu memberikan ketenangan yang dicarinya.

Karena yang sebenarnya dicari oleh jiwa bukan hanya keberhasilan, tetapi makna.

Dan makna sejati hanya ditemukan ketika manusia berjalan di atas jalan yang diridhai Allah.

Saudara…,

Ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri :

Bagaimana cara kita menjalani hidup ?

Apakah kita berjalan dengan arah yang jelas?

Ataukah sekadar mengikuti arus tanpa tujuan yang pasti?

Banyak orang terlihat berjalan cepat.

Tetapi tidak semua tahu ke mana mereka menuju.

Banyak orang tampak berhasil.

Tetapi tidak semua menemukan ketenangan.

Karena keberhasilan terbesar bukan sekadar sampai ke tujuan dunia.

Melainkan sampai kepada Allah dengan hati yang selamat.

Maka mohonlah selalu petunjuk kepada-Nya.

Sebab manusia yang paling beruntung bukan yang paling kuat, bukan yang paling kaya, dan bukan yang paling terkenal.

Tetapi yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus hingga akhir hayatnya.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 12 Juni 2026

Loading