KUTAI TIMUR – Desa Benua Baru di Kecamatan Muara Bengkal mengalami perubahan drastis dalam pola pertanian masyarakatnya. Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benny, mengungkapkan bahwa hampir seluruh petani padi gunung telah beralih profesi menjadi pekebun sawit.
“Kalau petani sawah di desa saya itu boleh dikatakan hanya 0,00 persen. Hanya satu dua orang saja yang masih memilih bertani padi,” ungkap Ahmad Benny dalam wawancara baru-baru ini.
Menurut Ahmad Benny, sebelumnya, masyarakat adalah petani padi gunung yang menanam sekali setahun, dengan hasil panen hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun kini, hampir semua lahan telah dialihfungsikan untuk perkebunan kelapa sawit.
Dampak dari perubahan ini cukup mengkhawatirkan. Desa Benua Baru dan seluruh Kecamatan Muara Bengkal kini sangat bergantung pada pasokan pangan dari Samarinda. “Kalau misalkan putus jalan antara Samarinda ke kampung, semua bisa mati kelaparan,” ujar Benny dengan nada serius.
Ia menjelaskan bahwa sayur-mayur, ikan, bahkan beras sekalipun kini dibeli dari Samarinda. Meskipun ada upaya pemerintah desa untuk mengedukasi masyarakat agar tetap bercocok tanam, kendala pemasaran menjadi hambatan utama.
“Alasan mereka, kalau tanam banyak, nanti kesusahan untuk melakukan penjualan. Beda dengan daerah yang dekat Samarinda yang bisa langsung lempar ke pasar-pasar,” jelasnya.
Pemerintah desa telah berupaya memfasilitasi dengan menyediakan bibit jagung sekitar 500 kilogram yang ditanam sebagai tumpang sari di antara kebun sawit yang belum produktif. Hasil panen kemudian difasilitasi untuk dijual ke Bulog.
Untuk menunjang pertanian modern, desa juga telah membeli kultivator agar petani tidak perlu mencangkul manual, dan telah menganggarkan pengadaan pupuk serta herbisida di APBDes tahun depan. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

