KUTAI TIMUR – Pembangunan kantor Koperasi Merah Putih di Desa Martadinata menjadi salah satu dari dua desa di Kecamatan Teluk Pandan yang belum menunjukkan progres karena terkendala masalah lahan.
Kepala Desa Martadinata, Sutrisno, mengatakan bahwa pengurus Koperasi Merah Putih telah terbentuk, namun pembangunan fisik kantor masih terhambat karena belum menemukan lokasi yang strategis. “Kantornya ini memang sudah sisa dua desa yang belum ada sama sekali progres pembangunannya karena terkait lahan, termasuk Martadinata,” ujar Sutrisno saat ditemui awak media di Kantor Desa Martadinata, Kamis (20/11/2025) sore.
Menurutnya, pemerintah desa memiliki lahan seluas sekitar 2 hektare di area kantor desa, namun lokasi tersebut dinilai kurang strategis untuk pembangunan kantor koperasi. “Kita punya luasan kantor desa ini sekitar 2 hektar, tapi ketika ditempatkan di sini saya pikir tidak strategis. Harusnya memang di pinggir jalan poros,” jelasnya.
Sutrisno menjelaskan bahwa pengelola Koperasi Merah Putih mengharapkan kantor berada di lokasi strategis agar dapat maksimal dalam melayani masyarakat. “Harapan dari pengelola ke depan dia harus strategis. Sementara baru kita carikan dulu,” katanya.
Dari informasi yang diterima, anggaran pembangunan Koperasi Merah Putih per desa mencapai Rp1,2 miliar yang langsung dari pusat. “Kalau aturan barunya anggarannya per satu desa terkait pembangunan Koperasi Merah Putih ini Rp1,2 miliar kalau tidak salah, langsung dari pusat,” ungkapnya.
Pembangunan kantor ini tidak menggunakan anggaran desa, melainkan sudah ada pihak ketiga yang akan melaksanakan pembangunan. “Dari pembangunannya ada sendiri, kalau kita dari desa cuma diarahkan siapkan lahan,” jelasnya.
Sutrisno mengakui bahwa area kantor desa sebenarnya cukup ramai karena menjadi pusat aktivitas administratif dan pendidikan. “Di sini terpusat perkantorannya, ada TK, Perpustakaan, SD. Jadi tiap pagi dan sore ramai ibu-ibu antar jemput anak-anak sekolah,” katanya.
Namun, untuk fungsi koperasi yang akan beroperasi seperti minimarket modern, lokasi di dalam kompleks kantor desa dinilai kurang ideal. “Kalau dijadikan gerai seperti Indomaret, tidak masuknya kalau posisi sudah malam. Kalau siang masih aman, tapi kalau malam tidak bisa masuk. Sehingga harus cari alternatif lain di pinggir jalan,” jelasnya.
Tim peninjau dari pusat telah melakukan survei lokasi dan memberikan masukan serupa. “Sudah ditinjau kemarin, katanya kalau di sini ya mungkin jadi bangunannya tapi untuk pangsa pasarnya tidak akan maksimal. Terlalu masuk, makanya harapannya dicari yang di pinggir poros,” tambahnya.
Saat ini pemerintah desa masih terus mencari lokasi alternatif yang lebih strategis untuk pembangunan kantor Koperasi Merah Putih agar dapat berfungsi optimal melayani kebutuhan masyarakat Desa Martadinata. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

