KUTAI TIMUR – Pemerintah Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, akan membuka secara resmi wisata mangrove pada tahun 2026 mendatang. Pembukaan ini akan melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur untuk memperkenalkan potensi wisata mangrove yang dinilai luar biasa.
Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, mengatakan wisata mangrove tersebut berbeda dengan wisata mangrove di Bontang yang baru ditanam. Mangrove di Sangkima merupakan hutan alami dengan pohon-pohon yang sudah besar sehingga memiliki nilai lebih untuk konservasi dan ekowisata.
“Kami harapkan untuk tahun depan itu kami akan buka, mungkin akan melibatkan Dinas Pariwisata untuk memperkenalkan wisata mangrove kami. Luar biasa. Bukan seperti di Bontang yang baru ditanam, kalau kami itu memang mangrove yang alami yang besar-besar,” jelas Alwi, Senin (17/11/2025).
Wisata mangrove ini berjarak sekitar satu kilometer dari Pantai Teluk Lombok dan terhubung langsung. Saat ini telah tersedia sekitar 20 gazebo di dalam kawasan mangrove. Fasilitas tracking berupa jembatan kayu ulin sepanjang kurang lebih 700 meter juga telah dibangun menggunakan dana murni dari Dana Desa Sangkima.
Untuk gazebo, pembangunannya mendapat bantuan dari Dinas Pariwisata, sementara PT Pertamina turut membantu dalam pengembangan wisata tersebut. Saat ini, Pemerintah Desa tengah mempersiapkan area parkir dengan melakukan penimbunan tanah karena lokasinya berada di pesisir.
Yang menjadi daya tarik tambahan dari wisata mangrove ini adalah adanya sungai-sungai yang melewati kawasan. Pengunjung bisa melakukan aktivitas memancing dan mendapat berbagai jenis ikan seperti kakap, baronang, dan ikan lainnya, terutama saat air pasang.
“Di wisata mangrove itu yang lebih menggoda lagi adalah dilewati oleh sungai-sungai. Jadi di situ orang bisa mancing. Biasanya dapat kakap, dapat ikan-ikan baronang. Kalau lagi pasang air, masyarakat banyak mancing di situ,” ungkap Alwi.
Alwi menekankan pentingnya melestarikan mangrove karena fungsinya sebagai pelindung wilayah pesisir dari badai dan abrasi. Selain itu, kelestarian mangrove juga berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya nelayan.
“Dari dulu memang kalau ada yang mau menebang mangrove itu kita larang. Dengan mangrove yang lestari, peningkatan seperti nelayan menjaring itu kepitingnya banyak, udangnya banyak, kemudian ikan-ikan pinggiran itu, ikan bawas, baronang itu banyak,” tutup Alwi.
Meski infrastruktur sudah cukup memadai, yang masih menjadi kekurangan adalah fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) yang belum tersedia di kawasan wisata mangrove tersebut. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

