JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengukir sejarah baru dalam perjalanan transformasi institusinya. Tepat pada Selasa (10/3/2026), Polri meresmikan tahap ketiga operasionalisasi Pusat Studi Kepolisian di bawah naungan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dengan peresmian ini, kini total 16 pusat studi telah resmi beroperasi sebagai motor penggerak intelektual Korps Bhayangkara. Peresmian ini menandai pergeseran paradigma Polri yang tidak lagi hanya mengandalkan tindakan taktis-teknis di lapangan, melainkan mulai mengadopsi Evidence Based Policy—sebuah pendekatan di mana setiap kebijakan dan tindakan didasarkan pada bukti ilmiah serta riset mendalam.

WADAH RISET DAN DISKUSI AKADEMIK
Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, dalam acara peresmian tersebut menegaskan bahwa kehadiran pusat-pusat studi ini merupakan jawaban atas tantangan keamanan yang semakin kompleks di masa depan.

“Diharapkan dengan peresmian 16 Pusat Studi Kepolisian ini dengan bidang keilmuan masing-masing, pusat studi kepolisian ini menjadi wadah riset dan diskusi akademik terkait pengembangan ilmu kepolisian di Indonesia,” ujar Komjen Pol. Dedi Prasetyo.

Pada peresmian tahap ketiga ini, terdapat 7 pusat studi baru yang mulai beroperasi dengan dipimpin oleh sosok-sosok berkompeten di bidangnya, antara lain:

  1. Pusat Studi Teknologi Kepolisian (Irjen Pol. Suwondo Nainggolan)
  2. Pusat Studi Forensik Kepolisian (Komjen Pol. (Purn) Prof. Dr. Petrus R. Golose)
  3. Pusat Studi Internasional Kepolisian (Irjen Pol. Dr. dr. Asep Herdradiana)
  4. Pusat Studi Keamanan Nasional (Prof. Muradi)
  5. Pusat Studi PPA (Brigjen Pol. Dr. Nurul Azizah)
  6. Pusat Studi Keadilan Restoratif & Transformasi Konflik (Andrea H. Poeloengan)
  7. Pusat Studi Intelijen Kepolisian (Irjen Pol. Dr. Achmad Kartiko)

Sebelumnya, pada tahun 2025, Polri telah meresmikan 9 pusat studi lainnya, mulai dari bidang Anti Korupsi, Siber, hingga Kehumasan.

Strategi besar ini tidak hanya berpusat di Jakarta. Melalui kolaborasi Pentahelix, Polri menggandeng dunia akademis di berbagai daerah untuk menjaring perspektif lokal. Hingga saat ini, 8 dari 77 universitas (PTN/PTS) di Indonesia telah meresmikan Pusat Studi Kepolisian di kampus mereka, termasuk Universitas Syiah Kuala (Aceh), Universitas Sebelas Maret (Solo), hingga Universitas Pattimura (Maluku).

Ekspansi intelektual ini akan terus berlanjut, di mana terdapat 69 perguruan tinggi lainnya yang saat ini tengah memasuki tahap Penandatanganan Kerja Sama (PKS).

Kehadiran pusat studi di berbagai daerah diharapkan mampu membedah tantangan keamanan spesifik di tiap wilayah dengan pisau analisis akademis yang tajam. Dengan langkah ini, Polri berkomitmen agar budaya ilmiah mendarah daging di tubuh institusi, memastikan setiap keputusan yang diambil telah melalui kajian yang akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.(rls/mn)

Loading