Kurniawati, S.S., M.Hum.

Dosen Universitas Islam Corodoba

Banyuwangi

 

Kalau membicarakan bahasa Gen Z, kita biasanya sibuk dengan kosakatanya: slang, istilah viral, singkatan, kata yang diplesetkan, atau kata lama yang tiba-tiba memiliki arti baru. Media sosial kemudian menjadi semacam “kamus” berjalan untuk mengenali bahasa Gen Z. Namun, ada satu hal yang sering luput. Bahasa bukan hanya soal kata, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyusun kalimat untuk membicarakan kehidupan. Karena itu, saya tertarik pada dua kata yang sebenarnya sangat biasa dalam bahasa Inggris: have dan haven’t. Kita sudah mengenalnya sejak lama. Have berarti punya atau memiliki, sedangkan haven’t merupakan bentuk negatifnya. Selesai? Seharusnya tidak. Ketika melihat bagaimana have dan haven’t digunakan dalam korpus, muncul pertanyaan yang lebih menarik: sebenarnya apa yang kita “punya”, apa yang tidak kita “punya”, dan mengapa perbedaan itu penting?

Dari “Punya” ke “Punya Akses”

Secara tata bahasa, have memang sederhana. Kita bisa mengatakan I have a car, I have a job, atau I have experience. Namun, coba perhatikan apa yang mengikuti kata tersebut: mobil, pekerjaan, pengalaman, pendidikan, kesempatan, bahkan akses. Pada titik itu, have tidak lagi sekadar berkaitan dengan kepemilikan. Memiliki pendidikan berarti memiliki peluang tertentu. Memiliki pengalaman kerja dapat menjadi modal untuk memperoleh pekerjaan berikutnya. Memiliki akses internet berarti memiliki kesempatan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Memiliki koneksi bahkan bisa berarti memiliki pintu masuk menuju kesempatan yang sebelumnya tertutup. Jadi, “punya” dalam kehidupan modern tidak selalu berarti memiliki barang. Kadang-kadang, “punya” berarti punya akses, dan akses tidak pernah benar-benar netral.

 

Lalu Bagaimana dengan “Haven’t”?

Kalau have membawa kita pada soal kepemilikan, haven’t membawa kita pada soal ketiadaan. I haven’t got a job memang dapat diterjemahkan sederhana sebagai “Saya tidak punya pekerjaan”. Tetapi apakah persoalannya benar-benar sesederhana itu? Tidak punya pekerjaan berarti tidak punya penghasilan, bisa berarti tidak memiliki keamanan ekonomi, bahkan dapat mempersempit kesempatan untuk memperoleh pekerjaan berikutnya. Begitu pula I haven’t had the opportunity. Kita bisa menerjemahkannya sebagai “Saya belum mendapat kesempatan”, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa belum? Apakah karena belum mencoba, tidak tertarik, atau memang kesempatan itu tidak pernah tersedia? Di sinilah bahasa mulai memperlihatkan sesuatu yang lebih besar. Apa yang terdengar seperti “tidak punya” secara individual kadang-kadang berkaitan dengan tidak punya akses secara sosial.

 

Kita Hidup dalam Dunia yang Terus Menghitung “Punya”

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari. Kita sering menilai seseorang melalui apa yang mereka punya: gelar, pekerjaan bagus, rumah, mobil, pengalaman, koneksi, uang, atau pengikut di media sosial. Media sosial membuat urusan “punya” semakin terlihat. Setiap hari kita melihat siapa yang bisa kuliah di luar negeri, mendapat pekerjaan impian, bepergian, membeli gawai terbaru, atau menjalani gaya hidup yang tampaknya lebih menyenangkan. Tanpa sadar, have dan haven’t berubah menjadi bahasa perbandingan sosial: mereka punya, saya tidak. Mereka mendapat kesempatan, saya tidak. Mereka bisa, saya belum tentu bisa. Di sinilah persoalan have/haven’t menjadi menarik dalam kehidupan Gen Z. Bukan karena Gen Z menemukan tata bahasa baru, tetapi karena mereka hidup dalam lingkungan digital yang membuat perbedaan antara “punya” dan “tidak punya” semakin mudah dilihat, dibandingkan, dan bahkan dipamerkan.

Kalau Begitu, Apa Hubungannya dengan ELT?

Hal ini menjadi penting bagi pembelajaran bahasa Inggris. Di kelas, kita sering mengajarkan have melalui contoh sederhana seperti I have a car, I have a house, atau I have two brothers. Tidak ada yang salah dengan contoh tersebut karena guru memang sedang mengajarkan tata bahasa. Namun, bahasa yang kita ajarkan selalu hadir bersama contoh kehidupan. Pertanyaannya: kehidupan siapa yang kita jadikan contoh? Tidak semua siswa memiliki mobil, tinggal di rumah sendiri, mempunyai akses teknologi yang sama, atau memiliki kesempatan untuk bepergian. Karena itu, mungkin kita perlu sedikit mengubah cara melihat contoh tata bahasa. Bukan berarti setiap pelajaran have/haven’t harus berubah menjadi ceramah tentang kemiskinan atau ketimpangan. Tidak. Kita hanya perlu membuat grammar lebih dekat dengan kehidupan nyata. Contoh seperti I don’t have my own car, I use public transportation, I have a university degree, but I haven’t found a stable job, atau I haven’t had the opportunity to travel abroad tetap mengajarkan grammar, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman hidup setiap learner tidak seragam. Di situlah ELT dapat menjadi lebih manusiawi: bahasa dipelajari bukan di ruang kosong, tetapi dalam kehidupan yang benar-benar dijalani siswa.

 

Grammar yang Diam-Diam Membawa Kita ke Masalah Sosial

Pada akhirnya, persoalannya bukan pada have atau haven’t. Kedua bentuk itu sudah lama ada dalam bahasa Inggris. Yang menarik adalah apa yang terjadi ketika grammar tersebut digunakan untuk membicarakan kehidupan manusia. Dari have kita sampai pada “punya”. Dari “punya” kita sampai pada akses. Dari akses kita sampai pada kesempatan. Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar: mengapa sebagian orang mendapatkannya dengan mudah, sementara sebagian lainnya tidak? Karena itu, mungkin kita perlu berhenti sebentar dari perdebatan tentang “Kamus Gen Z” dan mulai memperhatikan grammar yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, persoalan sosial tidak selalu muncul melalui kata-kata besar seperti inequality, privilege, atau deprivation. Kadang-kadang, persoalan itu bersembunyi dalam kata yang sangat sederhana: have dan haven’t. Punya atau tidak punya. Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi sekadar what do you have?, tetapi: Who gets to have it—and who doesn’t?

Loading