Oleh Agus Sukaca

(Mahasiswa S3 Studi Agama FAI Universitas Ahmad Dahlan)

DALAM diskursus pemikiran Islam kontemporer, nama Sayyid Quthub (1906-1966) dari Mesir selalu memicu perdebatan yang hangat. Di satu sisi, ia dipuji sebagai sastrawan dan pemikir yang mampu menghidupkan kembali “ruh” Al-Qur’an di tengah gempuran materialisme Barat. Di sisi lain, gagasan-gagasannya sering dikaitkan dengan radikalisme politik dan eksklusivisme yang mengancam kerukunan.

Di belahan dunia lain, Muhammadiyah melalui Risalah Islam Berkemajuan (RIB) hasil Muktamar ke-48 merumuskan cetak biru keberagamaan yang progresif, moderat (Wasathiyah), dan konstruktif. Lantas, jika kita mempertemukan gelora pemikiran Sayyid Quthub dengan semangat Islam Berkemajuan, di mana letak titik temu dan titik pisahnya?

Sang Visioner di Bawah Naungan Al-Qur’an

Sayyid Quthub adalah sosok yang “melek” terhadap bahaya sekularisme. Dalam karya monumentalnya, Fi Zilal al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an), ia menegaskan bahwa Islam bukanlah sekadar agama ritual di masjid, melainkan nizam shamil (sistem kehidupan yang utuh).

Quthub sangat mengkritik peradaban modern yang, menurutnya, hanya mengejar kemajuan materi tetapi kehilangan jiwa dan petunjuk Tuhan. Baginya, masyarakat yang memisahkan agama dari kehidupan publik berada dalam kondisi Jahiliyyah (kebodohan/keterbelakangan spiritual). Untuk melawan ini, Quthub menawarkan semangat Ulul Albab: manusia yang tidak memisahkan antara iman dan ilmu, antara wahyu dan alam semesta.

Titik Temu: Ulul Albab dan Kritik Materialisme

Menariknya, ada irisan kuat antara Quthub dan RIB. Keduanya sama-sama menolak dikotomi yang memisahkan antara masjid dan laboratorium.

Bagi Quthub maupun RIB, Ulul Albab adalah mereka yang mampu menyintesiskan Dzikir (kesadaran spiritual) dan Fikr (berpikir kritis/ilmiah). Keduanya juga sepakat mengkritik materialisme kosong. RIB secara tegas menolak modernitas yang merusak lingkungan, mengeksploitasi manusia, dan menghilangkan dimensi spiritual. Dalam hal ini, semangat Quthub untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai “konstitusi hidup” yang menggerakkan peradaban sangat selaras dengan visi Islam Berkemajuan.

Titik Pisah: Jahiliyyah vs Tajdid
Perbedaan mendasar keduanya terletak pada “cara pandang” dan “metode” dalam membaca realitas sosial.

Quthub menggunakan istilah Jahiliyyah secara sangat radikal, bahkan mengaplikasikannya pada masyarakat Muslim modern yang tidak menerapkan syariat secara utuh. Pandangan ini sering melahirkan sikap eksklusif, konfrontatif, dan mudah mengkafirkan lawan politik.

Sebaliknya, RIB menolak pelabelan Jahiliyyah secara serampangan. Muhammadiyah lebih memilih menggunakan semangat Tajdid (Pembaruan) dan Tanwir (Pencerahan). Dalam pandangan RIB, masyarakat tidak perlu “dihancurkan” atau divonis sesat, tetapi perlu diedukasi dan diberdayakan secara damai, bertahap, dan konstruktif melalui jalur pendidikan dan kebudayaan.

Hakimiyyah vs Darul Ahdi wa Syahadah

Perbedaan lainnya ada pada konsep negara. Quthub sangat menekankan Hakimiyyah (kedaulatan mutlak Tuhan) yang sering ditafsirkan secara politis sebagai penolakan terhadap sistem demokrasi dan negara-bangsa modern.

Di sinilah RIB mengambil sikap Wasathiyah (Moderat) yang sangat inklusif. Muhammadiyah menerima negara-bangsa (NKRI dan Pancasila) sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan persaksian). RIB menegaskan bahwa berdemokrasi, berpartisipasi dalam politik kebangsaan, dan menjaga keutuhan negara adalah bagian dari muamalah duniawiyah yang dianjurkan. Islam Berkemajuan tidak mencari kekuasaan untuk mendirikan “negara teokrasi”, tetapi berkhidmat untuk memakmurkan bangsa melalui Teologi Al-Ma’un.

Epistemologi yang Menyejukkan
Penafsiran Quthub sangat kental dengan nuansa sastra, spiritual, dan ideologis-politik. Sebaliknya, RIB menggunakan Manhaj Tarjih yang menyeimbangkan tiga pendekatan: Bayani (teks wahyu), Burhani (akal dan sains), dan ‘Irfani (kepekaan hati).

Bagi RIB, sains modern, riset, dan teknologi adalah mitra sejajar wahyu dalam membaca Ayat Kauniyah. RIB sangat terbuka terhadap sains dan demokrasi, selama diarahkan oleh nilai-nilai etika wahyu. Ini adalah antitesis dari cara pandang ideologis yang kaku.

Mengambil Api Semangat, Bukan Abunya

Lantas, apa yang bisa kita petik dari “dialog” ini? Kita bisa belajar dari Quthub tentang betapa pentingnya menghidupkan “ruh” Al-Qur’an dalam hati, dan betapa bahayanya materialisme yang melalaikan Tuhan. Kita ambil “api semangat” integritasnya, namun kita tinggalkan “abu” radikalisme dan eksklusivitasnya.

Di Indonesia yang majemuk, sikap inklusif dan moderat (Wasathiyah) ala Risalah Islam Berkemajuan adalah solusi. Dengan memadukan kedalaman spiritual Quthub dan kearifan kemoderatan Muhammadiyah, kita akan menjadi Muslim yang memiliki hati yang hidup, akal yang jernih, dan tangan yang terampil membangun peradaban. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya: maju, damai, dan menjadi rahmat bagi semesta.(*)

Samarinda, 6 Muharram 1448 H/ 21 Juni 2026

 

Catatan tentang Penulis

Agus Sukaca

Nama lengkap dan Gelar: dr. Agus Sukaca, M. Kes
No Kontak (WA) : 0811551046
Email: guskaca@gmail.com
Alamat : Perum Sejahtera Permai Blok M No 9 Kelurahan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Propinsi Kalimantan Timur

Status:
– Mahasiswa S3 Studi Agama Universitas Ahmad Dahlan
– Pengajar Kedokteran Islam di Fakultas Kedokteran UAD
– Ketua Komite Standar Islami Rumah Sakit Muhammadiyah – ‘Aisyiyah MPKU PP Muhammadiyah

Pengalaman:
– Ketua Majlis Tabligh PP – Muhammadiyah 2010 – 2015
– Ketua PWM Kaltim 2005 – 2010

Loading