SAMARINDA — Ironi klasik keselamatan permukiman padat kembali memakan korban di Kota Samarinda. Akses gang sempit, kontur perbukitan yang sulit dijangkau, hingga minimnya sumber air di lokasi kejadian lagi-lagi menjadi benteng penghalang yang memperparah musibah kebakaran di Jalan Wolter Monginsidi, Gang 7A, kelurahan Dadi Mulya, kecamatan Samarinda Ulu, Kamis (29/10/2026) sore.
Akibat kendala medan tersebut, sedikitnya 12 unit rumah hangus menjadi arang dengan kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Petugas bahkan membutuhkan waktu hingga 1,5 jam untuk menundukkan jago merah.

Amuk api bermula sekitar pukul 15.10 Wita dari sebuah rumah kontrakan dua lantai yang diduga tengah ditinggal kosong oleh penghuninya. Dalam hitungan menit, api berkobar hebat dan merambat liar ke bangunan kayu di sekitarnya.
Keberanian Warga Berujung Luka Bakar
Di tengah kepanikan warga yang berhamburan menyelamatkan harta benda, keterbatasan alat pemadam membuat warga terpaksa bertaruh nyawa dengan peralatan seadanya. Nari, salah seorang warga terdampak, menceritakan detik-detik mengerikan saat ia nekat menerobos kepulan asap tebal demi menahan laju api.
“Awalnya saya lihat asap saja. Saya turun untuk melihat, ternyata di bawah sudah penuh api. Saya sudah tidak mampu lagi,” tutur Nari yang kepalanya ikut terbakar saat nekat memecahkan kaca untuk membuka jalur pemadaman.
Tak hanya Nari, musibah ini juga memakan banyak korban fisik lainnya. Tim Emergency Medical Team Info Taruna Samarinda (EMT-ITS), PMI Kota Samarinda, dan relawan ORCA harus bekerja ekstra mengevakuasi korban.
Aufa dari PMI Kota Samarinda melaporkan pihaknya menangani 5 warga yang mengalami sesak napas akut serta 1 korban luka robek yang harus dilarikan ke IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie. Sementara itu, Ardha dari relawan ORCA mencatat satu warga mengalami kecelakaan lalu lintas di sekitar lokasi dan seorang relawan pemadam sesak napas ditangani ditempat terapi menggunakan oksigen.
Evaluasi Penataan Permukiman dan Pasokan Air
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda, Hendra AH, tak menampik bahwa medan ekstrem perbukitan dan minimnya infrastruktur air menjadi ‘musuh utama’ timnya di lapangan.
“Kendalanya sangat sulit karena berada di perbukitan, jalannya sempit, dan air juga minim. Kami terpaksa mengandalkan suplai air dari intake PDAM yang berada di bagian atas lokasi,” terang Hendra.
Delapan unit armada pemadam dari empat posko dikerahkan ke lokasi. Namun, sulitnya manuver kendaraan di gang sempit membuat pemadaman berjalan dramatis sebelum akhirnya api berhasil dikendalikan.
Hingga Kamis sore, petugas masih membasahi puing-puing bangunan untuk pendinginan. Penyebab pasti kebakaran kini berada dalam penyelidikan aparat kepolisian, sementara belasan keluarga kini harus kehilangan tempat tinggal akibat musibah kebakaran yang selalu mengintai permukiman padat di Samarinda.(*/mn)
![]()

