KUTAI TIMUR – Tingginya biaya hidup untuk anak sekolah yang harus mengenyam pendidikan di Kota Sangatta menjadi kendala bagi masyarakat Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur. Kondisi ini membuat beberapa anak putus sekolah meski pemerintah sudah menggratiskan biaya pendidikan hingga SMA.

Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, menjelaskan bahwa di desanya tersedia fasilitas pendidikan mulai dari dua PAUD, empat SD, dan satu SMP. Namun untuk jenjang SMA, siswa harus melanjutkan ke Sangatta yang berjarak cukup jauh dengan kondisi jalan yang masih belum ideal.

“Rata-rata kalau yang sudah lulus SMP itu ke Sangatta. Walaupun bunyinya pendidikan gratis sampai SMA, tetapi karena faktor ekonomi, anak-anak harus ngekos di Sangatta. Ini pengaruhnya luar biasa,” ungkap Alwi, Senin (17/11/2025).

Biaya kos di Sangatta ditambah dengan kebutuhan makan dan transportasi sehari-hari menjadi beban berat bagi keluarga yang kurang mampu. Kondisi ini diperparah dengan pengaruh kehidupan kota yang tidak selalu positif bagi anak-anak desa.

“Pengaruh di kota itu luar biasa, orang desa ke kota itu sok gaul. Bahaya, bisa digauli orang kalau salah-salah. Kemudian dia harus nyewa, nyewa itu kemudian ongkos siang malam harus makan di situ. Bagi yang tidak mampu inilah yang membuat anak putus sekolah,” jelasnya.

Alwi berharap pemerintah bisa menyediakan asrama gratis bagi siswa-siswi dari desa yang tidak mampu. Ia mencontohkan adanya asrama di SMA 2 Sangatta yang bisa dijadikan model, namun perlu ada pembiayaan khusus untuk siswa kurang mampu.

“Harapan kita ada asrama yang bisa ditempati. Kalau asramanya itu masing-masing ada di sekolahan untuk siswa yang memang tidak mampu. Jangan sampai mereka berhenti gara-gara ketidakmampuan. Ini tanggung jawab negara untuk hadir,” tegasnya.

Setiap tahun, selalu ada siswa dari Sangkima yang berhenti sekolah karena faktor ekonomi. Padahal, mereka sudah mendapat beasiswa dari program PKH (Program Keluarga Harapan) dan bantuan pendidikan lainnya, namun tetap tidak mencukupi untuk biaya hidup di kota.

Sebagai solusi alternatif, Alwi juga berharap ada program bus antar-jemput khusus untuk siswa. Ia telah mendengar informasi bahwa program tersebut sedang dikaji oleh Dinas Perhubungan dan Bappeda untuk implementasi di tahun 2026, fokusnya di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

“Kalau memang ada bus antar-jemput, itu akan sangat membantu. Anak-anak bisa dijemput pagi dan diantar pulang sore hari. Ini akan mengurangi beban ekonomi keluarga dan tingkat putus sekolah,” harapnya.

Alwi juga mengharapkan perusahaan seperti PT Pertamina bisa terlibat dalam program CSR bidang pendidikan, baik dalam bentuk beasiswa maupun fasilitas transportasi seperti yang dilakukan oleh perusahaan tambang lainnya. (Adv-Kominfo/Q)

Loading