TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 28–29

Oleh Masykur Sarmian

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ۝ أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci keridaan-Nya, maka Dia menghapus segala amal mereka. Atau apakah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?”

—QS. Muhammad Ayat 28–29

Penjelasan Tematik

Ayat 28–29 membawa kita semakin dalam ke wilayah yang tidak selalu terlihat oleh manusia: pilihan hati. Pada ayat sebelumnya, Allah menggambarkan manusia yang memberikan ketaatan kepada pihak yang membenci wahyu. Kini Allah menjelaskan akar yang membuat pilihan itu terjadi: mereka mengikuti sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah dan justru membenci keridaan-Nya.

اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ

“Mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah.”

Perhatikan kata اتَّبَعُوا—mereka mengikuti. Ini menunjukkan bahwa penyimpangan bukan selalu terjadi dalam satu langkah besar. Seseorang mengikuti sedikit demi sedikit: mengikuti keinginan, mengikuti lingkungan, mengikuti kepentingan, mengikuti tekanan, sampai akhirnya ia berada jauh dari jalan yang semula ia yakini.

Sebaliknya, Allah menyebut:

وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ

“Dan mereka membenci keridaan-Nya.”

Ini lebih dalam daripada sekadar tidak taat. Ada keadaan ketika seseorang merasa bahwa ketaatan kepada Allah justru mengganggu apa yang ia inginkan. Ia ingin agama menyesuaikan diri dengan keinginannya, bukan dirinya yang menyesuaikan diri dengan kehendak Allah.

Karena itu Allah berfirman:

فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Maka Dia menghapus amal-amal mereka.”

Ayat ini mengingatkan bahwa nilai amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya. Arah hati dan sikap terhadap Allah sangat menentukan.

Seseorang dapat melakukan banyak hal yang tampak baik di mata manusia, tetapi jika seluruh aktivitas itu dibangun di atas penolakan terhadap kebenaran, kesombongan, atau permusuhan terhadap petunjuk Allah, maka amal tersebut kehilangan nilai yang seharusnya.

Kemudian ayat 29 mengungkap lapisan yang lebih dalam:

أَضْغَانَهُمْ

“Kedengkian dan kebencian yang tersimpan dalam hati mereka.”

Allah mengetahui sesuatu yang manusia mungkin tidak tahu. Seseorang dapat tersenyum di hadapan orang lain, berbicara dengan kata-kata yang indah, bahkan tampak sangat santun, tetapi di dalam hatinya terdapat kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

“Apakah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?”

Ini adalah peringatan tentang exposure of hidden character. Karakter yang disembunyikan tidak akan selamanya tersembunyi. Dalam perjalanan hidup, tekanan, konflik, kekuasaan, dan kepentingan sering menjadi cermin yang menampakkan isi hati.

Dalam psikologi, kita mengenal konsep
implicit attitudes dan emotional leakage—sikap atau emosi yang berusaha disembunyikan dapat muncul melalui pilihan, bahasa tubuh, cara memperlakukan orang, dan keputusan yang dibuat ketika seseorang berada di bawah tekanan.

Al-Qur’an jauh lebih dalam: Allah bukan hanya mengetahui apa yang keluar, tetapi mengetahui apa yang tersimpan di dada.

Karena itu, penyakit hati harus disembuhkan sebelum ia menjadi tindakan. Dengki yang dibiarkan dapat menjadi fitnah. Kebencian yang dipelihara dapat menjadi permusuhan. Kesombongan yang tidak dikoreksi dapat menjadi kezaliman.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari ketika segala rahasia diuji dan disingkapkan.”
(QS. At-Tariq Ayat 9)

Ayat ini menjadi penguat yang sangat tepat: apa yang tersembunyi dalam diri manusia pada akhirnya akan mendapatkan tempat untuk ditampakkan.

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Al-Mulk Ayat 13)

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pembenahan kehidupan harus dimulai dari pembenahan pusat kendalinya: hati.

Pelajaran Kehidupan

Jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan amal, tetapi lupa memperbaiki sumber amal.

Kita dapat belajar berbicara dengan lembut, tetapi apakah hati kita juga lembut? Kita dapat terlihat rendah hati, tetapi apakah kita mampu menerima ketika orang lain lebih berhasil? Kita dapat berbicara tentang persaudaraan, tetapi apakah kita mampu mendoakan orang yang tidak kita sukai?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena penyakit hati sering kali tumbuh diam-diam.

Jika menemukan iri, segera lawan dengan doa dan syukur. Jika menemukan dendam, belajar memaafkan. Jika menemukan kesombongan, ingat bahwa semua yang kita miliki hanyalah amanah.

Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah memiliki penyakit, tetapi hati yang segera menyadari penyakitnya dan bersungguh-sungguh mengobatinya.

Renungan Peradaban

Setiap kerusakan sosial pada akhirnya memiliki akar psikologis. Ketika iri menjadi budaya, keberhasilan orang lain dianggap ancaman. Ketika dendam menjadi politik, kekuasaan berubah menjadi alat balas sakit hati. Ketika kebencian menjadi identitas kelompok, masyarakat kehilangan kemampuan untuk bekerja sama.

Karena itu, membangun peradaban tidak cukup dengan membangun sistem. Kita harus membangun manusia yang hatinya sehat.

Peradaban Qur’ani tidak hanya mengejar masyarakat yang tertib secara hukum, tetapi masyarakat yang memiliki hati yang bersih, karena hukum tanpa moral hanya melahirkan kepatuhan yang terpaksa.

Jika hati manusia dipenuhi dengki, sistem yang baik pun dapat disalahgunakan. Tetapi jika hati manusia dibangun dengan takwa, amanah, dan ihsan, sistem akan memiliki manusia yang menjaga dan menghidupkannya.

Pada akhirnya, Allah tidak hanya akan bertanya tentang apa yang tampak di tangan kita, tetapi juga tentang apa yang kita pelihara di dalam hati.

Sebab ada keburukan yang dilakukan dengan tangan, tetapi ada pula keburukan yang dipelihara dalam hati sampai akhirnya menguasai seluruh kehidupan.

Maka sebelum Allah menyingkapnya, mari kita singkap sendiri:
Apa yang sebenarnya sedang kita simpan di dalam hati?

Wallahu A’lam
Samarinda, 17 September 2026

Loading