KUTAI TIMUR – Ratusan hektar lahan tambak di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, saat ini dalam kondisi terbengkalai. Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, berencana mengaktifkan kembali pertambakan tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka lapangan kerja.
Alwi menjelaskan bahwa dulunya lahan tambak di Sangkima sangat produktif dan pernah dilakukan panen perdana yang dihadiri langsung oleh Bupati Mahyudin pada masa itu. Hasil tambak saat itu dinilai luar biasa. Namun seiring waktu, tambak-tambak tersebut berhenti beroperasi.
“Kalau tambak itu dulu ada, ratusan hektar sebenarnya untuk pertambakan di wilayah Desa Sangkima. Tapi sekarang sudah tinggal beberapa hektar lagi yang masih aktif di Lombok. Saya kurang tahu kenapa bisa berhenti, padahal hasilnya luar biasa,” ungkap Alwi, Senin (17/11/2025).
Salah satu penyebab terbengkalainya tambak adalah tidak adanya tenaga penjaga yang betah. Selain itu, faktor alam juga menjadi kendala karena galian tambak semakin lama semakin turun dan akhirnya tergenang air secara permanen sehingga tidak bisa lagi dikelola.
Saat ini, Alwi memiliki rencana untuk mengaktifkan kembali pertambakan tersebut mengingat potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang besar. Jika 100 hektar lahan tambak dibuka kembali, maka sekitar 100 kepala keluarga bisa dipekerjakan.
“Saya sekarang berpikir bagaimana untuk mengaktifkan kembali pertambakan tersebut. Dengan membuka 100 hektar berarti kan harus ada 100 kepala keluarga yang dipekerjakan di sana,” jelasnya.
Namun, kendala utama yang dihadapi adalah sebagian besar lahan tambak masuk dalam kawasan konservasi. Diperlukan pembebasan kawasan agar tambak bisa dikembangkan kembali dengan menggunakan alat berat untuk penggalian. Jika hanya mengandalkan tenaga manual, hasilnya kurang maksimal karena lahan selalu terendam air.
Alwi mengungkapkan bahwa lahan tambak tersebut pernah ditinjau oleh Tim TORA (Tanah Objek Reforma Agraria) pada masa pemerintahan sebelumnya. Ratusan hektar lahan tambak yang sudah digali, baik secara manual maupun menggunakan alat berat, menjadi fokus perhatian.
“Dulu yang ditinjau dari Tim TORA itu lahan tambak semua, ratusan hektar. Sudah beroperasi tidak kurang dari lima tahun dan sudah beberapa kali panen. Tapi berhubung dengan faktor alam yang galiannya semakin turun, akhirnya terendam air semua,” paparnya.
Meskipun demikian, harapan untuk pembebasan kawasan masih terbuka. Alwi berharap pemerintah pusat bisa mengupayakan perluasan kawasan APL (Area Penggunaan Lain) sehingga masyarakat bisa kembali mengelola tambak yang sudah bertahun-tahun diusahakan tersebut. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

