KUTAI TIMUR – Arfan, yang kini dikenal sebagai Wakil Ketua II DPRD Kutai Timur, memulai perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan pada Agustus 1993. Ketika itu, Arfan tiba di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, dengan harapan besar dan tekad yang kuat meski tanpa modal dan pengalaman.

“Saat itu, saya datang dengan modal sepuluh jari tanpa pengalaman,” kenang Arfan, mengenang hari-hari pertamanya di daerah tersebut. Dengan hanya bermodalkan semangat dan kemauan untuk bekerja keras, Arfan memulai karirnya sebagai kuli angkut kayu dari hutan. “Saya datang hanya dengan modal nekat dan mau bekerja,” tambahnya.

Pekerjaan sebagai kuli kayu bukanlah tugas yang ringan. Selama dua tahun, Arfan menghadapi risiko besar dengan upah yang tidak sebanding dengan bahaya yang dihadapi. “Pekerjaan apapun yang penting halal,” ujarnya, menggarisbawahi prinsip yang selalu ia pegang. Meskipun upah yang diterima tidak memadai, Arfan tetap menjalani pekerjaan tersebut dengan penuh dedikasi.

Setelah melewati masa-masa berat sebagai kuli kayu, Arfan beralih profesi menjadi tukang ojek pada tahun berikutnya. Ia menggunakan motor sewaan untuk melayani masyarakat setempat selama setahun. Perubahan ini merupakan langkah awal menuju perubahan yang lebih besar dalam hidupnya.

Dalam wawancaranya, Arfan menekankan betapa pentingnya ketahanan dan tekad dalam meraih sukses. “Jiwa pejuang akan mencintai setiap tantangan. Jiwa pengecut mundur saat dihadapkan pada rintangan,” tegasnya, menggambarkan mentalitas yang membantunya menghadapi berbagai kesulitan di awal karirnya. (Adv-DPRD/One)

Loading