KUTAI TIMUR – Desa Kandolo menunjukkan kemandirian dalam pengelolaan pelayanan publik dengan menolak masuknya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan memilih mengelola sendiri layanan air bersih melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Langkah ini diambil agar uang hasil pembayaran air bisa berputar di desa, bukan keluar ke kabupaten atau kota lain.
“Di Kandolo ini kami sudah menolak PDAM. Akhirnya kami kelola sendiri. Dari Bumdes,” ungkap Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, saat diwawancarai, Kamis (20/11/2025).
Sistem pengelolaan air bersih oleh Bumdes Desa Kandolo menggunakan mekanisme yang sama dengan PDAM, yakni menggunakan keran air dan meteran untuk mengukur pemakaian air per kubik yang kemudian dijual kepada pelanggan.
“Sama seperti PDAM, ada keran, ada meteran, dijual per kubik,” jelasnya.
Keputusan untuk menolak PDAM ini diambil Alimuddin dengan tegas. Ia bahkan mengancam akan memotong pipa saluran jika PDAM tetap memaksakan diri masuk ke Desa Kandolo.
“Dilokalisir kan setiap desa itu. Masuk ke sini PDAM saya bilang potong aja. Enggak boleh masuk ke sana. Karena kalau kau yang ngambil, ngaliri air di warga, uangnya kamu bawa ke Bontang. Kalau Bumdes pun enggak dong,” tegasnya.
Alimuddin menjelaskan bahwa sebelumnya wilayah Desa Kandolo memang masuk dalam cakupan layanan PDAM Bontang, bahkan untuk listrik pun dulu mengikuti Bontang sebelum ada gardu di Suka Rahmat.
“Kan dulu anunya Bontang kan? Dulu kan sini ikut Bontang semua. Bahkan listriknya juga ikut Bontang tuh, sebelum ada gardu di Suka Rahmat,” ungkapnya.
Dengan dikelola oleh Bumdes, pengelolaan air bersih ini sudah memberikan kontribusi pendapatan bagi desa. Bumdes Desa Kandolo saat ini sudah bisa dihitung memiliki pendapatan yang cukup baik dari berbagai unit usaha yang dikelolanya, termasuk pengelolaan air bersih ini.
“BUMDes kami sudah bisa dihitung dia sudah punya pendapatan,” katanya.
Alimuddin membandingkan kondisi pengelolaan oleh desa dengan oleh pihak eksternal. Menurutnya, selama ini pembayaran ke PLN dan PDAM selalu cash dan tidak pernah menunggak, namun daerah tetap merugi karena uangnya keluar dari daerah.
“Bayar PLN tidak pernah ngutang. Bayar PDAM cash terus tapi rugi terus. Mending kelola, dikelola desa kan?” tanyanya retoris.
Saat ini, Desa Kandolo juga berpotensi mendapatkan kepercayaan lebih dalam pengelolaan air. PT Indominco yang akan menyalurkan air ke Sangatta memilih salah satu lokasi di Kandolo untuk dijadikan reservoir komunal untuk distribusi air ke Sangatta, selain yang ada di Jembatan Indominco di Suka Damai.
“Sekarang itu lagi-lagi ngurus itu kan point Indominco yang mau disalurkan ke Sangatta itu kan. Lagi-lagi Indominco itu milih salah satu Kandolo dulu nanti jadi reservoir komunalnya untuk distribusi Sangatta,” jelasnya.
Alimuddin berharap desa bisa mendapatkan manfaat dari distribusi air ini, sehingga PADes juga dapt meningkat dengan signifikan. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

