TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 10
Oleh Masykur Sarmian
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka ? Allah telah membinasakan mereka dan bagi orang-orang kafir akan ada akibat seperti itu.”
—QS. Muhammad Ayat 10
Penjelasan Tematik
Setelah menjelaskan bagaimana manusia dapat membenci kebenaran hingga amalnya kehilangan nilai, ayat ini mengajak mereka keluar dari ruang kesombongan menuju ruang pembelajaran. Allah bertanya dengan nada yang menggugah: “Tidakkah mereka berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”
Perhatikan, Allah tidak hanya berkata “tidakkah mereka membaca?”, tetapi يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ — berjalan di bumi. Seolah-olah sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku; sejarah juga meninggalkan jejak yang dapat dilihat, direnungkan, dan dipelajari.
Reruntuhan sebuah peradaban sesungguhnya adalah arsip terbuka. Bangunan yang runtuh, kota yang ditinggalkan, kerajaan yang hilang, dan bangsa yang pernah berjaya tetapi kemudian lenyap semuanya menyimpan pertanyaan: apa yang membuat mereka jatuh?
Di sinilah Al-Qur’an memperkenalkan cara pandang yang sangat maju terhadap sejarah. Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama. Sejarah adalah laboratorium kehidupan manusia. Manusia diperintahkan melihat, mengamati, lalu mengambil pelajaran.
Dalam psikologi modern terdapat konsep collective memory, yaitu ingatan bersama yang membentuk cara suatu masyarakat memahami masa lalu dan identitasnya. Ada pula konsep historical learning, bahwa masyarakat yang mampu mempelajari kesalahan masa lalu memiliki peluang lebih besar untuk menghindari pengulangan kesalahan yang sama. Tetapi persoalannya, manusia sering mengalami normalcy bias—kecenderungan menganggap bahwa sesuatu yang buruk tidak akan terjadi pada dirinya hanya karena saat ini keadaan masih terlihat normal.
Inilah yang ingin dibongkar ayat ini. Jangan merasa sebuah bangsa akan selalu kuat hanya karena hari ini ia kuat. Jangan merasa sebuah kekuasaan akan selalu berdiri hanya karena hari ini ia memiliki banyak pengikut. Jangan mengira kemajuan material otomatis menjamin keselamatan sebuah peradaban.
Allah berfirman:
دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
“Allah telah membinasakan mereka.”
Ada hukum Allah yang bekerja dalam sejarah. Ketika kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, kezaliman, dan kerusakan moral mencapai batasnya, sebuah masyarakat dapat kehilangan fondasi yang membuatnya bertahan.
Tetapi ayat ini tidak mengajarkan kita untuk sekadar melihat kehancuran orang lain dengan rasa puas. Ia mengajak kita bertanya: jangan-jangan penyakit yang menghancurkan mereka sedang tumbuh dalam diri kita ?
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Pesan ayat ini sangat kuat jika disandingkan dengan firman Allah :
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
(QS. Al-Hasyr Ayat 2)
Kata fa’tabirū mengandung makna mengambil pelajaran dan menyeberangkan diri dari sebuah peristiwa menuju pemahaman yang lebih dalam. Sejarah tidak cukup dilihat; ia harus mengubah kesadaran.
Allah juga berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(QS. Ali ‘Imran Ayat 140)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada kejayaan dunia yang bersifat abadi. Kekuatan dapat berpindah, pengaruh dapat berubah, dan generasi dapat berganti. Karena itu, sebuah bangsa harus terus memperbaiki dirinya ketika berada dalam keadaan kuat, bukan menunggu sampai kehancuran datang.
Pelajaran Kehidupan
Jangan hanya belajar dari keberhasilan. Belajarlah juga dari kegagalan orang lain.
Ketika melihat seseorang jatuh karena kesombongan, jangan hanya berkata, “Sayang sekali.” Tanyakan, “Apakah benih kesombongan itu ada dalam diriku ?” Ketika melihat sebuah organisasi runtuh karena konflik internal, jangan hanya menyalahkan mereka. Tanyakan, “Apa yang harus aku cegah dalam organisasiku ?”
Orang bijak tidak membutuhkan seluruh pengalaman buruk untuk belajar. Ia dapat belajar dari pengalaman orang lain.
Begitu pula sebuah bangsa. Bangsa yang sehat tidak takut mengakui kesalahan sejarah. Ia justru menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk memperbaiki masa depan.
Renungan Peradaban
Setiap reruntuhan menyimpan pesan. Tetapi tidak semua manusia mampu membacanya. Ada bangsa yang melihat puing-puing masa lalu hanya sebagai objek wisata. Ada pula yang melihatnya sebagai peringatan tentang hukum kehidupan.
Peradaban yang sombong selalu merasa bahwa dirinya adalah pengecualian. Ia melihat kehancuran bangsa-bangsa sebelumnya, tetapi berkata dalam hati, “Itu tidak akan terjadi kepada kami.” Inilah jebakan sejarah yang sangat berbahaya.
Surat Muhammad ayat 10 mengajarkan bahwa kekuatan tidak menjamin keabadian. Yang membuat sebuah peradaban bertahan bukan hanya tembok yang kokoh, tentara yang kuat, ekonomi yang besar, atau teknologi yang maju, tetapi kualitas moral manusia yang mengelolanya.
Karena itu, jangan hanya bertanya mengapa sebuah peradaban runtuh. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Nilai apa yang dahulu mereka tinggalkan sehingga mereka kehilangan alasan untuk tetap bertahan?”
Dan setelah itu, tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah kita sedang mengulanginya?”
Wallahu A’lam
Samarinda, 6 September 2026
![]()

