KUTAI TIMUR – Nelayan tradisional di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, menghadapi persaingan berat dengan nelayan dari luar daerah yang menggunakan alat tangkap modern. Kondisi ini membuat hasil tangkapan masyarakat lokal jauh tertinggal meskipun potensi laut di wilayah tersebut masih melimpah.

Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, mengungkapkan bahwa mayoritas nelayan di desanya masih menggunakan alat tangkap tradisional seperti jaring sederhana. Sementara itu, nelayan dari Bontang dan Loktuan sudah menggunakan teknologi canggih seperti trawl, pukat harimau, dan bagang perahu yang dapat berpindah-pindah.

“Alhamdulillah kalau di Sangkima hasil tangkapannya masih melimpah. Tinggal kelemahan kita itu dikalah sama tangkapan dari luar. Rata-rata yang memiliki alat tangkap canggih itu dari Bontang dan Loktuan,” jelas Alwi, Senin (17/11/2025).

Ia menambahkan bahwa hasil tangkapan nelayan luar daerah bahkan dijual di Bontang, bukan di Kutai Timur. Untuk alat tangkap seperti bagang, meskipun harganya sekitar Rp1,5 miliar, penghasilannya bisa mencapai puluhan ton setiap malam.

Di Desa Sangkima, terdapat tiga dusun pesisir dengan komposisi nelayan yang tinggi. Dusun Teluk Lombok dan Dusun Airport memiliki sekitar 95 persen penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, sedangkan Dusun Sungai Tabuan sekitar 40 persen.

Alwi mengaku pernah mengajukan proposal bantuan alat tangkap modern melalui kelompok gabungan (Gapotan) ke Gubernur. Namun, pengajuan tersebut gagal karena perubahan regulasi yang mengharuskan pemisahan kelompok nelayan dan kelompok tani.

“Dulu susunannya ada bagian pertanian dan bagian nelayan dalam satu kelompok tani. Tapi sekarang sudah harus dipisah, jadi akhirnya program kita batal,” ujarnya.

Selama ini, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk nelayan hanya berupa perahu, ketinting, dan jaring yang daya tahannya hanya sekitar satu hingga dua tahun. Alwi berharap ke depan ada bantuan alat tangkap skala besar yang bisa dikelola oleh beberapa kelompok nelayan.

Selain masalah alat tangkap, Alwi juga menyoroti rendahnya SDM nelayan dalam mengelola keuangan. “Kalau dapat hasil beberapa hari mungkin terus enggak bisa menghitung pendapatan dan pengeluaran sehingga sulit untuk mandiri membeli alat tangkap yang lebih canggih,” pungkasnya. (Adv-Kominfo/Q)

Loading