KUTAI TIMUR – Pemerintah Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, mempertanyakan validitas data kemiskinan ekstrem yang dikirimkan Dinas Sosial Kabupaten Kutai Timur yang menyebutkan terdapat 70 kepala keluarga dalam kategori miskin ekstrem.
Kepala Desa Martadinata, Sutrisno, menyatakan setelah melakukan verifikasi lapangan, data tersebut tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat. “Data dari Dinas Sosial menyebutkan ada 70-an miskin ekstrem dan saya kaget. Setelah ditelusuri, ini tidak masuk kategori miskin ekstrem,” ujar Sutrisno saat ditemui awak media di Kantor Desa Martadinata, Kamis (20/11/2025) sore.
Menurutnya, berdasarkan verifikasi yang dilakukan bersama sekretaris desa, tidak ada warga yang memenuhi kriteria miskin ekstrem sesuai parameter yang ditetapkan. “Saya sendiri di meja kita bisa selesaikan bahwa ini tidak masuk kategori miskin ekstrem. Bahkan saat diverifikasi tidak ada, jadi kita sudah reset kemarin, sudah dinolkan,” jelasnya.
Sutrisno menjelaskan bahwa parameter kemiskinan ekstrem memiliki kriteria yang sangat spesifik, seperti kondisi rumah yang beratapkan daun rumbia dan beralaskan tanah, serta penghasilan per bulan di bawah Rp300.000. “Kalau saya lihat aturannya, rumahnya harus beratapkan daun rumbia, beralaskan tanah. Saya pikir di Kalimantan Timur tidak ada yang demikian,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dengan kondisi ekonomi di wilayahnya, penghasilan Rp300.000 per bulan sangat tidak realistis. “Penghasilan per bulan Rp300.000, saya pikir di sini sayur saja kita jual ke pasar di atas Rp1 juta. Yang penting kita mau gerak saja,” katanya.
Meskipun demikian, Sutrisno mengakui bahwa dari 70 data tersebut ada beberapa yang memang masuk kategori miskin, namun bukan miskin ekstrem. “Ada di antara 70 itu yang dianggap miskin, tapi harusnya kategorinya miskin biasa, bukan miskin ekstrem. Kan beda miskin biasa dengan miskin ekstrem,” jelasnya.
Permasalahan utama dalam data tersebut adalah tidak jelasnya kapan dan siapa yang mengambil data tersebut. “Kita tidak tahu kapan data ini diambil dan siapa yang ambil. Sehingga ketika ada laporan bahwa si A dikategorikan miskin ekstrem, saya juga kaget,” tambahnya.
Sutrisno menekankan pentingnya akurasi data kemiskinan karena akan berdampak pada program-program bantuan pemerintah. Dengan kondisi geografis Kalimantan Timur yang relatif lebih baik secara ekonomi, ia menilai standar kemiskinan ekstrem perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.
“Kasarannya di Kalimantan, yang penting mau kerja pasti bisa dapat penghasilan di atas standar miskin ekstrem. Kecuali maunya cuma datang duit, ya itu beda lagi,” pungkasnya.
Desa Martadinata yang berpenduduk sekitar 2.700 jiwa dengan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program-program pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

