KUTAI TIMUR – Desa Kandolo memiliki potensi wisata alam yang luar biasa, namun pengembangannya terkendala karena lokasi berada di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK). Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, mengaku lebih memilih fokus mengembangkan potensi wisata yang berada di Area Penggunaan Lain (APL) agar bisa memberikan Pendapatan Asli Desa (PADES).
“Kita paling terkenalnya itu sebenarnya ada namanya Batu Lesung. Yang di dalam sana kurang lebih 6 km masuk. Itu potensi yang luar biasa dari Kandolo dari dulu,” ungkap Alimuddin, Rabu (28/01/2026).
Selain Batu Lesung, Desa Kandolo juga memiliki wisata bahari berupa vila di laut yang sebenarnya diperuntukkan sebagai tambatan perahu bagi nelayan untuk berteduh ketika hujan datang, namun memiliki potensi bagus untuk pariwisata.
“Ada juga di laut. Kami ada semacam vila di laut itu, tambatan perahu kami namakan karena itu peruntukannya sebenarnya untuk nelayan. Untuk berteduh ketika hujan datang gitu. Tapi potensinya bagus untuk pariwisata,” jelasnya.
Akses menuju objek wisata Batu Lesung sudah bisa dilalui mobil, namun harus menyeberang terlebih dahulu menggunakan ketinting selama 15 menit. Kendala utama adalah lokasi wisata tersebut berada di kawasan Taman Nasional Kutai.
Alimuddin menjelaskan bahwa desa tidak bisa menanamkan aset di kawasan Taman Nasional. Jika desa membangun infrastruktur wisata di sana, maka aset tersebut akan diklaim sebagai milik kawasan, yang artinya desa rugi karena tidak memiliki aset.
“Kebetulan Batu Lesung dengan mangrove itu kan di kawasan hutan. Dan kami tidak bisa menanamkan aset di sana. Jadi kalau kami membangun infrastruktur di sana itu diklaim milik kawasan, berarti fiktif dong. Tidak ada asetnya desa kan rugi kami kalau begitu,” jelasnya.
Selain itu, jika wisata tersebut terjadi dan dikelola oleh Bumdes, desa hanya akan kebagian menjadi tukang ojek yang mengantar wisatawan ke dalam, selebihnya tidak mendapat pemasukan. “Yang kedua, kalaupun wisata itu terjadi dikelola oleh Bumdes misalnya. Kami hanya kebagian jadi tukang ojeknya. Jadi ngantar wisatawan ke dalam. Selebihnya tidak dapat duit,” ungkapnya.
Karena alasan tersebut, Alimuddin memilih untuk fokus mengembangkan potensi wisata yang berada di dalam APL dan bisa memberikan PADES lebih cepat. Saat ini Desa Kandolo sedang mengembangkan wisata Embung yang dibangun dari dana APBN melalui Kementerian Desa.
“Saya ada wisata alam. Jadi cikal-bakalnya wisata itu sesungguhnya kami buat dulu Embung. Ada potensi sawah, saya waktu itu cetak kurang lebih 25 hektar. Di situ kemudian kami dapat bantuan dari APBN melalui Kementerian Desa bikin Embung,” jelasnya.
Embung yang semula hanya untuk menampung air kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata. Saat ini yang sedang dalam proses pembangunan adalah rainbow slide atau perosotan warna-warni.
“Embung ini sayang menurut saya kalau hanya menampung air tidak diolah jadi wisata. Akhirnya kami berinisiatif untuk membangun itu. Dan sekarang sudah berproses. Sekarang yang berproses itu rainbow slide, perosotan warna-warni itu,” ungkapnya.
Pembangunan runway untuk rainbow slide ini merupakan kerja sama dengan PT Indominco, sementara wahana permainannya diadakan dari anggaran desa program tahun 2023-2024. “Ini runway-nya dibangun oleh Indominco nanti. Realnya kami yang ngadakan dari desa. Kalau enggak salah itu program 2023-2024,” jelasnya.
Namun pembangunan wisata Embung ini sempat terhambat karena viral di media sosial tentang kolam renang Kandolo yang mangkrak. Kejadian tersebut cukup memukul Alimuddin karena terjadi menjelang pemilihan ketua APDESI.
“Hanya saja kemarin sempat terkendala gara-gara viral kolam renang itu. Mungkin sempat dengar kolam renang Kandolo yang mangkrak itu. Saya itu cukup terpukul di situ karena kebetulan di esok harinya saya pemilihan ketua BSI, malamnya keluar berita itu,” kenangnya.
Meski sempat terpukul, Alimuddin bersyukur tetap terpilih sebagai ketua APDESI dan pembangunan wisata tetap bisa berproses. Lokasi wisata Embung berada sekitar 750 meter masuk sebelah kanan arah Sangatta, di tengah hamparan sawah.
Alimuddin berharap dengan selesainya pembangunan wisata Embung dan rainbow slide, Desa Kandolo bisa memiliki destinasi wisata yang menarik dan bisa memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa.
“Tapi alhamdulillah tetap terpilih dan saya bersyukurnya masih ada hari ini. Artinya apa? Kita tidak pernah main-main dengan hal-hal seperti itu. Yang salah ya silakan masuklah. Jadi itu yang membuat terhambat. Tapi saat ini tetap berproses,” tegasnya.(Q)
![]()

