SAMARINDA — Rumah Literasi Pelita menggelar Pelatihan Membaca Nyaring dengan mengusung tema “Membaca Nyaring, Nyata Dampaknya: Menguatkan Karakter dan Kebinekaan Anak Melalui Buku Cerita”, Sabtu (29/8/2026), di Aula Lantai 2 Kelurahan Pelita, Samarinda.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WITA tersebut dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur diwakili Kasubag Umum Rahmad Hidayat, S.Kom. Kehadiran Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dalam kegiatan tersebut turut memberikan penguatan terhadap pentingnya gerakan literasi yang melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun budaya membaca sejak dini.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya orang tua, mengenai pentingnya membangun budaya literasi dari lingkungan keluarga. Lebih dari sekadar meningkatkan kemampuan membaca, kegiatan membaca nyaring juga dipandang dapat menjadi ruang interaksi antara orang tua dan anak untuk menanamkan nilai-nilai karakter, mengenalkan keberagaman, serta membangun komunikasi yang positif.
Kegiatan diikuti oleh ibu-ibu masyarakat sekitar Kelurahan Pelita dengan peserta 70 orang dari anggota komunitas perempuan suka belajar, Rumah Literasi Pelita, penggiat posyandu se kelurahan Pelita, dan aktivis PKK di lingkungan RT dan Kelurahan Pelita Samarinda Ilir, khususnya para orang tua yang berada di lingkungan Rumah Literasi Pelita. Para peserta mendapatkan pembekalan secara bertahap mengenai pendidikan karakter, pentingnya membaca nyaring, teknik membaca nyaring, hingga praktik langsung membaca buku cerita bersama.

Rangkaian materi dirancang saling berkaitan. Peserta terlebih dahulu diajak memahami kebutuhan anak dari sisi karakter dan kebinekaan, kemudian diperkenalkan dengan manfaat membaca nyaring, sebelum akhirnya memperoleh keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kegiatan bersama anak di rumah.
Membaca Nyaring sebagai Jalan Menanamkan Karakter
Sesi pertama menghadirkan Faridamiaty, S.Pd., Trainer Fasilitator Kehidupan JALANIN KALTIM, yang membawakan materi “Menyentuh Hati Anak, Menumbuhkan Karakter”.
Pada sesi ini, peserta diajak melihat kembali bahwa pendidikan anak tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Anak juga perlu dibimbing untuk mengenal nilai-nilai kebaikan, belajar memahami perasaan, menghargai orang lain, bertanggung jawab, serta mampu hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan karakter yang beragam.
Karakter anak dibangun melalui proses yang berlangsung terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pertama tempat anak belajar mengenai nilai, sikap, kebiasaan, dan cara berinteraksi dengan orang lain.
Buku cerita dapat menjadi salah satu media yang dekat dengan dunia anak. Melalui tokoh dan alur cerita, anak dapat diajak mengenali berbagai situasi kehidupan, memahami perasaan tokoh, membedakan perilaku baik dan kurang baik, serta belajar mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa.
Dalam konteks tersebut, membaca nyaring tidak hanya dipandang sebagai kegiatan literasi, tetapi juga sebagai kesempatan bagi orang tua untuk menyentuh hati anak melalui cerita.
Membangun Kesadaran Pentingnya Membaca Nyaring
Materi kedua disampaikan oleh Hesti Suci Mawarni, S.KM., Certified Trainer Read Aloud dari Komunitas Read Aloud Samarinda, dengan tema “Mengapa Indonesia Perlu Membaca Nyaring”.
Pada sesi ini, peserta diajak memahami bahwa budaya membaca perlu ditumbuhkan sejak anak berada pada usia dini. Kebiasaan membaca tidak selalu harus dimulai dengan aktivitas yang rumit. Orang tua dapat memulainya melalui kegiatan sederhana, salah satunya dengan membacakan buku cerita secara rutin kepada anak.
Membaca nyaring memberikan kesempatan kepada orang tua untuk hadir secara utuh bersama anak. Ketika orang tua membacakan cerita, terjadi proses interaksi yang tidak hanya melibatkan buku, tetapi juga suara, ekspresi, perhatian, percakapan, dan respons anak.
Kegiatan tersebut dapat menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan sehingga buku tidak hanya dipandang sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari momen kebersamaan antara orang tua dan anak.
Melalui cerita, anak juga dapat diperkenalkan pada berbagai pengalaman dan perspektif. Anak dapat mengenal tokoh dengan karakter yang berbeda, latar kehidupan yang beragam, serta nilai-nilai yang mengajarkan tentang saling menghargai dan hidup berdampingan.
Dengan demikian, membaca nyaring dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkenalkan nilai kebinekaan kepada anak sejak usia dini.
Tidak Sekadar Membacakan Buku
Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi “Teknik Membaca Nyaring” yang disampaikan oleh Finta Eka Wulandari, S.Psi., Certified Trainer Read Aloud dari Komunitas Read Aloud Samarinda.
Sesi ini memberikan pengalaman yang lebih praktis kepada peserta. Mereka diperkenalkan pada berbagai teknik yang dapat membuat kegiatan membaca nyaring menjadi lebih hidup, menarik, dan sesuai dengan karakter anak.
Peserta belajar bahwa membacakan buku tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Orang tua dapat menggunakan ekspresi wajah, perubahan intonasi, gestur tubuh, maupun variasi suara untuk menggambarkan karakter yang terdapat dalam cerita.
Selain itu, anak juga perlu dilibatkan selama proses membaca. Orang tua dapat memberikan pertanyaan sederhana, mengajak anak menebak kelanjutan cerita, meminta anak mengamati gambar, atau memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya.
Pendekatan tersebut membuat anak tidak hanya menjadi pendengar pasif. Anak diberi ruang untuk berinteraksi, berpikir, bertanya, dan menghubungkan cerita dengan pengalaman yang mereka miliki.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memilih buku yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Pemilihan buku menjadi salah satu bagian penting agar kegiatan membaca dapat berlangsung secara menyenangkan dan memberikan pengalaman yang sesuai bagi anak.
Dari Cerita Menuju Percakapan
Salah satu hal yang ditekankan dalam pelatihan adalah bahwa proses membaca nyaring tidak harus berhenti ketika halaman terakhir buku selesai dibacakan.
Setelah membaca, orang tua dapat melanjutkan dengan percakapan sederhana bersama anak. Anak dapat diajak menceritakan kembali bagian yang disukai, menyampaikan perasaan terhadap tokoh dalam cerita, memberikan pendapat mengenai suatu peristiwa, atau menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri.
Proses tersebut membuka ruang bagi anak untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan. Orang tua pun dapat lebih memahami cara anak melihat sebuah persoalan.
Cerita juga dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan berbagai nilai kehidupan secara lebih ringan. Misalnya, ketika sebuah cerita menampilkan tokoh yang berbeda suku, budaya, kebiasaan, atau karakter, orang tua dapat mengajak anak berbicara mengenai pentingnya menghargai perbedaan.
Dengan cara tersebut, nilai karakter dan kebinekaan tidak hanya disampaikan dalam bentuk nasihat, tetapi dapat dikenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan dunia anak.

Peserta Praktik Langsung Membaca Nyaring
Setelah memperoleh pembekalan dari para pemateri, peserta diberikan kesempatan untuk melakukan praktik membaca nyaring secara langsung.
Praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mencoba menerapkan teknik yang telah dipelajari.
Dalam praktik tersebut, peserta berlatih membawakan cerita dengan ekspresi dan intonasi, membangun interaksi, serta melibatkan anak dalam proses membaca. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk saling belajar dan mendapatkan pengalaman baru.
Melalui praktik tersebut, diharapkan peserta memiliki kepercayaan diri untuk membawa kebiasaan membaca nyaring ke rumah masing-masing.
Sebab, keberlanjutan budaya literasi tidak hanya ditentukan oleh kegiatan yang dilakukan di sekolah atau ruang-ruang komunitas. Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membangun kebiasaan anak.
Dimulai dari Rumah, Bertumbuh di Masyarakat
Pelatihan Membaca Nyaring yang diselenggarakan Rumah Literasi Pelita menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan kegiatan literasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Orang tua tidak harus memiliki fasilitas yang lengkap untuk mulai membangun kebiasaan membaca. Dengan buku yang tersedia, waktu yang disediakan secara rutin, serta kemauan untuk hadir dan berinteraksi bersama anak, kegiatan membaca dapat menjadi bagian dari rutinitas keluarga.
Kebiasaan sederhana seperti duduk bersama, memilih buku cerita, membacakan cerita, kemudian berdiskusi dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak.
Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Anak mendapatkan kesempatan untuk didengarkan, sementara orang tua dapat mengenali cara berpikir, minat, dan respons anak melalui percakapan yang muncul dari cerita.
Rumah Literasi Pelita berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan satu hari, tetapi dapat dilanjutkan menjadi kebiasaan di rumah dan berkembang menjadi gerakan literasi di lingkungan masyarakat.
Melalui budaya membaca yang tumbuh dari keluarga, anak diharapkan tidak hanya memiliki ketertarikan terhadap buku, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter, mampu menghargai perbedaan, terbuka terhadap keberagaman, serta memiliki kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis.
Membangun Ekosistem Literasi yang Berkelanjutan
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen Rumah Literasi Pelita untuk terus menghadirkan ruang belajar dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana seseorang memahami informasi, berkomunikasi, berpikir, mengambil keputusan, serta berinteraksi secara positif dengan lingkungan.
Karena itu, penguatan literasi yang melibatkan keluarga menjadi langkah penting untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara komunitas, keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan literasi, diharapkan semakin banyak anak mendapatkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna.
Pelatihan Membaca Nyaring ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam budaya literasi dapat dimulai dari langkah yang sederhana: membuka sebuah buku, membacakan cerita, mendengarkan anak, dan menghadirkan ruang percakapan di dalam keluarga.
Rumah Literasi Pelita berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari semakin banyak keluarga yang menjadikan membaca nyaring sebagai bagian dari rutinitas bersama anak. Dengan demikian, buku bukan hanya menjadi jendela pengetahuan, tetapi juga menjadi jembatan untuk menanamkan karakter, merawat kebinekaan, dan menguatkan hubungan antara orang tua dan anak.(Inmas Devi)
![]()

