Oleh: Ekky Yudistira

BAGI seorang pria yang sudah berkeluarga, hidup bukan lagi soal menaklukkan satu gunung, melainkan tiga sekaligus: Puncak Ekonomi, Puncak Usaha, dan Puncak Keluarga. Ketiganya berdiri sejajar, saling menuntut, saling mengunci dan tak satu pun boleh ditinggalkan tanpa konsekuensi. Ini bukan pilihan, ini prasyarat. Syarat minimal agar rumah tangga tetap berdiri, agar anak tetap bisa sekolah, agar dapur tetap mengepul meski zaman semakin pelit memberi ruang bernapas.

Namun dunia hari ini tidak sedang berbaik hati pada siapa pun yang mencoba mendaki dengan cara yang jujur apalagi bagi mereka yang hidup di daerah seperti Kutai Timur, tempat nasib rumah tangga masih sangat bergantung pada denyut satu-dua sektor yang kini sama-sama megap-megap. Kondisi politik yang gaduh tanpa arah, ekonomi yang naik-turun seperti roda rusak, dan tuntutan pekerjaan yang tak pernah berhenti berbenturan. Semua itu datang bersamaan, saling menghimpit dari segala penjuru. Jika satu dari tiga puncak itu goyah, akan lahir ketimpangan yang merembes ke seluruh sisi kehidupan. Tapi bagaimana jika bukan satu yang goyah, melainkan ketiganya sekaligus ambruk, dan pria itu justru terjerembab di titik terendah, jauh dari ketiga puncak yang ia kejar? Apa yang tersisa dari seorang lelaki di titik itu?

Pria semacam ini tak ubahnya mesin tua yang dipaksa terus bergerak. Sparepart-nya usang dimakan waktu dan lelah yang tak pernah benar-benar diistirahatkan. Olinya sudah lewat masa pakai, kehilangan daya lumas untuk meredam gesekan batin yang setiap hari terjadi antara kewajiban dan keterbatasan. Bahan bakarnya pun tak lagi murni, bercampur kecemasan, utang yang menumpuk, dan harapan yang terus-menerus diperas hingga nyaris kering.

Tapi mesin itu tetap harus menyala. Sebab berhenti bukan pilihan ketika ada nama-nama yang menggantung di pundaknya: istri yang menunggu kepastian, anak yang menagih masa depan, pekerjaan yang menagih deadline, dan cita-cita yang tak pernah izin untuk padam. Ia bergerak bukan karena mesinnya masih prima, tapi karena berhenti berarti seluruh sistem yang ia topang ikut runtuh.

Metafora mesin usang itu bukan sekadar kiasan kosong. Ia punya wujud nyata dalam neraca keuangan daerah sendiri. Tahun anggaran 2026, APBD Kutim tercatat anjlok hampir separuh, dari sekitar Rp9,8 triliun menjadi hanya Rp5,1 triliun, imbas pemangkasan Transfer ke Daerah dari pusat. Dan angka itu pun masih terlalu manis untuk disebut kondisi riil, sebab setelah dipotong kewajiban pembayaran utang progres proyek tahun sebelumnya, anggaran yang benar-benar bisa dipakai untuk membiayai program diperkirakan hanya tersisa sekitar Rp4,6 triliun. Wajar jika pejabat daerah sendiri mengakui kondisi ini membuat langkah pemerintah tertatih-tatih menyelesaikan janji yang telanjur diucapkan.

Getarannya sampai ke meja gaji para abdi negara. Karena total APBD ambruk sekitar 60 persen, Tunjangan Penghasilan Pegawai bagi ASN pun ikut dipangkas hingga sekitar 65 persen, menyisakan angka yang jauh dari kata layak untuk menopang kebutuhan satu keluarga di tengah harga-harga yang tak pernah benar-benar turun. Ini baru dari sisi belanja pemerintah, belum lagi tekanan yang datang dari sektor yang selama ini jadi urat nadi ekonomi Kutim.

Batu bara, yang bertahun-tahun jadi tumpuan hidup ribuan keluarga di kabupaten ini, sedang diguncang kebijakan pengetatan kuota produksi nasional. Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026 memangkas target produksi Kutim, dari semula dipatok delapan juta ton merosot tajam menjadi hanya sekitar empat juta ton. Serikat pekerja memperkirakan dampaknya tidak main-main: sekitar 12 ribu pekerja tambang di Kutai Timur disebut-sebut terancam kehilangan pekerjaan akibat kebijakan ini, dan ancaman itu tidak berhenti di gerbang tambang saja. Dinas tenaga kerja daerah pun mengakui, dari enam perusahaan batu bara besar yang beroperasi di Kutim, lima di antaranya sudah merasakan tekanan langsung dari kebijakan tersebut.

Efek berantainya menjalar ke mana-mana: pemilik rumah kos yang biasa disewa pekerja tambang, sopir angkutan yang menggantungkan hidup dari lalu-lalang truk, pedagang pasar, hingga usaha makan-minum kecil di sekitar area tambang, semua ikut terseret dalam pusaran yang sama. Di titik inilah sosok pria yang tadi digambarkan sebagai mesin usang menemukan konteksnya yang paling telanjang: ia bukan hanya berjuang melawan bebannya sendiri, tapi juga melawan struktur ekonomi daerah yang rapuh, yang selama puluhan tahun dibangun di atas satu komoditas dan kini goyah begitu keran dari pusat sedikit saja diperketat. Bebannya bukan lagi persoalan individu, melainkan cermin dari ketimpangan fiskal dan ketergantungan ekonomi yang sudah lama jadi penyakit struktural di Kalimantan Timur.

Pria yang biasanya kalem dan lembut, yang dikenal sabar menghadapi apa pun, perlahan bisa berubah menjadi sosok yang bahkan tak pernah tergambar sempurna dalam kisah fantasi mana pun. Bukan karena ia jahat. Tapi karena beban yang bertumpuk di pundaknya sudah melampaui kapasitas manusia biasa untuk memikulnya, lebih berat dari palu milik dewa petir sekalipun, yang bahkan tidak semua yang mengaku kuat sanggup mengangkatnya.

Diamnya bukan lagi ketenangan. Diamnya adalah gema kebisingan yang mampu mengacaukan sinyal komunikasi paling stabil sekalipun sebab di balik diam itu, ribuan kalkulasi, kekhawatiran, dan pertanyaan tanpa jawaban sedang berkecamuk. Ketenangan yang dulu ia bawa ke mana-mana, yang membuat orang di sekitarnya merasa aman, kini berubah wujud menjadi badai yang menyimpan potensi menyapu habis apa saja yang ada di jangkauannya, termasuk dirinya sendiri.

Yang membuat situasi ini kian berat adalah kenyataan bahwa semua beban itu tidak bisa dipilah dan diselesaikan satu per satu secara sederhana. Ekonomi yang terpuruk memengaruhi usaha. Usaha yang goyah mengancam ketahanan keluarga. Keluarga yang cemas menambah beban moral. Beban moral itu kemudian menuntut ketegaran yang justru semakin menipiskan energi untuk bekerja. Semua berputar dalam lingkaran yang saling menguatkan satu sama lain bukan untuk membangun, tapi untuk menghimpit.

Di sinilah letak kesalahan cara pandang banyak orang terhadap laki-laki yang sedang berjuang: dianggap harus selalu kuat, selalu tenang, selalu punya jawaban. Padahal kekuatan itu bukan sesuatu yang tak terbatas. Ada titik di mana kekuatan itu hanya topeng, dipertahankan bukan karena masih ada tenaga, melainkan karena tidak ada pilihan lain selain terus memakainya.

Namun di tengah semua keretakan itu, ada satu hal yang tetap bertahan: gerak. Mesin yang usang itu tetap berjalan, betapapun tertatih, karena di ujung jalan masih ada cita-cita yang ingin digapai, rumah yang lebih layak, anak yang tumbuh tanpa kekurangan, usaha yang bisa berdiri tegak, dan keluarga yang bisa tersenyum tanpa dibayangi kecemasan.

Barangkali inilah bentuk keberanian yang paling sunyi: terus melangkah bukan karena yakin akan sampai, melainkan karena berhenti akan menghancurkan lebih banyak hal daripada terus mencoba. Di titik terendah di antara tiga puncak itu, seorang pria tidak sedang kalah. Ia sedang bertahan dengan cara yang tidak pernah diajarkan sekolah mana pun, dengan sisa oli yang nyaris kering dan bahan bakar yang tak lagi murni, tapi tetap menyala, tetap bergerak, tetap berjuang menuju puncak yang mungkin belum juga terlihat dari sini.

Loading