KUTAI TIMUR – Pusat Pengembangan Administrasi Kebijakan dan Layanan Publik Universitas 17 Agustus Samarinda melakukan kajian strategis terkait implementasi program Pro RT Plus di Kabupaten Kutai Timur dengan alokasi dana mencapai Rp250 juta per RT. Laporan pendahuluan kajian tersebut diserahkan pada Jum’at (14/11/2025).

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutim, Juliansyah, menjelaskan bahwa kajian ini merupakan bagian penting untuk memastikan program Pro RT Plus dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Menurutnya, program Pro RT Plus merupakan pendekatan pembangunan yang holistik dan berkelanjutan, mencakup dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan.

“Kajian ini dilatarbelakangi oleh kontrak sosial Kepala Daerah dengan masyarakat, serta upaya pemberdayaan masyarakat untuk pembangunan. Kami melakukan kajian menyeluruh untuk mengidentifikasi kondisi riil di tingkat RT serta menyusun panduan teknis yang tepat,” jelasnya, Jum’at (14/11/2025) sore.

Juliansyah menyebutkan, kajian ini dirumuskan melalui beberapa masalah pokok yang perlu dijawab. Pertama, analisis kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur di tingkat RT. Hal ini didasari atas perlunya pemahaman kondisi faktual di lapangan sebagai basis perencanaan program.

Kedua, panduan teknis pencairan, penggunaan, dan pelaporan dana. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana menjadi kunci keberhasilan program ini. Masyarakat harus memahami bagaimana mekanisme pencairan dan pelaporan yang benar. Ketiga, Standard Operating Procedure (SOP) dan pengawasan, serta transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan.

“Kami menyusun SOP yang jelas agar tidak ada kebingungan dalam implementasi. Pengawasan juga harus dilakukan secara internal dan eksternal,” terangnya.

Keempat, potensi tantangan dan strategi mitigasi efektif dalam pelaksanaan program. Juliansyah menyebutkan bahwa setiap program pasti ada tantangannya. Oleh karena itu, BRIDA melakukan identifikasi berbagai kemungkinan hambatan dan menyiapkan strategi untuk mengatasinya. Ia menambahkan, metode penelitian yang digunakan adalah mix method, menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

“Kami ingin mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang fenomena di lapangan,” jelasnya.

Penelitian dilaksanakan di 18 kecamatan di Kabupaten Kutai Timur dengan jumlah populasi mencapai 448.796 jiwa. Perhitungan sampel, terangnya menggunakan teknik proporsional dari jumlah populasi dengan persentase 5 persen ke atas, menggunakan rumus Frank Lynch tahun 1974, sehingga diperoleh 400 sampel dengan tingkat kesalahan atau margin error 5 persen.

Juliansyah menegaskan, kajian ini akan menghasilkan rekomendasi implementasi yang berbasis data dan kebutuhan spesifik masyarakat. “Hasil kajian akan menjadi pedoman penting bagi Pemda dalam melaksanakan program Pro RT Plus secara efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Adv-Kominfo/Q)

Loading