KAJIAN TEMATIK SURAT AL-JINN—Ayat 25

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَّا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا

“Katakanlah ( Muhammad ) : ‘Aku tidak mengetahui apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktu yang masih lama baginya.'”
—QS. Al-Jinn Ayat 25

Penjelasan Tematik

Ayat ini menjadi penutup yang indah dari rangkaian penegasan tentang keterbatasan manusia. Setelah Allah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki kuasa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat , tidak mampu melindungi siapa pun dari keputusan Allah, dan hanya bertugas menyampaikan risalah, kini Allah menegaskan bahwa bahkan waktu terjadinya ketetapan-Nya pun tidak diketahui oleh Rasulullah SAW.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ أَدْرِي

“Katakanlah : Aku tidak mengetahui.”

Kalimat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang kerendahan hati ilmiah. Rasulullah SAW, manusia yang menerima wahyu langsung dari langit, tetap mengatakan “aku tidak mengetahui” terhadap sesuatu yang memang tidak diwahyukan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa kejujuran ilmiah merupakan bagian dari akhlak seorang nabi.

Dalam Islam, mengakui keterbatasan pengetahuan bukanlah kelemahan. Sebaliknya, itulah tanda kedewasaan intelektual. Orang yang benar-benar berilmu mengetahui batas ilmunya, sedangkan orang yang sedikit ilmunya sering kali merasa mengetahui segala sesuatu.

Allah Memiliki Waktu yang Paling Tepat

Allah kemudian berfirman:

أَقَرِيبٌ مَّا تُوعَدُونَ

“Apakah yang dijanjikan itu sudah dekat.”

Lalu dilanjutkan dengan firman-Nya:

أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا

“Ataukah Tuhanku menetapkan waktu yang masih lama baginya.”

Kata أَمَدًا ( amadā ) berarti batas waktu atau masa yang telah ditentukan. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ketetapan Allah memiliki waktunya sendiri. Tidak ada yang datang terlalu cepat dan tidak ada yang terlambat. Semua berjalan sesuai hikmah dan ilmu-Nya yang sempurna.

Sering kali manusia tergesa-gesa. Kita ingin doa segera dikabulkan, masalah segera selesai, atau kemenangan segera datang. Padahal Allah melihat keseluruhan perjalanan hidup yang tidak mampu kita lihat. Apa yang menurut kita lambat, bisa jadi itulah waktu terbaik menurut kebijaksanaan-Nya.

Kesabaran Lahir dari Kepercayaan kepada Hikmah Allah

Salah satu ujian terbesar manusia bukanlah penderitaan, melainkan menunggu. Menunggu jawaban doa, menunggu perubahan, menunggu pertolongan, bahkan menunggu datangnya keadilan. Dalam masa penantian itu, iman diuji.

Dalam psikologi modern dikenal konsep:

delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kepuasan demi hasil yang lebih baik di masa depan. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ini berkaitan erat dengan kematangan emosi dan keberhasilan seseorang dalam hidup.

Al-Qur’an telah menanamkan prinsip yang lebih luhur. Seorang mukmin bersabar bukan sekadar demi hasil yang lebih baik, tetapi karena ia percaya bahwa Allah tidak pernah salah menentukan waktu. Kesabaran bukanlah sikap pasif, melainkan wujud keyakinan bahwa di balik setiap penundaan terdapat hikmah yang mungkin belum mampu dipahami oleh akal manusia saat ini.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan agar kita tidak memaksakan waktu kepada Allah. Banyak kegelisahan lahir bukan karena Allah tidak mengabulkan doa, tetapi karena kita ingin Allah mengabulkannya sesuai jadwal yang kita tentukan. Padahal hidup bukan berjalan menurut kalender keinginan manusia, melainkan menurut ketetapan Rabb semesta alam.

Orang yang memahami ayat ini akan belajar berikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan waktu hasilnya kepada Allah. Ia tidak berhenti berusaha hanya karena jawaban belum datang. Sebaliknya, ia terus memperbaiki diri sambil meyakini bahwa setiap ketetapan Allah akan hadir pada saat yang paling tepat.

Saudara…

Bukankah sebagian besar kegelisahan kita lahir karena ingin segala sesuatu segera terjadi ? Kita ingin masalah cepat selesai, rezeki cepat datang, cita-cita segera tercapai, dan doa segera dikabulkan. Ketika semua itu belum terjadi, hati mulai gelisah, bahkan terkadang mempertanyakan kasih sayang Allah.

Ayat ini mengajarkan kita untuk mempercayai waktu Allah. Sebagaimana matahari tidak pernah terlambat terbit dan musim tidak pernah datang mendahului waktunya, demikian pula seluruh ketetapan Allah memiliki saat terbaik untuk diwujudkan. Yang tampak sebagai penundaan di mata kita, bisa jadi merupakan bentuk perlindungan atau persiapan menuju kebaikan yang lebih besar.

Karena itu, jangan lelah berdoa hanya karena jawaban belum terlihat. Jangan berhenti berikhtiar hanya karena hasil belum datang. Teruslah berjalan, teruslah memperbaiki diri, dan teruslah memperkuat keyakinan kepada Allah. Sebab seorang mukmin tidak hanya percaya kepada janji Allah, tetapi juga percaya kepada waktu Allah.

Dan ketika waktunya benar-benar tiba, kita akan memahami bahwa tidak ada satu pun keputusan Allah yang terlambat. Semuanya hadir tepat pada saat hati kita telah siap menerimanya dan kehidupan kita telah siap memikul hikmah yang dibawanya.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 14 Agustus 2026

Loading