Oleh: Ekky Yudistira

SATU adegan yang berulang setiap pagi di ribuan rumah di pesisir dan pedalaman Kalimantan Timur. Seorang ibu berdiri di ambang pintu, kadang masih dalam daster lusuh, kadang sudah rapi dengan kain sarung yang dilipat di pinggang menatap punggung anaknya yang melangkah pergi menuju pabrik, galangan, tambang, atau proyek jalan yang entah di mana ujungnya.

Bibirnya bergerak pelan. Ia berdoa. Dan dalam doanya, ia tidak meminta kekayaan, tidak meminta promosi jabatan, tidak meminta nilai rapor yang bagus. Ia hanya meminta satu hal, supaya anaknya pulang dengan selamat.

Doa itu naif bukan karena tidak tulus. Ia naif karena tidak memiliki penyangga. Karena di antara doa sang ibu dan keselamatan sang anak, terdapat sebuah celah menganga yang tidak terisi oleh kurikulum sekolah, tidak dijembatani oleh buku pelajaran, dan tidak tertutupi oleh ijazah yang dilaminating dengan bangga di lemari keluarga.

Celah itu bernama budaya keselamatan kerja. Dan ia tidak diajarkan.

BPJS Ketenagakerjaan mencatat sesuatu yang tidak nyaman untuk diucapkan di podium manapun. Rata-rata tiga puluh pekerja meninggal setiap hari akibat kecelakaan di tempat kerja sepanjang 2025. Tiga puluh. Angka itu tidak bergetar, tidak berkabung, tidak mengenakan pita hitam. Ia hanya duduk di dalam laporan statistik, menunggu untuk dikutip, lalu dilupakan.

Tapi cobalah sekali saja merasakan beratnya dengan cara yang berbeda. Bayangkan satu kelas SMK yang penuh berisi tiga puluh kursi, tiga puluh tas sekolah yang digantung di sandaran, tiga puluh muka yang masih muda dan masih percaya bahwa dunia kerja adalah petualangan yang menanti. Sekarang bayangkan kelas itu kosong. Tas-tas itu tidak ada yang mengambil. Kursi-kursi itu tidak ada yang menduduki. Itulah yang terjadi di negeri ini, setiap hari, tanpa libur, tanpa liputan khusus, tanpa satu pun nama yang dibacakan di sesi pembuka rapat kabinet.

Dan trennya tidak membaik. Ia memburuk dengan ketelitian seorang pencerita yang tahu kapan harus menambah tegangan. 265.334 kasus kecelakaan kerja pada 2022, naik menjadi 370.747 kasus pada 2023, naik lagi menjadi 462.241 kasus pada 2024. Pada periode Januari hingga Mei 2025 saja sudah melampaui 323.000 kasus. Ini bukan statistik yang sedang menuju perbaikan. Ini adalah statistik yang sedang menuju peringatan.

Yang paling memukul bukanlah angkanya. Yang paling memukul adalah pengetahuan bahwa sebagian besar kasus itu bisa dicegah. Bukan oleh teknologi canggih, bukan oleh alat pelindung yang mahal, bukan oleh kebijakan yang rumit.

Ia bisa dicegah oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni oleh seorang manusia yang sudah terbiasa, sejak lama, untuk berpikir tentang risiko sebelum bergerak. Oleh seorang pekerja yang sudah memiliki dalam dirinya, bukan dari pelatihan kilat tiga hari, melainkan dari kebiasaan bertahun-tahun, sebuah refleks bernama keselamatan.

Refleks itu seharusnya dibangun di sekolah. Tetapi sekolah kita belum selesai mengajarkannya.

Ada ironi yang pelan-pelan memperkenalkan dirinya kalau kita mau duduk cukup lama bersama data pendidikan vokasi kita. Sekolah Menengah Kejuruan, institusi yang oleh negara dirancang, didanai, dan diposisikan sebagai mesin pencetak tenaga kerja siap pakai, justru menghasilkan lulusan dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi di antara semua jenjang pendidikan, 9,01 persen per Agustus 2024. Lebih spesifik lagi, jurusan energi dan pertambangan mencatat angka yang lebih menyengat, 22,4 persen.

Hampir seperempat lulusan jurusan tambang tidak terserap industri. Di Kalimantan Timur, tanah yang hidup dan bernapas dari tambang, yang menjadi sumber royalti dan dividen yang mengalir ke Jakarta selama puluhan tahun, hampir seperempat anak muda yang belajar pertambangan duduk menganggur. Ini bukan soal kurangnya lapangan kerja. Industri pertambangan terus beroperasi, terus memperluas konsesi, terus membutuhkan tenaga. Yang kurang adalah kesiapan.

Dan kesiapan yang paling sering absen bukan kemampuan teknis, bukan soal apakah mereka bisa membaca peta geologi atau mengoperasikan dump truck. Yang paling sering absen adalah sesuatu yang jauh lebih tak kasat mata, yaitu cara berpikir tentang bahaya. Kemampuan untuk masuk ke area kerja dan secara otomatis bertanya, di mana risiko berada, siapa yang mungkin celaka, dan apa yang harus saya lakukan sebelum mulai bekerja?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada dalam soal ujian nasional. Tidak ada dalam silabus. Tidak ada dalam penilaian praktik. Maka lulusan kita memasuki dunia kerja dengan tangan terampil tetapi dengan pikiran yang belum pernah berlatih untuk waspada secara sistematis. Dan industry, yang tahu betul bahwa kecerobohan di area tambang bisa membunuh, harus mengajarkan dari nol apa yang seharusnya sudah dimulai jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di pintu gerbang perusahaan.

 

Mengapa Perusahaan Tambang Turun ke Ruang Kelas?

Ada pertanyaan yang jarang diajukan kepada perusahaan-perusahaan yang menjalankan program CSR Pendidikan, bukan soal apa yang mereka lakukan, melainkan mengapa mereka melakukannya. Sebab di balik setiap program yang tampak dermawan, selalu ada alasan yang lebih dalam dan mengetahui alasan itu penting agar kita bisa membaca niat dari akarnya, bukan hanya dari bunganya.

Hendra, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara, menjawab pertanyaan itu tanpa basa-basi. Ada tiga hal yang mendorong PAMA akhirnya turun ke ruang kelas. Pertama, kesadaran bahwa minat lulusan SMK di Kutai Timur untuk bekerja di tambang sangat tinggi, tetapi tingginya minat itu tidak sebanding dengan kesiapan. Kedua, pengalaman berulang yang mengecewakan dalam proses rekrutmen, banyak pelamar dari SMK binaan yang gugur bukan di tahap akhir, melainkan sejak awal di psikotes, di interview, bahkan di pemeriksaan kesehatan.

“Safety di perusahaan tambang itu sangat ketat. Bahkan safety adalah hal utama dalam bekerja. Kalau dia tidak bisa bekerja dengan safety, sama saja dengan tidak bekerja.” (Hendra, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara). 

Yang paling mengejutkan, dan sekaligus paling menyedihkan adalah temuan di tahap kesehatan. Bukan soal cedera atau riwayat penyakit akibat kerja. Justru sebaliknya, gula darah tinggi, masalah jantung, obesitas, mata minus yang tidak pernah diperiksakan. Penyakit-penyakit yang lahir bukan dari tambang, melainkan dari kebiasaan hidup yang tidak pernah diarahkan sejak dini. Anak-anak muda yang baru lulus sekolah, yang belum sehari pun bekerja di industri, sudah membawa tubuh yang tidak siap menanggung beban pekerjaan yang mereka impikan.

Inilah yang oleh Hendra disebut sebagai inti persoalan, bukan sekedar attitude yang perlu diperbaiki, melainkan habit, kebiasaan yang terbentuk jauh sebelum seseorang mengenakan seragam kerja untuk pertama kalinya. Dan kebiasaan, seperti yang diketahui siapa pun yang pernah mencoba mengubahnya, tidak bisa dibentuk dalam seminggu pelatihan. Ia butuh lingkungan. Ia butuh pengulangan. Ia butuh waktu.

Dari sinilah Program PAMA Safe School menemukan logika terdalamnya. Bukan sebagai kegiatan sosial yang berdiri sendiri, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembentukan generasi pekerja yang benar-benar siap bukan hanya siap di atas kertas, tetapi siap dalam tubuh, dalam pikiran, dan dalam cara mereka memandang risiko.

Di Sangatta dan Bengalon, di sudut Kutai Timur yang jarang muncul dalam berita nasional kecuali ketika ada kasus korupsi atau bencana alam, sesuatu yang berbeda sedang terjadi dengan sunyi dan tekun. Empat sekolah menjadi sasaran, yakni SMKN 1 Bengalon, SMKN 1 Sangatta Utara, SMKN 2 Sangatta Utara, SMK Muhammadiyah 1 Sangatta Utara. Hampir dua ribu siswa menjadi penerima manfaat langsung. Dan yang membedakan program ini dari sekadar ceremonial berseragam kuning adalah kedalaman arsitekturnya.

Guru-guru tidak sekadar diundang ke seminar, mereka disertifikasi. Di SMKN 2 Sangatta Utara, tim satgas yang terdiri dari para guru menjalani pelatihan intensif selama sepuluh hari penuh di Jawa, diklat bersertifikat yang mencakup manajemen keselamatan, penanganan kondisi darurat, dan pertolongan pertama. Rudi Hartono, salah satu guru sekaligus anggota satgas, menceritakan bagaimana cakupan pelatihan itu melampaui ekspektasinya.

Tetapi yang lebih menarik adalah ke mana PAMA membawa guru-guru itu setelah diklat, ke SMK Negeri 3 Tuban, sekolah yang mengklaim dirinya sebagai sekolah paling safety di Indonesia, dan yang terbukti melalui satu data sederhana namun berbicara keras.

Lulusan-lulusannya diterima di perusahaan-perusahaan nasional dari Jawa hingga sektor pertambangan, jauh melebihi rata-rata sekolah vokasi lainnya. Guru-guru dari Kutai Timur dibawa ke sana bukan untuk kagum-kaguman, melainkan untuk melihat secara langsung kurikulumnya seperti apa, manajemen sekolahnya bagaimana, dan apa yang bisa diadopsi pulang.

“Harapannya, apa yang ada di Tuban itu bisa diadopsi di sekolah-sekolah SMK yang ada di Kutai Timur, bahkan di semua sekolah binaan Pama di mana pun ada operasionalnya.” (Hendra, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara). 

Komite Sekolah K3LH dibentuk dan dilantik di setiap sekolah binaan. Bukan sekadar struktur di atas kertas, melainkan tulang punggung kelembagaan yang memastikan program ini terus berjalan bahkan ketika orang-orang PAMA tidak sedang hadir.

Workshop Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko mengajarkan siswa untuk berpikir seperti insinyur keselamatan. Pelatihan Basic Life Support memberi mereka kemampuan yang seharusnya dimiliki setiap manusia dewasa. Dan safety talk, pembiasaan yang disampaikan setiap apel pagi, bekerja dengan logika yang oleh Rudi dijelaskan dengan sangat jernih, selebaran bisa tidak dibaca, tetapi kata-kata yang diulang di hadapan banyak orang, pelan-pelan akan meresap sendiri ke dalam memori.

Yang penting untuk dicatat dan ini sesuatu yang dengan tegas disampaikan Hendra, program ini tidak memberi jaminan rekrutmen kepada siapapun. Siswa yang lulus dari sekolah binaan tetap akan mengikuti seleksi secara normal dan normatif. Tidak ada dispensasi, tidak ada jalur khusus. Yang berubah hanyalah bekalnya. Dan bekal itu bukan hanya untuk melamar ke PAMA, melainkan untuk melamar ke perusahaan mana pun yang membuka pintu bagi mereka yang tahu cara menjaga dirinya sendiri.

“Targetnya itu sekolah, bukan jurusan. Bukan hanya anak-anak teknik yang dapat program ini. Semua siswa, dari semua jurusan. Bahkan guru matematika pun kami ikutkan pelatihan.” (Rudi Hartono, Guru SMKN 2 Sangatta Utara). 

Sosialisasi keselamatan berkendara, pola hidup sehat, kepedulian lingkungan, semuanya diuntai dalam pendekatan yang mereka sebut SAFE (Safety, Active Fit, Eco Friendly). Dan KPP Mining, melalui program Safety Goes to School, melebarkan jangkauan ke tujuh sekolah di kecamatan Bengalon dan Sangkulirang, 645 siswa yang mungkin tidak pernah sebelumnya mendengar tentang Alat Pelindung Diri selain dari label buku pelajaran yang tidak pernah dibuka sampai akhir.

Saya ingin berhenti sejenak di sini dan mengatakan sesuatu yang jarang dikatakan dalam jurnalisme kritis. ini kerja yang baik. Ini lebih dari kewajiban. Ini adalah korporasi yang mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya, lalu mengerjakannya dengan serius, dan dengan kejernihan tujuan yang tidak berpura-pura lebih mulia dari yang sesungguhnya.

Tetapi justru karena apresiasi itu tulus, ia harus digunakan sebagai cermin. Cermin yang memantulkan satu pertanyaan yang tidak nyaman. Jika sebuah perusahaan tambang bisa merancang, menjalankan, dan mengukur dampak program pendidikan K3LH yang menyentuh hampir dua ribu siswa di empat sekolah, mengapa negara, dengan seluruh anggaran pendidikannya, dengan seluruh aparatur Kemendikbud dan Kemnaker-nya, dengan seluruh regulasi dan perpresnya, belum mampu menjadikan hal yang sama sebagai standar wajib di 14.000 lebih SMK yang tersebar dari Sabang sampai Merauke?

Hendra dengan jujur mengakui bahwa program ini lahir sebagian karena PAMA melihat ada masalah yang belum terpecahkan dalam sistem yang ada. Bukan karena negara tidak punya regulasi. Regulasi ada, bahkan berlapis. Tetapi antara regulasi dan realita di ruang kelas, ada jarak yang cukup lebar untuk menenggelamkan niat baik.

Rudi sendiri, dengan kejujuran yang menyegarkan, mengakui bahwa dampak program ini belum bisa dinilai sekarang. Ia baru berjalan delapan bulan. Untuk mengetahui apakah nilai-nilai K3LH benar-benar tertanam dalam diri siswa, dibutuhkan waktu tiga tahun penuh, siklus lengkap seorang murid SMK dari masuk hingga lulus.

“Untuk menilai sudah sejauh mana hasilnya, kita bisa tahu di tahun ketiga. Masih panjang. Tapi kami sudah mulai.” (Rudi Hartono, Guru SMKN 2 Sangatta Utara). 

Kejujuran itu justru menambah bobot moral program ini. Tidak ada klaim berlebihan. Tidak ada foto besar dengan caption kemenangan. Hanya pengakuan bahwa menanam karakter butuh waktu dan mereka bersedia menunggunya.

Adapun soal sertifikasi K3 untuk siswa, yang menjadi impian Rudi, Hendra menjelaskan bahwa ini masih dalam tahap yang sedang dibentuk. Sertifikasi formal untuk siswa membutuhkan proses yang panjang, tetapi ada kemungkinan nyata bahwa ke depan, setiap siswa yang menyelesaikan program Safe School akan mendapatkan sertifikat penanda kompetensi K3LH yang bisa diletakkan berdampingan dengan ijazah dalam map lamaran kerja mereka. Selembar kertas yang akan berkata bahwa orang ini tahu cara menjaga dirinya sendiri.

Harapan yang terdengar sederhana. Tetapi di negara yang undang-undang keselamatan kerjanya masih memberi sanksi maksimal Rp 100.000 kepada pelanggar K3, angka yang tidak cukup untuk membeli perban dan antiseptik bagi korban yang ditinggalkannya, harapan tentang sertifikasi K3 untuk lulusan SMK terdengar seperti impian yang terlalu besar untuk dititipkan hanya kepada satu program CSR di satu kabupaten.

Kita punya Perpres 68 Tahun 2022 tentang revitalisasi pendidikan vokasi. Kita punya berbagai Permen yang mengatur K3LH di tempat kerja. Tetapi regulasi tanpa nyawa adalah arsip. Dan arsip tidak bisa menolong orang yang sedang jatuh dari ketinggian.

Selama kita memandang K3LH sebagai pelengkap kurikulum, mata pelajaran ekstra yang bisa masuk dalam silabus bila ada waktu, maka ia tidak akan pernah menjadi budaya. Dan selama ia tidak menjadi budaya, maka tiga puluh kursi kosong itu akan terus mengulang dirinya, setiap hari, dengan nama-nama yang berbeda.

Ada sesuatu yang sedikit mengharukan dalam fakta bahwa terobosan pendidikan K3LH yang paling konkret, paling terstruktur, dan paling terukur dampaknya di negeri ini bukan lahir dari gedung megah di kawasan Kuningan atau Senayan. Ia lahir dari Bengalon. Dari Sangatta Utara. Dari kecamatan-kecamatan yang tidak punya nama besar tetapi punya anak-anak muda yang tidak kalah bernilai hidupnya.

PAMA membuktikan sesuatu yang sesungguhnya kita sudah tahu tetapi enggan mengakui, bahwa K3LH bisa diajarkan dengan cara yang menggairahkan. Bahwa anak-anak SMK yang biasanya mengantuk di depan papan tulis bisa tiba-tiba serius dan bersemangat ketika ada yang mendemonstrasikan cara menghentikan pendarahan hebat dengan tangan kosong, atau ketika ada yang mengajak mereka berlatih memadamkan api kecil dengan alat pemadam yang benar.

Model ini sudah ada. Ia sudah terbukti, atau setidaknya, sudah menunjukkan arah yang benar. Dan dari dua suara yang berbeda. Seorang guru yang berdiri di antara siswa dan masa depan mereka setiap hari, dan seorang CSR officer yang melihat data rekrutmen yang mengecewakan berulang kali. Kita mendengar kekhawatiran yang sama, dan harapan yang sama bahwa ada cara yang lebih baik untuk mempersiapkan anak-anak muda kita, dan cara itu harus dimulai jauh sebelum mereka berdiri di gerbang perusahaan.

Yang diperlukan sekarang bukan inovasi baru. Yang diperlukan adalah kehendak untuk mereplikasi dan keberanian untuk menjadikannya kewajiban negara, bukan semata kemuliaan korporasi.

Doa yang Menunggu Penyangga

Saya kembali ke perempuan di ambang pintu itu. Ia masih berdiri di sana, dalam daster lusuh atau kain sarung yang dilipat di pinggang, menatap punggung anaknya yang mengecil di tikungan jalan. Bibirnya masih bergerak. Ia masih berdoa.

Doa itu tidak salah. Doa itu perlu dan mulia dan penuh cinta. Tetapi doa, seindah apapun, tidak bisa menggantikan helm yang dipakai dengan benar. Tidak bisa menggantikan refleks yang sudah terlatih untuk berhenti sebelum melewati area berbahaya. Tidak bisa menggantikan kebiasaan hidup sehat yang dimulai bukan di klinik perusahaan, melainkan di kantin sekolah dan di meja makan keluarga.

Itu bukan tugas doa. Itu tugas sekolah.

PAMA Safe School, dengan segala keterbatasannya sebagai program CSR yang hanya mampu menjangkau empat sekolah di satu kabupaten, telah membuktikan bahwa tugas itu bisa dikerjakan. Bahwa budaya keselamatan bisa ditanamkan. Bahwa generasi yang berjalan dengan kesadaran penuh tentang nilai hidupnya sendiri bisa lahir dari ruang-ruang kelas yang selama ini kita remehkan.

Dan dari dua suara yang terpisah, seorang guru yang menunggu tiga tahun untuk melihat hasilnya, dan seorang officer yang sudah terlalu sering menyaksikan anak-anak muda gugur di meja seleksi bukan karena tidak pintar, melainkan karena tidak siap. Kita sudah mendengar cukup untuk mengerti bahwa masalah ini nyata, jawabannya ada, dan tidak ada alasan lagi untuk menundanya.

Yang tersisa adalah pertanyaan bagi kita semua, pengambil kebijakan, pengelola anggaran, penulis kurikulum, dan siapapun yang pernah berdiri di ambang pintu dan menatap punggung seseorang yang pergi bekerja. Sudah sejauh mana kita memberikan penyangga bagi doa-doa itu?

Sebab tiga puluh kursi itu tidak akan mau kosong terus menerus hanya karena kita belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Loading