BONTANG – Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di Kota Bontang masih belum banyak diterbitkan. Salah satu faktor utama yang mengemuka adalah tingginya biaya jasa gambar bangunan serta minimnya jumlah arsitek tersertifikasi di kota tersebut. Isu ini menjadi sorotan dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Selasa (2/7/2025).

Menurut Idrus, Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Bontang, banyak warga enggan mengurus izin PBG bukan karena mahalnya retribusi resmi, melainkan karena biaya gambar dari arsitek bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk rumah tipe 36.

“Padahal, distribusi izin hanya sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu. Tapi beban terbesar justru di biaya desain,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kelangkaan arsitek tersertifikasi di Bontang memperburuk situasi.

“Arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Bontang bahkan tak sampai lima orang,” ucapnya.

Lebih jauh ia menambahkan, kondisi tersebut membuat warga kesulitan mendapatkan layanan gambar dengan harga yang kompetitif.

Perwakilan arsitek yang hadir dalam forum tersebut menyampaikan bahwa tingginya biaya desain disebabkan oleh kolaborasi lintas profesi, seperti konsultan tanah dan struktur bangunan, yang turut menambah komponen harga. Namun mereka menyatakan kesediaannya untuk lebih fleksibel dalam menetapkan tarif, khususnya untuk rumah sederhana tipe 36 dan 45.

“Sebagai contoh, di Kukar biaya jasa gambar untuk rumah sederhana hanya sekitar Rp4 jutaan. Ini bisa menjadi pembanding dan acuan agar harga di Bontang bisa ikut menyesuaikan,” imbuhnha.

Menanggapi persoalan tersebut, DPMPTSP akan menyampaikan hasil forum ini kepada Wali Kota Bontang untuk mencari langkah konkret dalam mengatasi hambatan teknis dan biaya dalam penerbitan PBG. Salah satu opsi yang mungkin adalah mendorong kolaborasi antara Pemkot dan komunitas arsitek untuk subsidi atau skema khusus bagi bangunan sederhana.

“Tujuan kami adalah menciptakan sistem perizinan bangunan yang mudah diakses semua kalangan. PBG bukan hal yang menakutkan atau mahal, asalkan kita bisa merumuskan solusi bersama,” tutupnya.(Adv/NU)

Loading