BALIKPAPAN – Memperingati Milad ke-109 Aisyiyah sekaligus Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Kalimantan Timur menggelar aksi nyata pelestarian alam. Sebanyak 2.026 bibit mangrove ditanam di kawasan hutan mangrove SMA Negeri 8 Balikpapan pada Jumat (5/6/2026).

​Aksi penanaman ini dirangkai dengan peluncuran dua program strategis, yakni program 1.000 Cahaya Aisyiyah dan Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, serta Penjabat Gubernur Kaltim.

​Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Kaltim sekaligus pengurus PW Aisyiyah Kaltim, Dra. Hj. Noor Huriyati, menjelaskan bahwa tema nasional yang diangkat sangat relevan dengan karakteristik geografis Bumi Etam yang kaya akan ekosistem pesisir.

​”Tema ini kita ambil karena sesuai dengan lingkungan kita di Provinsi Kaltim. Di sini banyak pohon mangrove sehingga perlu usaha kita bagaimana melestarikan dan merawat hutan mangrove ini,” ujar Noor Huriyati, Jumat (5/6/2026).

​Ia memaparkan, Kaltim memiliki salah satu kawasan hutan mangrove terluas di Indonesia yang mencapai sekitar 240.000 hektare. Ekosistem ini terkonsentrasi di wilayah delta dan estuari, dengan pusat keanekaragaman vegetasi terbesar berada di Delta Mahakam, pesisir Berau, dan Kutai Timur, serta tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota termasuk Balikpapan, Bontang, dan Samarinda. ​”Wilayah ini yang perlu mendapatkan perhatian serius,” tegasnya.

Terkait pemilihan SMAN 8 Balikpapan sebagai pusat acara, Noor menyebut faktor aksesibilitas yang mudah dijangkau dan ramai dikunjungi masyarakat menjadi pertimbangan utama panitia.

Dukungan Akademisi untuk Mitigasi Krisis Iklim

​Inisiatif hijau ini mendapat dukungan penuh dari kalangan akademisi. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FMIPA Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Prof. Dr. Darnah, S.Si., M.Si., menyatakan kesiapan institusinya untuk mengawal program ini melalui skema pengabdian masyarakat.

Akademi Unmul hadir pada peluncuran 1.000 cahaya Aisyiyah dan penanaman 2026 bibit pohon mangrove di hutan SMAN 8 Balikpapan.

​”Tentu akan kami programkan untuk pendampingan penanaman mangrove sebagai institusi pendidikan di lingkungan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah yang berdekatan dengan hutan mangrove,” ungkap Prof. Darnah.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FMIPA Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Prof. Dr. Darnah, S.Si., M.Si., memberikan apresiasi dan siap menurunkan pengabdian masyarakat untuk pembinaan hutan mangrove.

​Ia berharap program serupa dapat direplikasi di seluruh sekolah di Kaltim sebagai langkah konkret mitigasi perubahan iklim global. Menurutnya, mangrove memiliki efektivitas luar biasa dalam menyerap emisi.

​”Meskipun hanya mencakup sekitar 0,1 persen dari permukaan bumi, mangrove mampu menyimpan hingga empat kali lebih banyak karbon per hektare dibandingkan hutan daratan. Karbon ini disimpan dalam biomassa akar dan tanah,” pungkasnya.

Geliat “Relawan Mangrove” SMAN 8 Balikpapan

​Sebagai tuan rumah, para siswa SMAN 8 Balikpapan menyambut antusias agenda besar ini. Raksa Anindya Putri, anggota Majelis Perwakilan Kelas (MPK) bersama rekannya Agatha Shaquandra (kelas 10), mengaku bangga sekolah mereka menjadi pusat perhatian nasional.

​”Kami bahagia sekolah kami didatangi Pak Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah), ada Bu Hetifah yang sangat peduli dengan pendidikan, ada Pak Gubernur juga datang,” ucap Anindya di sela-sela menyambut tamu.

​Anindya menceritakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hal baru bagi mereka. Sekolah memiliki ekstrakurikuler khusus bernama Relawan Mangrove di bawah naungan OSIS dan dibina oleh guru Biologi, Dewi. “Setiap minggu membersihkan mangrove, kadang di hari Jumat, kadang Sabtu,” tambahnya.

​Kepala SMAN 8 Balikpapan, Drs. Ali Arham, M.Pd., dengan bangga menegaskan bahwa seluruh muridnya memiliki rasa cinta yang besar terhadap ekosistem pesisir tersebut. Relawan Mangrove di sekolahnya mengemban tiga tugas utama: membibiti, menanam, dan merawat.

Kepala SMAN 8 Balikpapan Drs. Ali Arham, M.Pd.

​”Tanaman mangrove sejatinya tidak memerlukan perawatan khusus. Ancaman terbesar justru datang dari sampah plastik yang terbawa pasang surut air laut. Oleh karena itu, setiap Jumat siang, relawan mangrove turun ke air untuk memunguti sampah-sampah plastik yang tersangkut di akar-akar mangrove,” pungkas Ali Arham.(mn)

Loading