KUTAI TIMUR – Kerja keras tanpa pamrih dan keberhasilan Soeimah bersama rekan-rekanya yang tergabung dalam yayasan Ulin dalam menjaga keberlangsungan habitat Buaya Badas Hitam yang keberadaanya sudah masuk dalam kategori Critical Endangered (hewan terancam punah) membawanya mendapatkan penghargaan bergengsi Kalpataru 2023 kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementrian Lingkungan Hidup.

Ketua yayasan Ulin, Soeimah, kepada awak media melalui sambungan telepon mengaku, bangga, mengingat, perjuangannya menjaga habitat hewan dengan nama latin Crocodylus Siamensis yang hanya tinggal satu-satunya di dunia yang masih hidup ada di alam liar ini. Menurutnya tidak mudah, beragam tantangan di lapangan dihadapi oleh organisasi yang sudah berdiri sejak tahun 2009 ini.

“Dulu kami sampai harus roadshow memperkenalkan ini (Buaya Badas Hitam) ke setiap institusi untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan habitat ini. Namun, perlahan konsep yang kami tawarkan akhirnya diterima oleh mereka,” ujarnya.

Selain itu, kepedulian pemerintah terkait dukungan untuk terus menjaga keberlangsungan lingkungan, salah satunya habitat Buaya Badas Hitam ini juga sudah terlihat dari adanya regulasi yang sudah dikeluarkan baik oleh Pemerintah Daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) maupun oleh Pemerintah Pusat lewat Kementrian terkait konservasi dan lingkungan.

“Memang saat ini dampaknya belum dirasakan maupun terlihat secara langsung, namun pada akhirnya langkah ini akan menjadi bekal positif untuk keberlangsungan habitat Buaya Badas Hitam,” bebernya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Armin Nazar, mengatakan, Yayasan Ulin menjadi salah satu dari 21 nominasi secara nasional penerima penghargaan Kalpataru 2023 dan akan diberikan langsung oleh Menteri LH, Siti Nurbaya, di Auditorium Manggala Wanabakti Jakarta, pada tanggal 5 Juni mendatang.

“Ini menjadi sebuah kebanggan dan capaian yang luar biasa bagi kita semua, khususnya Kabupaten Kutai Timur. Dan, ini merupakan Kalpataru kedua yang pernah didapatkan, karena sebelumnya di tahun 2009 lalu, kita juga menerima kategori penyelamat lingkungan di Hutan Wehea, yang diterima oleh Pak Ledjie Taq,” ucap Armin didampingi Kabid Penataan dan Pengembangan Kapasitas DLH Kutim, Nurrahmi Asmalia.

Selain itu, dengan capaian ini, dirinya berharap menjadi motivasi bagi seluruh stakeholder untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, salah satunya menjaga keberlangsungan habitat hewan asli Kalimantan ini.

Diketahui, tahun ini, dari 21 nominator yang terpilih, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengirimkan dua wakilnya untuk menerima penghargaan Kalpataru, yakni Misman asal Kota Samarinda yang masuk dalam kategori Perintis Lingkungan dan Yayasan Ulin yang ada di Desa Kelinjau Ulu, Kecamatan Muara Ancalong kategori Penyelamatan lingkungan.(Tj/Adv-Kominfo)

Loading