KUTAI TIMUR – Pengelolaan sampah di Kabupaten Kutai Timur masih berada pada tahap sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim mengakui mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah membutuhkan waktu, upaya luar biasa, dan biaya yang tidak sedikit.
Petugas Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) DLH Kutim, Dewi, mengatakan, saat ini pihaknya fokus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) adalah tanggung jawab masyarakat.
“Saat ini kami masih di tahap sosialisasi, memberikan pemahaman kepada mereka bahwa TPS 3R itu tanggung jawab mereka, dikelola oleh masyarakat karena posisinya harus berdekatan dengan sumber dan pengelolanya adalah masyarakat bukan pemerintah,” jelas Dewi, Senin (18/11/2025).
Menurutnya, merubah perilaku masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu, effort luar biasa, dan biaya untuk proses tersebut.
“Mengajak masyarakat untuk berkumpul itu tidak mudah. Diajak 100 orang yang datang mungkin hanya 10, jadi 10 persen saja. Ini tetap berproses sambil kami melengkapi sarana prasarana,” ungkapnya.
Dewi mencontohkan, di Desa Sangkima meski sudah ada TPS dan Peraturan Desa terkait sampah, faktanya sampah hanya ditumpuk dan tidak dikelola. Padahal selama ini desa menarik iuran dari warga untuk pengelolaan sampah.
“Kami sudah sempat melakukan peninjauan, sampahnya ditumpuk tidak dikelola. Ada perdes tapi tidak digunakan, tidak jalan,” katanya.
Terkait armada pengangkut, Dewi menyatakan sudah ada motor roda tiga yang ditempatkan di beberapa lokasi dan dipegang oleh RT. Untuk skala desa, menurutnya roda tiga sudah cukup karena bisa mengangkut hingga 3 ton dalam sekali jalan.
Kepala Seksi PPLH lainnya, Marlin Sundhu, menambahkan bahwa fokus saat ini adalah menyampaikan informasi untuk mengubah perilaku masyarakat, dengan target institusi besar terlebih dahulu seperti perusahaan dan sekolah.
“Target kami institusi yang besar dulu, yang manusianya banyak. Perusahaan, sekolah. Kemarin untuk perkantoran Bukit Pelangi sudah kami lakukan,” kata Marlin.
Ia berharap media massa dapat membantu mengkampanyekan pengelolaan sampah dan para wartawan menjadi pionir dengan membawa tumbler ke mana-mana, tidak lagi menggunakan botol plastik sekali pakai.
Dewi menegaskan, perubahan harus dimulai dari keluarga masing-masing, terutama mendidik anak-anak sejak dini untuk memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

