KUTAI TIMUR –Satuan Pendidikan Non Formal dan Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF-SKB) Sangatta Selatan juga terus memaksimalkan program belajar mengajar pada warga belajar di kecamatan tersebut. Layanan Cap Jempol diterapkan pada Pondok Pesantren (Ponpes) Darush Sholah yang berada di Kampung Kajang.
“Jumlah warga belajarnya sedikit, karena disamping ponpes sudah ada SD negeri. Tapi yang masih murni mondok dan tidak ikut SD negeri, pembelajarannya sepekan sekali pertemuan,” Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan (Disdik) Kutai Timur (Kutim) Achmad Junaidi.
Selain ponpes tadi, ada pula satu ponpes yang aksesnya sulit dijangkau, terutama saat musim hujan. Sedangkan program buta aksara masih ada. Situasinya tutor langsung mendatangi rumah warga agar dapat memberikan pembelajaran.
Achmad Junaidi mengakui memang masih ada warga yang belum mengenal huruf dan angka. Terutama daerah Kampung Melawan. Dia menyebut masalah anggaran menjadi kendala utama. Untuk itu dia saat ini sedang memperjuangkannya. Terlebih data warga belajar yang berada di SPNF-SKB tidak masuk dalam data pokok pendidikan (dapodik) dan rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). Saat ini program dimaksud dibiaya pusat melalui DAK (dana alokasi khusus) non fisik. (Adv-Kominfo/Fj)
![]()

