KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 18

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

“Dan sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya), maka alangkah dahsyatnya kemurkaan-Ku.”
—-QS. Al-Mulk Ayat 18

Penjelasan Tematik

Setelah Allah mengingatkan manusia tentang kekuasaan-Nya atas bumi dan langit, kini Allah mengajak manusia melihat sejarah.

Karena salah satu guru terbesar kehidupan adalah sejarah.

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
“Dan sungguh orang-orang sebelum mereka telah mendustakan.”

Ayat ini mengingatkan bahwa penolakan terhadap kebenaran bukanlah fenomena baru.

Sejak dahulu, setiap nabi menghadapi penolakan.

Nabi Nuh didustakan. Nabi Hud didustakan. Nabi Shalih didustakan. Nabi Musa didustakan. Bahkan Rasulullah SAW juga didustakan.

Seolah Al-Qur’an ingin mengatakan :

“Jangan mengira bahwa semua orang akan menerima kebenaran dengan mudah.”

Kesalahan yang Terus Berulang dalam Sejarah

Salah satu hal yang menarik dari sejarah manusia adalah bahwa banyak kesalahan terus berulang dengan bentuk yang berbeda.

Wajahnya berubah. Zamannya berubah. Teknologinya berubah.

Tetapi penyakit hatinya tetap sama :

kesombongan, penolakan terhadap nasihat, dan merasa diri paling benar.

Dalam psikologi modern terdapat istilah historical blindness yaitu kecenderungan manusia gagal belajar dari pengalaman masa lalu sehingga mengulangi kesalahan yang sama.

Padahal sejarah seharusnya menjadi cermin agar manusia tidak jatuh ke lubang yang sama.

Mengapa Manusia Mendustakan Kebenaran ?

Sering kali masalahnya bukan karena bukti kurang jelas.

Tetapi karena menerima kebenaran menuntut perubahan.

Dan perubahan sering kali terasa berat.

Kebenaran meminta manusia meninggalkan zona nyaman.

Kebenaran meminta manusia mengoreksi dirinya.

Kebenaran meminta manusia mengakui kesalahannya.

Dan itu tidak mudah bagi ego manusia.

“Fakaifa Kaana Nakiir”

فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ
“Maka bagaimana dahsyatnya peringatan dan hukuman-Ku.”

Kata nakiir mengandung makna penolakan Allah terhadap kebatilan yang kemudian berujung pada hukuman dan akibat yang nyata.

Allah tidak sekadar menceritakan sejarah.

Allah mengajak manusia mengambil pelajaran.

Karena sejarah yang tidak melahirkan hikmah hanyalah cerita.

Sedangkan sejarah yang direnungkan akan menjadi petunjuk.

Kesombongan Kolektif dalam Masyarakat

Ayat ini juga menunjukkan bahwa kesalahan tidak hanya dilakukan individu.

Kadang satu masyarakat secara bersama-sama menolak kebenaran.

Mereka saling menguatkan dalam kesalahan.

Mereka menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang normal.

Dalam psikologi sosial terdapat konsep groupthink yaitu keadaan ketika suatu kelompok lebih memilih mempertahankan kesepakatan bersama daripada mencari kebenaran yang sebenarnya.

Akibatnya seluruh kelompok dapat terseret kepada kesalahan yang sama.

Inilah yang terjadi pada banyak kaum terdahulu.

Belajar dari Orang Lain Lebih Murah daripada Belajar dari Musibah

Salah satu hikmah terbesar dari sejarah adalah :

Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Tidak semua pelajaran harus dialami sendiri.

Karena ada harga yang terlalu mahal jika harus dipelajari melalui penderitaan pribadi.

Orang bijak belajar dari pengalaman dirinya.

Orang yang lebih bijak belajar dari pengalaman orang lain.

Ketika Keberhasilan Membuat Manusia Lupa

Banyak kaum terdahulu hancur bukan ketika mereka lemah.

Justru ketika mereka kuat.

Ketika mereka kaya. Ketika mereka maju. Ketika mereka merasa tidak membutuhkan Allah.

Karena sering kali ancaman terbesar bagi manusia bukan kesulitan.

Tetapi keberhasilan yang tidak disertai rasa syukur.

Dalam psikologi modern, kondisi ini dekat dengan hubris syndrome yaitu kecenderungan seseorang menjadi terlalu percaya diri dan kehilangan kerendahan hati setelah memperoleh kekuasaan atau keberhasilan besar.

Sejarah dalam Al-Qur’an Bukan Sekadar Kisah

Al-Qur’an tidak menceritakan sejarah untuk hiburan.

Setiap kisah memiliki pesan.

Setiap kehancuran kaum terdahulu mengandung peringatan.

Setiap keselamatan orang beriman mengandung harapan.

Karena itu Al-Qur’an selalu mengajak manusia untuk bertanya :

Apa pelajaran yang bisa aku ambil untuk diriku sendiri?

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan meremehkan pelajaran sejarah.

Karena banyak orang hancur bukan karena tidak tahu, tetapi karena merasa dirinya berbeda dari orang-orang yang pernah gagal sebelumnya.

Selain itu, jangan pernah menganggap bahwa jumlah pendukung suatu pendapat selalu menjadi ukuran kebenaran.

Sebab sepanjang sejarah, kebenaran sering kali dimulai dari sedikit orang yang berani mempertahankannya.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa kesombongan adalah akar dari banyak penolakan terhadap petunjuk Allah.

Semakin seseorang merasa dirinya tidak mungkin salah, semakin sulit ia menerima nasihat dan koreksi.

Kadang manusia membaca kisah kaum terdahulu hanya sebagai cerita masa lalu.

Padahal Al-Qur’an mengisahkan mereka agar kita melihat diri kita sendiri di dalam cermin sejarah itu.

Dan sering kali, orang yang paling membutuhkan pelajaran sejarah adalah orang yang merasa dirinya tidak membutuhkannya.

Saudara…,

Ayat ini mengingatkan bahwa jalan yang ditempuh manusia hari ini bukan jalan yang baru.

Sudah banyak generasi yang pernah hidup sebelum kita.

Sudah banyak peradaban yang pernah berjaya.

Sudah banyak orang yang pernah merasa kuat, merasa aman, dan merasa tidak membutuhkan Allah.

Namun akhirnya mereka hanya menjadi bagian dari sejarah.

Karena itu jangan hanya membaca sejarah dengan mata.

Bacalah dengan hati.

Sebab sejarah bukan sekadar cerita tentang orang lain.

Sering kali sejarah adalah cermin yang sedang berbicara tentang diri kita sendiri.

Dan orang yang paling beruntung bukan yang mengetahui sejarah.

Tetapi yang mau mengambil pelajaran darinya.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 8 Juni 2026

Loading