KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 23

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati. Tetapi sedikit sekali kalian bersyukur.”
—QS. Al-Mulk Ayat 23

Penjelasan Tematik

Setelah Allah membandingkan antara orang yang berjalan di jalan petunjuk dan orang yang tersesat, kini Allah mengingatkan manusia tentang sumber seluruh kemampuan yang dimilikinya.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ
“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kalian.”

Ayat ini mengajak manusia kembali kepada asal-usul dirinya.

Sebelum memiliki nama, jabatan, harta, ilmu, dan segala kebanggaan dunia,

manusia hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.

Ia tidak menciptakan dirinya sendiri.

Ia tidak menentukan kapan dilahirkan.

Ia tidak memilih bentuk tubuhnya.

Ia tidak memilih siapa orang tuanya.

Semua adalah pemberian Allah.

Manusia Sering Bangga pada Sesuatu yang Bukan Miliknya

Ketika manusia berhasil, sering kali ia lupa dari mana semua kemampuan itu berasal.

Ia bangga dengan kecerdasannya.

Padahal siapa yang menciptakan otaknya?

Ia bangga dengan penglihatannya.

Padahal siapa yang memberinya mata ?

Ia bangga dengan kemampuannya berbicara.

Padahal siapa yang menciptakan lidah dan suaranya?

Ayat ini mengembalikan manusia kepada kesadaran bahwa segala kelebihan adalah amanah, bukan kepemilikan mutlak.

Pendengaran Disebut Pertama

Allah berfirman :

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ
“Dan menjadikan bagi kalian pendengaran.”

Menariknya, dalam banyak ayat Al-Qur’an, pendengaran sering disebut lebih dahulu daripada penglihatan.

Para ulama menjelaskan bahwa pendengaran merupakan salah satu pintu utama masuknya ilmu dan petunjuk.

Bayi yang baru lahir belum mampu memahami banyak hal melalui penglihatan.

Tetapi ia sudah mulai menerima rangsangan suara.

Karena itu pendengaran menjadi simbol kesiapan menerima kebenaran.

Penglihatan : Jendela Menuju Alam Semesta

وَالْأَبْصَارَ
“Dan penglihatan.”

Melalui mata, manusia melihat dunia.

Melihat keindahan alam.

Melihat tanda-tanda kebesaran Allah.

Melihat pelajaran dari kehidupan.

Namun mata tidak selalu menghasilkan hikmah.

Banyak orang melihat, tetapi tidak memahami.

Banyak orang menyaksikan, tetapi tidak mengambil pelajaran.

Karena itu penglihatan memerlukan hati yang hidup agar dapat melahirkan kebijaksanaan.

Hati: Pusat Kesadaran Manusia

وَالْأَفْئِدَةَ
“Dan hati.”

Kata af’idah menunjukkan hati yang hidup, berpikir, merenung, dan merasakan.

Dalam Al-Qur’an, hati bukan hanya pusat emosi.

Ia juga pusat kesadaran spiritual.

Seseorang mungkin memiliki telinga yang mendengar.

Memiliki mata yang melihat.

Tetapi jika hatinya tertutup, ia tetap tidak mendapatkan petunjuk.

Karena petunjuk sejati tidak hanya masuk melalui telinga dan mata.

Ia harus sampai ke hati.

Mengapa Manusia Sulit Bersyukur ?

Setelah menyebut semua nikmat besar itu, Allah menutup ayat dengan kalimat yang mengejutkan :

قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Sedikit sekali kalian bersyukur.”

Mengapa sedikit?

Karena manusia lebih mudah memperhatikan apa yang belum dimiliki daripada apa yang sudah dimiliki.

Ia fokus pada kekurangan.

Lalu lupa menghitung nikmat.

Dalam psikologi modern terdapat istilah *negativity bias* yaitu kecenderungan pikiran manusia lebih fokus pada hal-hal negatif daripada hal-hal positif.

Akibatnya seseorang dapat memiliki seribu nikmat, tetapi tetap merasa kurang karena hanya memikirkan satu kekurangan.

Syukur Adalah Cara Pandang

Syukur bukan sekadar ucapan.

Bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah.

Syukur adalah cara melihat kehidupan.

Orang yang bersyukur tetap melihat nikmat di tengah kesulitan.

Sedangkan orang yang tidak bersyukur tetap menemukan alasan untuk mengeluh di tengah kelimpahan.

Karena syukur pada dasarnya adalah kondisi hati sebelum menjadi ucapan lisan.

Ketika Nikmat Menjadi Tidak Terlihat

Salah satu alasan manusia kurang bersyukur adalah karena nikmat yang terus hadir menjadi tidak terasa.

Udara selalu ada.

Mata selalu melihat.

Telinga selalu mendengar.

Jantung terus berdetak.

Karena semuanya berlangsung setiap hari, manusia menganggapnya biasa.

Dalam psikologi modern terdapat konsep hedonic adaptation yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan nikmat sehingga berhenti menghargainya.

Padahal nikmat yang dianggap biasa itulah yang sesungguhnya paling berharga.

Pendengaran, Penglihatan, dan Hati Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Ayat ini juga mengandung pesan amanah.

Karena apa yang diberikan Allah bukan hanya nikmat, tetapi juga tanggung jawab.

Telinga digunakan untuk apa?

Mata digunakan untuk melihat apa?

Hati digunakan untuk memikirkan apa?

Semua akan dipertanyakan.

Karena setiap nikmat memiliki konsekuensi.

Pelajaran Kehidupan

Maka biasakan menghitung nikmat yang sudah dimiliki sebelum menghitung apa yang belum dimiliki.

Karena kebahagiaan sering kali lahir dari rasa syukur, bukan dari bertambahnya kepemilikan.

Selain itu, gunakan pendengaran untuk mendengar hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah.

Gunakan penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan gunakan hati untuk merenungkan makna kehidupan.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa kemampuan berpikir dan merasakan adalah karunia besar yang tidak boleh disia-siakan.

Karena manusia dibedakan dari banyak makhluk lain bukan hanya oleh tubuhnya, tetapi oleh kesadaran yang Allah titipkan dalam dirinya.

Kadang manusia meminta nikmat baru kepada Allah, sementara nikmat yang sudah ada belum sepenuhnya disyukuri.

Padahal salah satu pintu terbesar keberkahan adalah rasa syukur.

Dan semakin seseorang bersyukur, semakin ia menyadari bahwa dirinya hidup di tengah lautan nikmat yang tidak mampu dihitung jumlahnya.

Saudara…,

Ayat ini mengajak kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri.

Coba renungkan :

Jika hari ini pendengaran kita hilang, berapa banyak hal yang tidak lagi bisa kita nikmati?

Jika penglihatan kita hilang, berapa banyak keindahan yang tidak lagi bisa kita lihat?

Jika hati kita kehilangan kepekaannya, berapa banyak kebenaran yang tidak lagi bisa kita rasakan?

Semua itu adalah karunia Allah.

Karunia yang sering hadir begitu dekat hingga kita lupa mensyukurinya.

Karena itu jangan hanya meminta nikmat yang belum ada.

Syukurilah nikmat yang sudah ada.

Sebab sering kali yang kita anggap biasa hari ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak tergantikan.

Dan salah satu tanda kedewasaan spiritual adalah ketika seseorang mampu melihat jejak kasih sayang Allah dalam hal-hal kecil yang setiap hari menyertainya.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 13 Juni 2026

Loading