KUTAI TIMUR – Kajian ketahanan pangan rumah tangga yang dilakukan BRIDA Kutai Timur bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada memiliki empat tujuan utama yang dirancang untuk memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi ketahanan pangan di tingkat paling mikro.

Kepala BRIDA Kutim, Juliansyah, menjelaskan tujuan pertama kajian adalah menganalisis tingkat kecukupan konsumsi energi, keragaman, dan keseimbangan gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) pada tingkat rumah tangga di Kabupaten Kutai Timur.

“Analisis ini sangat penting karena ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan dan akses, tetapi juga kualitas konsumsi. Kami ingin mengetahui apakah rumah tangga di Kutim mengonsumsi makanan yang cukup energi dan seimbang gizinya,” ujar Juliansyah, Jum’at (14/11/2025) sore.

Tujuan kedua adalah menganalisis ketahanan pangan tingkat rumah tangga di Kabupaten Kutai Timur dari klasifikasi silang dua indikator ketahanan pangan, yaitu pangsa pengeluaran pangan dan kecukupan konsumsi energi. “Dengan dua indikator ini, kami dapat mengklasifikasikan rumah tangga menjadi empat kategori: tahan pangan, rentan pangan, kurang pangan, dan rawan pangan,” jelasnya.

Menurutnya, klasifikasi ini memberikan gambaran yang lebih detail tentang kondisi riil di lapangan dibandingkan hanya menggunakan satu indikator. “Ada rumah tangga yang secara ekonomi mampu tetapi konsumsi energinya kurang. Ada pula yang pengeluaran pangannya tinggi tetapi kecukupan energinya terpenuhi. Pola-pola seperti ini penting untuk dipahami agar intervensi tepat sasaran,” katanya.

Tujuan ketiga adalah teridentifikasinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Kutai Timur. “Kami menganalisis berbagai faktor, antara lain tingkat pendapatan, variabel demografi seperti umur dan jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan, tingkat urbanisasi berupa status perkotaan dan pedesaan, industrialisasi mencakup pekerjaan di sektor pertanian, industri, dan jasa, serta efektivitas program bantuan sosial yang sudah diimplementasikan pemerintah,” papar Juliansyah.

Ia menambahkan, dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang lebih efektif. “Misalnya, jika tingkat pendidikan ternyata berpengaruh signifikan, maka program edukasi gizi perlu diperkuat. Jika urbanisasi berpengaruh, maka intervensi di daerah perkotaan dan pedesaan harus dibedakan,” jelasnya.

Tujuan keempat adalah menyusun arahan kebijakan upaya penanggulangan tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Kutai Timur. “Tujuan akhir dari kajian ini adalah memberikan rekomendasi kebijakan yang konkret dan dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah,” kata Juliansyah.

Menurutnya, ruang lingkup kegiatan terdiri dari pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi serta investigasi mendalam (indepth investigation) pada tingkat rumah tangga dan desa yang mewakili wilayah perkotaan dan pedesaan.

“Hasil analisis dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di Kabupaten Kutai Timur,” jelasnya.

Juliansyah menegaskan, kajian ini sangat penting dalam konteks pembangunan daerah. “Ketahanan pangan yang baik menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia, mengurangi kemiskinan, menekan angka stunting, serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja,” pungkasnya. (Adv-Kominfo/Q)

Loading