Catatan: Usamah Bima Shafa

SUASANA hangat dan penuh kebaikan tampak menghiasi kediaman Ustadz Taufik Hidayat, Lc., MA., Ph.D., di Perumahan Erlisa, Samarinda, pada Jumat malam (28/8/2026). Majelis kajian yang dipimpin langsung oleh akademisi Universitas Mulawarman yang juga menjabat sebagai Anggota Dewan Pengawas Syariah Bank Kaltimtara sekaligus Ketua IKADI Kota Samarinda ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting serta kalangan muda.

Diskusi yang dimulai pukul 21.00 WITA tersebut terasa kian berbobot dengan kehadiran tokoh-tokoh senior. Di antaranya tampak mantan pejabat Kementerian PUPR Provinsi Kaltim, Ir. Budi Leksono, M.T., serta Notaris sekaligus PPAT aktif di Kota Samarinda, Silvanus Deddy Nugroho, S.H., M.Kn., beserta sejumlah jamaah muda lainnya.

Keutamaan Belajar Al-Qur’an dan Kelurusan Niat

Kajian dibuka dengan pembahasan menyejukkan mengenai ganjaran bagi umat Islam yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an. Ustadz Taufik menjelaskan bahwa seseorang yang berjuang melafalkan ayat suci meski belum lancar, sejatinya mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala membaca dan pahala atas kesungguhan usahanya.

Di era digital saat ini, kemudahan menuntut ilmu sudah terbuka sangat luas berkat dukungan berbagai aplikasi teknologi. Menurutnya, kunci utama dalam menggapai keberkahan ilmu terletak pada kelurusan dan kesungguhan niat.

Pelajaran Hadis Arba’in: Seni Mengendalikan Amarah
Perbincangan kemudian berlanjut pada pembahasan Hadis Arba’in An-Nawawi ke-16 mengenai larangan marah. Mengacu pada riwayat Imam Bukhari (No. 6116), hadis tersebut mengisahkan seorang lelaki yang meminta nasihat kepada Rasulullah SAW, namun hanya dibalas dengan jawaban singkat, “Janganlah engkau marah.” Meski diulang berkali-kali, jawaban Rasulullah tetap sama.

Petikan dialog ini menegaskan bahwa seorang mukmin sepatutnya mampu mengendalikan diri dari dorongan amarah. Kendati marah adalah sifat alami manusia, seni mengelolanya menjadi ujian yang sesungguhnya.

Dalam sesi diskusi, langkah bijak untuk menghadapi potensi emosi negatif adalah dengan menghindar atau melangkah pergi. Namun, jika situasi menuntut ketegasan, kemarahan harus disalurkan secara bijak—terukur, bermakna, dan terarah—bukan sekadar pelampiasan emosi yang merusak.

Hal senada dibagikan oleh Ir. Budi Leksono, M.T., yang berpengalaman sebagai mantan Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Kaltim. “Dulu di kantor, ketika saya harus menegur bawahan, amarah saya sudah terpetakan. Saya jelaskan dengan jernih letak kesalahannya agar mereka paham dan bisa berkembang jadi lebih baik,” tuturnya.

Lecutan Semangat dari Tokoh Senior

Menjelang akhir majelis, Budi Leksono turut menyelipkan pesan motivasi bagi generasi muda yang hadir. Mengambil teladan pengusaha sukses almarhum Bob Sadino, ia berpesan agar anak muda tidak menyia-nyiakan waktu.

“Mumpung masih muda, berjuanglah semaksimal mungkin. Ambil setiap kesempatan dan buang jauh-jauh rasa gengsi, selama apa yang kita usahakan itu halal dan berorientasi pada kebaikan,” pungkasnya, menutup malam kebersamaan dengan lecutan semangat yang berkesan bagi para jamaah.(*)

Loading