KUTAI TIMUR – Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, menyoroti minimnya minat kontraktor untuk mengambil proyek semenisasi jalan di desanya. Para pengusaha justru lebih memilih mengambil proyek pembukaan atau peningkatan badan jalan yang dinilai kurang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Alwi menjelaskan bahwa kebutuhan masyarakat sebenarnya adalah jalan dengan semenisasi yang tahan lama, bukan sekadar pengerasan badan jalan dengan material batu. Namun realitanya, banyak proyek jalan dari Kabupaten yang masuk ke Sangkima hanya berupa peningkatan badan jalan.
“Saya lihat banyak yang masuk di Sangkima tidak mau mengambil semenisasi. Yang rata-rata maunya pembukaan badan jalan, peningkatan badan jalan. Kalau disuruh semenisasi kayaknya enggak mau,” ungkap Alwi dengan nada kecewa, Senin (17/11/2025).
Ia menduga ada faktor tertentu yang membuat kontraktor enggan mengambil proyek semenisasi, mungkin terkait dengan perhitungan biaya atau ketidakpastian status lahan apakah masuk APL (Area Penggunaan Lain) atau kawasan konservasi.
Padahal, menurut Alwi, proyek peningkatan jalan dengan material batu di Sangkima hanya bertahan beberapa bulan saja, terutama saat musim hujan. Kualitas batu yang kurang bagus ditambah beban kendaraan berat membuat jalan cepat rusak kembali.
“Kalau hanya peningkatan jalan itu di Sangkima boleh dikata hanya berapa bulan habis lagi batunya kalau musim hujan. Belum lagi kualitas batunya yang memang kurang bagus. Kalau musim hujan dilewati kendaraan, apalagi di sini sawit luar biasa, itu hancur,” jelasnya.
Sebaliknya, jalan yang sudah disemenisasi bisa bertahan bertahun-tahun tanpa kerusakan berarti. Oleh karena itu, Alwi menerapkan strategi khusus dalam pembangunan jalan di desanya.
“Teori saya di desa ini, kalau ada peningkatan badan jalan dengan batu, saya usahakan bagaimana sedikit-sedikit langsung saya semenisasi atasnya lagi. Karena kalau dibiarkan akan hancur lagi,” paparnya.
Bahkan ada kasus proyek peningkatan jalan yang baru selesai tahun 2023-2024, namun saat ditinjau ke lapangan seperti tidak pernah ada proyek karena sudah rusak. Proyek tersebut harus ditingkatkan lagi, yang sebenarnya bisa dihindari jika langsung disemenisasi sejak awal.
“Yang kita dapat yang sudah ditingkatkan tahun 2023, 2024 itu ditingkatkan lagi sekarang. Kenapa? Memang kalau ditinjau seperti tidak ada. Harus ditimbun lagi. Tapi kalau setelah ditingkatkan langsung disemenisasi, maka langsung awet,” tambahnya.
Alwi berharap pemerintah kabupaten melalui Dinas Pekerjaan Umum bisa membuat sistem anggaran yang mendorong kontraktor untuk mengambil proyek semenisasi. Ia menduga ada hubungan kerja sama antara pengusaha dengan pihak-pihak tertentu yang membuat proyek semenisasi kurang diminati.
“Kita enggak bisa pungkiri bagaimana antara pengusaha dengan orang-orang politik ini ada kerja sama. Tapi mereka rata-rata mengambil pembukaan badan jalan. Padahal yang dibutuhkan masyarakat semenisasi,” pungkasnya.
Sebagai solusi sementara, Pemerintah Desa Sangkima melakukan kerja sama dengan PT Pertamina untuk pemadatan jalan setelah pengaspalan agar hasilnya lebih baik dan tahan lama. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

