SAMARINDA — Pelaksanaan upacara bendera peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur, Senin (17/8/2026), menjadi momen emosional bagi tokoh pers senior Kaltim, Syafruddin Pernyata.
Kegiatan yang tergolong langka dalam sejarah organisasi pers di Kaltim ini mendapat apresiasi tinggi dari Syafruddin. Ia memandang upacara tersebut lebih dari sekadar seremoni formal, melainkan sebagai ruang refleksi historis bagi insan pers dalam menghargai perjuangan pendahulu bangsa.
Bagi Syafruddin, mengikuti upacara bendera 17 Agustus adalah kewajiban moral yang selalu ia tunaikan di mana pun ia berada. Semangat nasionalisme ini bukan tumbuh tanpa alasan. Ia menyimpan memori mendalam tentang perjuangan ayahnya, seorang veteran yang pernah merasakan getirnya ditahan selama tiga bulan di Benteng Rotterdam, Makassar.
“Saya selalu mengenang perjuangan ayah setiap peringatan kemerdekaan Indonesia. Setiap 17 Agustus, saya selalu berusaha hadir untuk menghargai jasa para pahlawan,” tutur Syafruddin usai upacara.
Ia pun menyoroti pentingnya konsistensi dalam merawat nasionalisme. Menurutnya, menghadiri upacara bendera yang dilaksanakan setahun sekali merupakan bentuk penghormatan paling dasar yang harus diberikan masyarakat kepada para pejuang bangsa.
Syafruddin, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris PWI Kaltim selama dua periode, mengaku terharu melihat antusiasme wartawan muda saat ini. Ia mengakui bahwa pada masa kepengurusannya terdahulu, kegiatan serupa sulit terealisasi karena kesibukan insan pers yang harus meliput rangkaian HUT Kemerdekaan di berbagai tempat.
“Selama dua periode menjabat Sekretaris PWI Kaltim, upacara seperti ini belum pernah digelar,” ungkapnya dengan nada bangga melihat perubahan positif tersebut.
Lebih jauh, Syafruddin mengajak seluruh insan pers untuk tidak hanya menengok ke belakang, tetapi juga merespons kondisi terkini bangsa. Ia menyinggung berbagai persoalan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia yang menuntut kepedulian bersama.
Ia mengingatkan, tugas wartawan bukan sekadar mengkritisi, namun juga menjadi bagian dari solusi untuk bertanya dan mencari tahu akar masalah yang sedang dihadapi bangsa.
Syafruddin berharap, upacara di halaman Kantor PWI Kaltim ini dapat menetap menjadi tradisi tahunan. Baginya, langkah ini krusial untuk menanamkan benih semangat kebangsaan kepada generasi wartawan penerus agar tetap memiliki integritas dan kecintaan terhadap tanah air di tengah tantangan tugas jurnalistik yang terus berkembang.(ja/mn)
![]()

