KUTAI TIMUR – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) memperkuat koordinasi lintas stakeholder untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Kerja sama dilakukan dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) yang diketuai langsung oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, SE., M.Si.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarmo.SKM.M.AP, mengatakan bahwa koordinasi dengan stakeholder terkait saat ini berjalan maksimal dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kutai Timur.
“Kita kerja sama dengan OPD lainnya juga, sekarang kerjanya makin maksimal sesuai arahan Pak Wakil Bupati,” ujar Sumarmo.SKM.M.AP, Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa selain KPAD, Dinkes Kutim juga melibatkan berbagai pihak lain dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS, termasuk seluruh klinik swasta dan Puskesmas di wilayah Kutai Timur.
“Kita semua, klinik swasta, rumah sakit, kemudian puskesmas itu kita libatkan dan ada PDP namanya, Pengobatan Pendampingan,” jelasnya.
Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) merupakan program penting untuk memastikan bahwa penderita HIV/AIDS mendapat pengobatan yang berkelanjutan dan pendampingan yang memadai. Hal ini penting untuk menekan viral load dan mencegah penularan lebih lanjut.
Sumarmo.SKM.M.AP menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor juga melibatkan penyintas atau orang yang sudah terkena HIV tetapi sudah sadar dan menjalani pengobatan dengan baik. Mereka dilibatkan untuk membantu edukasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS.
“Kita libatkan konselor sama penyintas, orang yang kena HIV tapi sudah sadar itu kita libatkan,” ungkapnya.
Target nasional untuk eliminasi HIV pada tahun 2030 memiliki tiga target 90, yaitu 90 persen orang dengan HIV mendapat pengobatan, 90 persen yang diobati virusnya tersupresi, dan tidak ada diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.
“Target nasional 2030 itu eliminasi HIV. Jadi 90 orang dengan HIV itu mendapat pengobatan, 90 orang yang dengan HIV itu diobati tersupresi virusnya, dan tidak ada diskriminasi,” jelasnya.
Sumarmo.SKM.M.AP menekankan pentingnya menghilangkan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS karena hal ini seringkali membuat penderita enggan untuk berobat. Padahal, HIV dapat diobati meskipun tidak dapat disembuhkan total.
“Sekarang rata-rata orang diskriminasi. Padahal HIV itu tidak keturunan tapi karena pergaulan. Dan bisa diobati tapi tidak bisa sembuh, tapi bisa dipertahankan hidup,” ungkapnya.
Dengan koordinasi yang solid antara Dinkes, KPAD, klinik swasta, dan berbagai pihak terkait, diharapkan angka penyebaran HIV/AIDS di Kutai Timur dapat ditekan dan target eliminasi pada 2030 dapat tercapai. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

