KUTAI TIMUR – Perubahan mindset masyarakat menjadi tantangan besar dalam upaya mempertahankan sektor pertanian di Desa Benua Baru, Kecamatan Muara Bengkal. Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benny, mengungkapkan bahwa orang tua zaman sekarang justru melarang anak-anak mereka menjadi petani.

“Kadang-kadang mindset masyarakat itu ‘Ah, Bapak dulu petani, Nak. Jangan sampai kamu petani karena hasilnya enggak sesuai.’ Itu yang menjadi titik berat bagi kami untuk mengubah mindset orang tua,” ungkap Benny, Senin (17/11/2025).

Menurut Benny, perubahan pola pikir ini terjadi karena pengalaman para orang tua yang merasakan sulitnya menjadi petani padi gunung dengan hasil yang hanya cukup untuk kebutuhan keluarga. Akibatnya, anak-anak tidak lagi disarankan untuk bercocok tanam atau bertani.

Padahal, pemerintah desa telah berupaya keras untuk mengedukasi masyarakat agar tetap mempertahankan tradisi pertanian. Berbagai program telah diluncurkan, termasuk pemberian sarana-prasarana dan pendampingan dari PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan).

“PPL di tempat kami datang hampir setiap hari mengunjungi tempat-tempat warga yang melakukan pertanian untuk mendampingi mereka,” jelas Benny.

Namun, kendala pemasaran hasil pertanian tetap menjadi alasan utama masyarakat enggan bertani. Berbeda dengan daerah seperti SP atau daerah L yang dekat dengan Samarinda dan bisa langsung menjual hasil panen ke pasar-pasar seperti Pasar Segiri, petani di Muara Bengkal kesulitan memasarkan produk karena jarak yang jauh.

“Alasan mereka, kalau tanam banyak nanti kesusahan jual. Sementara dari kami ke Samarinda itu jauh,” ujarnya.

Pemerintah desa telah mencoba berbagai solusi, termasuk memfasilitasi penjualan hasil panen jagung ke Bulog. Sekitar 500 kilogram bibit jagung telah dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam sebagai tumpang sari di antara kebun sawit yang belum produktif.

Untuk mendukung pertanian modern, desa juga telah membeli kultivator agar petani tidak perlu mencangkul manual dalam membuat bedengan. Alat ini dapat digunakan gratis oleh masyarakat, mereka hanya perlu mengisi bahan bakar sendiri.

“Tahun depan kami sudah masukkan dalam APBDes untuk pengadaan pupuk, herbisida, dan segala macam untuk pertanian,” tambah Benny.

Penurunan jumlah petani di Muara Bengkal terjadi sangat drastis seiring dengan meningkatnya perkebunan kelapa sawit. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah desa untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa pertanian bisa menjadi profesi yang menjanjikan dengan dukungan teknologi dan sistem pemasaran yang baik. (Adv-Kominfo/Q)

Loading