SAMARINDA – Awal April 2026, Jejen melangkah ke atas geladak kapal di Pelabuhan Surabaya dengan sebuah tekad yang menyesakkan dada. Di tangannya, ia membawa harapan untuk mencari biaya selamatan bagi mendiang istrinya yang telah lebih dulu berpulang. Kalimantan Timur dipilihnya sebagai tempat mengadu nasib, menyusul seorang kawan bernama Fredi di Kebun Agung, Samarinda.

Namun, takdir menuliskan skenario yang berbeda. Baru empat hari mencicipi kerasnya bekerja di sebuah proyek di Muara Badak, tubuh Jejen ambruk. Ia jatuh pingsan dan tak kunjung sadar, hingga Fredi harus membawanya ke ruang IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie.

Setelah 25 hari berjuang di antara hidup dan mati di ruang ICCU, tepat pada waktu Subuh, Senin (11/5/2026), Jejen bin Eno (53) mengembuskan napas terakhirnya. Ia pergi sebelum sempat mengirimkan sepeser pun rupiah untuk selamatan sang istri di kampung halaman.

Kepasrahan dari Seberang Pulau

Kabar duka itu sampai ke Dusun Sriti, Desa Sumberurip, Kabupaten Lumajang. Kevin, anak bungsu almarhum, hanya bisa tertunduk lesu. Jarak ribuan kilometer dan biaya pemulangan jenazah yang mencapai puluhan juta rupiah menjadi tembok yang tak sanggup ia lompati.

Dengan hati remuk, Kevin sempat menyatakan pasrah. Ia menyerahkan proses pemakaman sang ayah kepada pihak rumah sakit. Baginya, mustahil membawa pulang jasad ayahnya ke Lumajang di tengah himpitan ekonomi yang mencekik. Jejen terancam dimakamkan tanpa kehadiran keluarga, hanya ditemani kesunyian kamar jenazah.

Sinergi Kemanusiaan Menembus Sekat

Informasi mengenai jenazah yang “telantar” ini sampai ke telinga Sarnawati, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Air Hitam. Hatinya tergerak saat mengetahui Jejen hanya ditemani oleh rekan-rekan kerjanya sesama kuli bangunan yang juga terbatas secara finansial.

“Pikiran saya langsung menghubungi PWI Kaltim Peduli,” kenang Sarnawati.

Gayung bersambut. Relawan PWI Kaltim Peduli segera bergerak dalam hitungan jam. Sekretaris PWI Kaltim, Achmad Shahab, langsung mengoordinasikan langkah-langkah darurat. Komunikasi dijalin cepat dengan Dinas Perkim Kota Samarinda untuk urusan lahan makam, hingga menjangkau Paguyuban Warga Lumajang (PWL) di Samarinda melalui bantuan Yayasan Silaturahmi Informasi Taruna Kaltim (YSITKT).

Donasi pun mengalir secara spontan; mulai dari wartawan senior, rekan kerja almarhum, hingga warga paguyuban. Meski pihak rumah sakit telah menyediakan kain kafan, seluruh prosesi fardhu kifayah dijalankan dengan tangan terbuka oleh para relawan.

Ridho Al Ghona, relawan fardhu kifayah PWI Kaltim Peduli, mengaku tidak menemukan kendala berarti saat menangani almarhum. “Alhamdulillah, tubuh beliau bersih, proses memandikan hingga mengafani berjalan sangat lancar,” tuturnya.

Menjelang Zuhur, ambulans PWI Kaltim Peduli membawa Jejen bin Eno menuju Masjid Al Ma’ruf di persimpangan Voorvo. Pengurus masjid membukakan pintu lebar-lebar, mempersilakan jenazah perantau itu disalatkan setelah salat fardhu Zuhur berjamaah.

Almarhum Jejen bin Eno (53) saat disholatkan di Masjid Al Ma’ruf Samarinda.

 

Ambulans PWI Kaltim Peduli setibanya di makam Raudhatul Jannah Tanah Merah.

 

Proses pemakaman almarhum Jejen bin Eno diantarkan rekan-rekan sekerjanya.

Dari sana, iring-iringan terakhir membawa Jejen menuju Pemakaman Raudhatul Jannah di Tanah Merah, Samarinda Utara. Di bawah panas terik matahari siang bolong, Jejen akhirnya beristirahat dengan tenang. Meski tak berhasil kembali ke Lumajang untuk selamatan istrinya, Jejen telah dipulangkan dengan cara yang terhormat oleh orang-orang asing yang kini menjadi keluarga barunya di perantauan.(mn)

Loading