KUTAI TIMUR – Masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) patut berbangga. Pasalnya Pesta Adat Budaya Lom Plai masuk Karisma Event Nasional (KEN) yang merupakan agenda nasional. Pesta Adat Budaya Lom Plai di Kecamatan Muara Wahau, merupakan budaya warisan turun temurun masyarakat Dayak Wehea di Kutim.
KEN adalah strategi kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI bersama Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder pariwisata. Dilaksanakan demi meningkatkan citra pariwisata Indonesia dan penggerak kebangkitan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif. KEN menjadi kumpulan acara berkualitas dari 34 provinsi di Indonesia. Tujuan diadakannya KEN sebagai sarana mempromosikan destinasi wisata di berbagai daerah melalui pagelaran festival yang menarik wisatawan untuk berkunjung.
Untuk masuk dalam daftar KEN ada lima aspek yang dinilai oleh Kemenparekraf RI. Meliputi ide atau gagasan (murni), potensipotensi pengembangan ekonomi kreatif, event management selanjutnya. Seni pertunjukan dan budaya serta strategi komunikasi dan media partner.
Bupati Ardiansyah Sulaiman yang hadir pada puncak perayaan Lom Plai menyebut pesta adat dan budaya asli Kutim ini menjadi pemicu bagi kegiatan budaya lainnya yang ada di Kutim guna mempromosikan potensi wisata di wilayahnya masing-masing.
Untuk itu ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan pesta adat dan budaya Lom Plai ini.
“Mari tiap daerah berlomba-lomba mempromosikan potensi wisatanya baik itu keindahan dan kekayaan hayati alamnya, budaya dan lainnya. Lom Plai menjadi barometer bagi desa-desa lainnya untuk bisa masuk ke kalender nasional,” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan olehnya bahwa kegiatan pesta adat budaya Lom Plai bisa menggairahkan sektor perekonomian terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Sedangkan Wakil Bupati, Kasmidi Bulang, turut menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak sehingga kegiatan ini sukses. Dari segi penyelenggaraan maupun dampak ekonomi yang dihasilkan. Dia menyebut, dengan hadirnya perwakilan dari Kemenparekraf RI di Lom Plai menunjukkan bahwa, ada adat istiadat atau budaya yang sudah ratusan tahun dan masih dipelihara kelestariannya.
“Kita sebagai bagian warga Kutim patut berbangga mampu menjaga dan merawat nilai-nilai kearifan lokal hingga saat ini. Lom Plai adalah kekayaan yang harus dijaga kelestariannya,” ungkap Kasmidi.
Kasmidi menjelaskan bahwa Lom Plai adalah sebuah ritual sakral sebagai media ungkapan rasa syukur. Berikutnya ungkapan terima kasih untuk pemeliharaan Yang Maha Kuasa khusus bagi warga Dayak Wehea atas panen padi dan penyertaan dalam kehidupan. Tradisi ini sudah turun temurun dan patut dijaga agar tetap lestari sampai ke generasi selanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nurullah, mengatakan bahwa, apa yang dinikmati masyarakat sekarang ini merupakan bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya. Diharapkan Lom Plai membawa dampak yang signifikan bagi pengembangan pariwisata di Kutim. Agar potensi wisata yang dimiliki mampu lestari dan menjadi kebanggaan nasional, diperlukan dukungan semua pihak. Yakni komitmen semua pihak, akademisi, pemerintah, masyarakat dan komunitas pemerhati adat dan budaya sangat diperlukan. (Fj/Adv-Kominfo)
![]()

