KUTAI TIMUR – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Kutai Timur tengah menyusun roadmap kebijakan transportasi berkelanjutan sebagai bagian dari integrasi ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kutai Timur 2025-2029.
Kepala BRIDA Kutim, Juliansyah, mengatakan roadmap ini mencakup tiga arah lanjutan strategis, yakni pilot project bus listrik sekolah bagi pelajar di Sangatta Utara-Selatan, penyusunan kebijakan lintas sektor, dan integrasi ke RPJMD Kutai Timur 2025-2029.
“Roadmap ini merupakan panduan jangka menengah untuk mengembangkan sistem transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Kutai Timur. Kami ingin memastikan bahwa program-program yang kami kembangkan sejalan dengan visi pembangunan daerah,” ujar Juliansyah, Jum’at (14/11/2025) sore.
Menurutnya, pilot project bus listrik sekolah menjadi ujung tombak implementasi transportasi hijau di Kutai Timur. Project ini menurutnya adalah langkah awal yang strategis. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi untuk transportasi publik lainnya. Juliansyah menambahkan, penyusunan kebijakan lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program.
“Transportasi berkelanjutan tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan koordinasi dan sinergi antara dinas perhubungan, pendidikan, lingkungan hidup, BPKAD, dan stakeholder lainnya. Dengan masuk ke RPJMD, program ini akan memiliki payung hukum dan alokasi anggaran yang jelas untuk lima tahun ke depan,” ungkapnya sembari menekankan pentingnya integrasi program transportasi hijau ke dalam RPJMD 2025-2029.
Juliansyah menjelaskan, manfaat dari kajian dan roadmap yang disusun sangat luas. Bagi Pemda, ini menjadi dasar objektif untuk perencanaan dan kebijakan. BRIDA menurutnya akan memberikan data dan analisis yang komprehensif sebagai landasan pengambilan Keputusan.
Bagi masyarakat, imbuhnya, program ini memberikan kesempatan partisipasi dan akses transportasi aman-gratis, terutama bagi pelajar yang selama ini kesulitan dengan transportasi menuju sekolah. Untuk sektor pendidikan, program ini membantu mengurangi hambatan non-akademik. “Dengan adanya transportasi gratis, diharapkan angka putus sekolah dapat berkurang dan prestasi akademik meningkat,” kata Juliansyah.
Sementara bagi proses anggaran, kajian ini memberikan proyeksi biaya investasi dan operasional yang jelas, sehingga memudahkan perencanaan dan pengalokasian anggaran secara efisien dan tepat sasaran. Juliansyah berharap, kajian dan roadmap ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan kontribusi nyata. “Kami optimis program transportasi hijau ini akan membawa dampak positif bagi pendidikan, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat Kutai Timur,” pungkasnya. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

