KUTAI TIMUR – Warga Desa Senambah di Kutai Timur memiliki pandangan yang berbeda mengenai harga barang dibandingkan masyarakat perkotaan. Menurut Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur, Julfansyah, harga barang yang relatif lebih tinggi di desa akibat jarak ke kota yang jauh dan biaya transportasi tidak terlalu menjadi masalah bagi warga.

Bagi warga desa, yang terpenting adalah ketersediaan barang. Meskipun harga bahan bakar atau sembako lebih mahal, mereka tetap tenang selama barang tersedia.

“Yang namanya orang di desa disana itu tidak pernah berpikir mahal seperti di kota. Di kota itu seandainya BBM (Bahan Bakar Minyak) saja ya kalau sudah dinaikkan Rp500 saja sudah demo itu. Kalau yang namanya disana itu Rp10 ribu hingga Rp12 ribu (perumpaan harga tinggi) tidak pernah mengeluh yang penting barangnya ada, itu kuncinya,” terangnya dalam sesi wawancara di ruang kerjanya, pada Kamis (7 November 2024).

Julfansyah yang juga merupakan Ketua Komisi D tersebut menyampaikan bahwa mayoritas warga desa berprofesi sebagai petani dan pekebun, khususnya di sektor sawit, dan sebagian kecil di sektor perikanan. Ia juga menjelaskan masyarakat di desa tersebut mengelola kebun secara pribadi tanpa subsidi atau bantuan dari pemerintah.

Lebih lanjut, pria kelahiran 4 November 1967 tersebut memaparkan mata pencarian tetap di sana tebentuk oleh program pemerintah. Namun ia menegaskan kepada pemerintah daerah agar dapat mendukung serta memberikan bantuan kembali kepada warga di wilayah tersebut guna mempermudah warga di Desa Senambah dalam mencari nafkah.

“Nah, jadi itu yang perlu pemerintah menyiapkan untuk perlengkapan perikanan, pertanian, serta pekebunan guna mendukung hal di situ,” pungkasnya. (RH/Adv-DPRD)

Loading