TADABBUR SURAT AL-HUJURAT —Ayat 6

Oleh Masykur Sarmian

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
—QS. Al-Hujurat: 6

Penjelasan Tematik

Setelah mengajarkan adab terhadap Rasulullah SAW, Surat Al-Hujurat mulai memasuki wilayah yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat: bagaimana memperlakukan sebuah informasi.

Ayat ini dimulai dengan seruan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman.”

Seakan-akan Allah sedang mengatakan bahwa iman juga memiliki etika dalam menerima berita.

Allah tidak mengatakan, “Percayalah setiap berita yang sampai kepadamu.” Sebaliknya:

فَتَبَيَّنُوا
“Maka telitilah kebenarannya.”

Inilah prinsip tabayyun.
Sebuah berita mungkin hanya berupa beberapa kalimat, tetapi akibatnya dapat jauh lebih besar daripada kalimat itu sendiri. Satu informasi yang salah dapat menimbulkan kemarahan, merusak reputasi, memecah persaudaraan bahkan mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak mudah untuk dipulihkan.

Karena itu Allah menyebut akibatnya:

أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
“Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan.”

Yang menarik, kebodohan di sini bukan semata-mata tidak memiliki ilmu. Seseorang bisa berpendidikan tinggi tetapi tetap bertindak jahālah ketika ia bertindak tanpa memastikan kebenaran.

Dalam psikologi modern terdapat konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan atau prasangka yang sudah dimilikinya dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Itulah sebabnya berita yang kita sukai sering langsung kita percaya, sementara berita yang tidak kita sukai langsung kita tolak.

Al-Qur’an memutus pola itu dengan satu disiplin:
Periksa dahulu.
Check and richeck.

Munāsabah

Ayat sebelumnya berbicara tentang adab dan kesabaran ketika berhadapan dengan Rasulullah SAW. Sekarang pendidikan itu diperluas : jangan tergesa-gesa dalam menerima informasi.

Ini sangat logis. Manusia yang tidak mampu mengendalikan suara dan emosinya akan mudah pula dikendalikan oleh berita.

Karena itu sebelum membangun persaudaraan, Al-Qur’an terlebih dahulu membangun budaya informasi yang sehat.

Ayat berikutnya kemudian akan berbicara tentang apa yang harus dilakukan ketika konflik benar-benar terjadi. Jadi ayat 6 adalah semacam pintu pencegahan konflik.

Penguatan Dalil

Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
QS. Al-Isra’: 36

Islam tidak mendidik umatnya menjadi masyarakat yang paling cepat menyebarkan berita, tetapi menjadi masyarakat yang paling bertanggung jawab terhadap berita.

Pelajaran Kehidupan

Sebelum meneruskan sebuah berita, berhentilah sejenak dan tanyakan:

Benarkah ? Dari mana sumbernya ? Apa konteksnya ? Apa akibatnya jika ternyata salah ?

Sebab penyesalan yang disebut Allah pada akhir ayat bukan penyesalan karena tidak segera bertindak, tetapi penyesalan karena bertindak tanpa memastikan kebenaran.

Di zaman media sosial, ayat ini terasa semakin dekat. Jari kita hanya membutuhkan beberapa detik untuk meneruskan sebuah informasi, tetapi akibatnya mungkin membutuhkan bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Renungan Peradaban

Peradaban yang sehat bukan hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara, tetapi juga manusia yang bertanggung jawab terhadap apa yang ia sebarkan.

Berita adalah kekuatan. Dan setiap kekuatan membutuhkan amanah. Sebuah masyarakat dapat dihancurkan oleh senjata, tetapi juga dapat dihancurkan oleh informasi yang tidak benar.

Maka tabayyun bukan sekadar etika komunikasi.
Ia adalah benteng peradaban.
Sebelum sebuah berita menjadi kemarahan, sebelum kemarahan menjadi tindakan, dan sebelum tindakan menjadi penyesalan, Al-Qur’an telah memberikan satu pintu keselamatan:

“Berhenti sejenak, bertanyalah pada hati nurani, jangan gampang emosi, lalu periksa dengan akurat. Pastikan dengan keyakinan dan data yang akurat. Baru bertindak secara cerdas dan tepat.”

Karena tidak semua berita layak dipercaya, dan tidak semua informasi layak diteruskan.

Wallahu A’lam
Samarinda, 22 Agustus 2026

Loading